Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inovasi Kampung Jadi Kunci Cegah Perkawinan Anak dan Stunting Antarkan Surabaya Sabet Dua Penghargaan di Harganas 2025

Dimas Mahendra • Selasa, 1 Juli 2025 | 23:29 WIB

 

INOVATIF: Penyerahan Penghargaan dari Pemprov Jawa Timur oleh Asisten I Sekdaprov Jatim, Benny Sampirwanto (dua dari kiri).
INOVATIF: Penyerahan Penghargaan dari Pemprov Jawa Timur oleh Asisten I Sekdaprov Jatim, Benny Sampirwanto (dua dari kiri).

RADAR SURABAYA – Kota Surabaya kembali menunjukkan kepemimpinan dalam isu perlindungan keluarga dan anak. Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 tingkat Jawa Timur, Surabaya sukses menyabet dua penghargaan sekaligus berkat inovasi berbasis kampung dan pendekatan kolaboratif lintas sektor.

Surabaya dinobatkan sebagai Juara 1 Penilaian Kinerja Pencegahan dan Penanganan Perkawinan Anak (PPA) serta Terbaik 1 dalam Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS) untuk kategori kabupaten/kota se-Jatim.

Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kota Surabaya, Rachmad Basari menegaskan, keberhasilan ini tak lepas dari komitmen Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang terus mendorong pendekatan berbasis kampung dan layanan langsung ke warga.

“Pencegahan perkawinan anak dan penurunan stunting itu tidak bisa diselesaikan sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi antar instansi mulai dinas teknis, kelurahan, kecamatan, hingga masyarakat,” ujar Rachmad.

Salah satu inovasi andalan Surabaya adalah kehadiran Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) yang tersebar di 532 Balai RW.

Layanan ini menjadi ruang aman bagi warga, terutama anak dan remaja, untuk berkonsultasi dan menyampaikan masalah keluarga secara terbuka.

“Ini satu-satunya di Indonesia. Di Balai RW warga bisa curhat dan konseling dengan pendamping. Jadi pendekatan kita sangat dekat dengan akar persoalan,” jelasnya.

Dalam penanganan stunting, Pemkot mengandalkan kekuatan kolaborasi dari bawah. Kader Surabaya Hebat (KSH) dilibatkan sebagai pendamping ibu hamil dan balita, sementara sektor swasta diajak aktif lewat program CSR.

“Pemkot Surabaya tidak berhenti berinovasi dalam hal pencegahan perkawinan dini dan penurunan angka stunting. Kunci utamanya adalah menyentuh langsung warga lewat kampung,” tegas Rachmad.

Di sisi lain, ia juga menyoroti tantangan baru yang kini jadi perhatian. Hal itu adalah tingginya angka perceraian di Jawa Timur.

Surabaya disebut siap menghadapinya dengan memperkuat ketahanan keluarga melalui program edukasi dan pendampingan.

Pemkot pun berkomitmen memperluas peran masyarakat dalam pencegahan perkawinan anak dan penguatan keluarga, sejalan dengan visi Wali Kota Eri Cahyadi mewujudkan Kampung Pancasila sebagai ekosistem hidup yang mengedepankan gotong royong, nilai moral, dan edukasi keluarga.

“Jadi tidak hanya pemerintah saja yang bergerak, kita kolaborasi dengan masyarakat untuk mewujudkan Kampung Pancasila,” pungkas Rachmad. (dim/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Harganas 2025 #surabaya #perkawinan anak #kampung #perlindungan anak #pemkot surabaya #stunting