RADAR SURABAYA - Di tengah upaya menghidupkan kurikulum yang kontekstual, karakter dan berbudaya, sekolah di Surabaya menciptakan inovasi dengan menghadirkan pojok cerita dan dolanan.
Yaitu sebuah ruang yang memadukan literasi dan pelestarian permainan tradisional di tengah gempuran teknologi dan permainan online saat ini.
Inisiatif ini diwujudkan melalui program Kamis Cerita dan Dolanan untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa hal ini yang dilakukan oleh SDN Menur Pumpungan IV Surabaya.
Kepala SDN Menur Pumpungan IV Surabaya, Eka Yusi Ferawati, menjelaskan, program ini bertujuan untuk mengintegrasikan kegiatan literasi dan pelestarian budaya dalam keseharian siswa di sekolah.
Kamis Cerita dan Dolanan diintegrasikan untuk melestarikan budaya dalam kebiasaan siswa di sekolah.
Melalui Kamis Cerita, murid diajak mendengarkan atau membawakan cerita yang mengandung nilai moral, karakter, dan inspirasi positif.
"Kamis Cerita ini bertujuan menumbuhkan minat baca, kemampuan berbicara, serta menanamkan nilai-nilai budi pekerti melalui kegiatan literasi yang menyenangkan," ujar Eka, Senin (3/11).
Setiap Kamis, para siswa bermain selama sekitar 30 menit sebelum jam pelajaran dimulai.
Pada jam istirahat, mereka juga bermain permainan tradisional sekitar 15 menit.
Mereka diperkenankan membawa permainan tradisional dari rumah. Beberapa permainan yang digemari siswa adalah egrang dan bakiak.
Selain itu, ada Kamis Dolanan yang diisi dengan edukasi dan bermain berbagai permainan tradisional seperti engkle, egrang, lompat tali, dam-daman, catur Jawa, bakiak, dan permainan khas daerah lainnya.
Kegiatan ini menumbuhkan semangat kebersamaan, sportivitas, karakter positif, serta membangun keterampilan sosial emosional.
"Kamis Dolanan ini juga menjadi upaya sekolah untuk melestarikan budaya lokal sekaligus menjaga kebugaran murid," tuturnya.
Kedua kegiatan ini dilakukan setiap hari Kamis secara bergantian.
Menariknya, kegiatan ini dilakukan 30 menit sebelum pembelajaran dimulai, sehingga dapat membentuk suasana belajar yang ceria, meningkatkan semangat dan konsentrasi murid, serta memperkuat karakter positif melalui aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.
Dari dua kegiatan ini, sekolah menyiapkan satu ruangan khusus untuk menjadi tempat menaruh buku dan dolanan tradisional, yang dinamai Pojok Cerita dan Dolanan.
Meskipun berjudul Kamis Cerita dan Dolanan, pada kenyataannya buku dan dolanan tradisional dimainkan oleh anak-anak saat istirahat sekolah.
"Jadi kami (sekolah, Red) ingin hadir sebagai tempat yang ramah bagi anak melalui program ini," harapnya.
Dalam program tersebut, sekolah berkolaborasi dengan Kampoeng Dolanan.
Founder Kampoeng Dolanan, Mustofa, mengatakan, kegiatan ini telah dilakukan sejak awal, saat menyambut siswa baru pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Salah satu kegiatan diisi dengan edukasi permainan tradisional bersama Kampoeng Dolanan. Kemudian berlanjut pada aktivitas Pojok Cerita dan Dolanan sebagai wujud nyata keberlangsungan dalam pelestarian budaya, mulai dari pitutur hingga permainan tradisional," kata Mustofa. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa