RADAR SURABAYA – Nelayan di kawasan Nambangan mendesak butuh galangan kapal. Hingga kini, wilayah tersebut belum memiliki fasilitas khusus untuk menggalang atau memperbaiki perahu nelayan.
Kondisi itu menghambat perawatan armada yang menjadi penopang utama mata pencaharian.
Ketua Komite Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Surabaya Achmad Syukron mengatakan, ketiadaan galangan membuat nelayan sulit rutin merawat kapal.
Perahu nelayan idealnya dirawat minimal dua minggu sekali agar kondisi stabil laik laut.
Nelayan sejauh ini hanya memanfaatkan tepian pantai untuk merawat perahu. Menurut Syukron, perawatan perahu di tepi pantai tidak maksimal. Sebab, waktu perawatan sangat bergantung pasang surut air laut.
Proses perbaikan terpaksa dihentikan ketika air pasang datang lebih cepat.
”Kalau tidak ada lahan khusus, perahu ya tetap ditaruh di tepi-tepi pantai paling maksimal empat jam saja, keburu datang air pasang,” ujar Syukron.
Cegah Paparan Ombak Besar
Menurutnya, galangan kapal akan memberikan banyak manfaat bagi nelayan. Yakni, merawat perahu yang rusak berat, terutama perahu tua yang kerap bocor.
Galangan juga sangat membantu jika ada perawatan yang membutuhkan durasi lama. Misal, perahu rusak parah bisa parkir di galangan hingga satu bulan.
Selain itu, galangan juga dibutuhkan saat musim cuaca ekstrem. Perahu yang berusia puluhan tahun sangat rentan rusak bila terus dibiarkan terpapar ombak besar.
”Kalau tetap di tambatan perahu, kena hantaman ombak lama-lama hancur juga,” tutur dia
Usulan Tak Terealisasi
Syukron mengungkapkan, usulan pembangunan galangan kapal sebenarnya pernah disampaikan. Pemkot bersama perwakilan nelayan bahkan sempat mengukur lokasi.
Rencana awal galangan berada di sebelah utara sekretariat KNTI Surabaya. Namun, belum ada realisasi lanjutan.
Sementara itu, nelayan Nambangan Abdul Jamil mengatakan, sebagian nelayan terpaksa menaikkan perahu ke depan rumah atau gang untuk diperbaiki. Kondisi itu kerap mengganggu warga. Tapi, hal itu tetap dilakukan karena tidak ada alternatif tempat.
”Ya nggak ada yang protes juga karena semuanya juga pernah mengalami,” ujarnya. (dho/kkn/vga)
Editor : Vega Dwi Arista