RADAR SURABAYA YANI - Suasana meriah mewarnai acara screening dan meet and greet film Sosok Ketiga Lintrik di Bioskop Royal Plaza Surabaya, Rabu 6/11) malam.
Acara tersebut dihadiri dua pemeran utamanya, Aulia Sarah dan Saputra Kori, yang disambut antusias para penggemar film horor tanah air.
Film berdurasi 117 menit ini diproduseri oleh Luna Maya dan disutradarai oleh Fajar Nugros.
Mengusung tema horor mistis bernuansa lokal, film ini menceritakan kehidupan pasangan suami istri yang mengalami berbagai keanehan setelah menikah.
Di balik misteri rumah tangga itu, sang istri akhirnya mengetahui bahwa suaminya berselingkuh dan sang selingkuhan ternyata menggunakan ilmu lintrik.
Aktris Aulia Sarah mengungkapkan sejumlah pengalaman tak terlupakan selama proses syuting, termasuk kejadian mistis yang dialami kru film.
“Banyak kejadian aneh saat syuting. Pernah ada penampakan, tapi bukan aku, ya. Katanya sih, orang lain yang lihat,” ujarnya.
Aulia menambahkan, ada adegan dimana dirinya harus membaca mantra berbahasa Jawa.
“Katanya itu mantra asli. Saat adegan itu, suasananya terasa sangat nyata. Rasanya seperti beneran ngelintrik orang,” ungkapnya.
Meski begitu, proses syuting berjalan lancar. Ia juga mengaku tantangan terbesar dalam film ini adalah berperan sebagai manusia, bukan hantu seperti dalam film horor sebelumnya.
“Ini film horor pertamaku sebagai manusia. Jadi harus lebih mendalami karakter dan mencari referensi. Waktu syuting juga sempat kurang fit di beberapa adegan, suaraku jadi agak berbeda,” katanya.
Menurut Aulia, film Sosok Ketiga Lintrik tak hanya menyuguhkan ketegangan, tapi juga memiliki banyak sisi emosional.
“Film ini beda dari horor lainnya. Ada unsur drama, cinta, keluarga, dan komedi. Jadi penonton bisa tegang sekaligus terhibur,” tuturnya.
Sementara itu, aktor Saputra Kori yang asli Bali, mengaku perannya kali ini cukup menantang.
“Aku berperan sebagai orang Jawa, full dengan logat dan gesturenya. Jadi aku digembleng selama sebulan biar bisa terlihat natural,” katanya.
Ia juga bercerita tentang insiden saat proses syuting. “Yang paling berat waktu jatuh dari sling. Tapi semua terbayar dengan antusiasme penonton yang luar biasa. Di Surabaya ini, sambutannya di luar ekspektasi,” ujarnya.
Salah satu penonton yang hadir menilai film ini memberikan pengalaman baru dalam genre horor Indonesia.
“Filmnya banyak jump scare, tapi tetap fresh karena diselipin komedi juga. Selain itu, dari segi budaya juga kental banget, ada musik, tarian, dan bahasa daerah,” ungkapnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa