RADAR SURABAYA - Ratusan keluarga prajurit diajak nonton bareng (nobar) film berjudul Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian di Studio 1 Imax Tunjungan Plaza (TP) 5, Surabaya, Jumat (4/7).
Tak hanya di Surabaya, nonton bareng bersama keluarga prajurit ini di hari yang sama juga dihelat di 32 kota lainnya di seluruh Indonesia.
Muji, salah satu penonton mengaku punya perasaan campur aduk setelah merampungkan film yang diangkat dari kisah nyata yang tertuang dalam buku biografi berjudul Believe: Based on a True Story of Faith, Dream, and Courage itu.
“Semakin bisa memahami perjuangan Bapaknya anak-anak sebagai seorang prajurit,” kata Muji.
Perempuan berhijab itu mengaku sangat antusias ketika diajak nonton film produksi Bahagia Tanpa Drama tersebut.
Apalagi di film tersebut juga ada salah satu artis favoritnya yang ikut main, yaitu Maudy Koesnaedi yang berperan sebagai Iin.
“Sebagai istri prajurit, kita belajar banyak dari film Believe,” sambungnya.
Film ini mengambil latar belakang perjuangan prajurit Indonesia dalam Operasi Seroja tahun 1975 dan 1999.
Meski digadang menjadi film laga perang terbesar tahun 2025, film Believe tidak sekadar menampilkan ketegangan di medan laga, namun menyajikan kisah yang dekat dengan hati tentang keluarga, dan penantian orang yang dicintai.
Screening khusus ini menjadi momen refleksi bersama, terutama bagi keluarga prajurit yang hadir.
Banyak dari keluarga prajurit yang mengikuti nonton bareng meneteskan air mata.
Bukan karena adegan pertempuran, melainkan karena merasa film ini adalah cermin dari kehidupan mereka sendiri: ditinggal oleh sosok ayah, suami, atau anak untuk menjalankan tugas, kadang tanpa kabar, kadang tanpa sempat berpamitan.
“Film ini seperti mewakili perasaan kami sebagai keluarga prajurit, yang susah diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya.
“Kami harus kuat, harus bisa memahami. Film Believe membuat kami merasa dipahami,” imbuh Muji.
Karakter Evi, istri Agus (diperankan Adinda Thomas), mewakili ribuan perempuan yang menjalani kehidupan dengan sabar dan penuh cinta, meski dalam ketidakpastian.
Sosok Iin (Maudy Koesnaedi), ibu mertua Agus, memperlihatkan bagaimana generasi sebelumnya juga menanggung beban yang tak kalah berat, namun tetap tegar dan menjadi penopang keluarga.
“Acara nobar ini adalah bentuk penghargaan kami terhadap keluarga prajurit yang sering kali menjadi pejuang dalam diam. Mereka tak hanya menunggu, tapi mereka merawat semangat, menjaga rumah, dan menjadi benteng harapan para prajurit,” ungkap Celerina Judisari, produser film Believe.
Film Believe akan tayang serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 24 Juli 2025.
Diceritakan, Agus (Ajil Ditto) tumbuh dalam bayang-bayang sang ayah, Sersan Kepala Dedi (Wafda Saifan), seorang prajurit yang bertempur dalam Operasi Seroja tahun 1975.
Meski Dedi telah banyak berkorban, pengabdiannya justru berdampak buruk bagi kehidupan pribadinya.
Kecemasan dan ketidakpastian membuat Ibu Agus (Yoriko Angeline) pergi, meninggalkan jejak kesepian dan amarah di hati Agus kecil.
Tahun demi tahun berlalu, Agus memasuki masa remaja di era 1984, Agus menjadi pemuda yang kerap terlibat perkelahian.
Agus muda kehilangan arah, terjebak dalam bayang masa lalu.
Hingga suatu hari, kematian sang ayah justru menyingkap kisah-kisah keberanian dan pengorbanan ayahnya di medan perang, Agus mulai mengenal sosok ayahnya dengan cara yang berbeda.
Agus justru terinspirasi oleh keberanian dan pengorbanan yang selama ini tak ia pahami.
Agus pun mengambil keputusan besar menjadi seorang prajurit.
Namun jalan menuju medan perang tak semudah yang dibayangkannya.
Dengan tekad penuh, Agus menghadapi penolakan, kegagalan, dan rasa takut akan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya.
Di tengah gejolak konflik, takdir mempertemukannya dengan Miro (Marthino Lio), pemimpin separatis yang dahulu menjadi musuh ayahnya.
Kini, di tengah kobaran perang dan dilema pribadi, Agus harus bergulat dengan identitasnya sebagai prajurit.
Pengorbanan keluarga yang ia tinggalkan, serta tanggung jawab besar melindungi anak buahnya dan warga sipil yang tak bersalah.
Perlahan, dibalik dentuman peluru dan kabut pertempuran, Agus mulai memahami arti keberanian dan jejak pengorbanan sang ayah yang selama ini tak pernah diceritakan padanya.
Namun di medan perang, tak semua pertarungan bisa dimenangkan dengan senjata. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa