RADAR SURABAYA - Fenomena mendukung kotak kosong dalam Pilwali Surabaya 2024 mulai bermunculan.
Fenomena ini muncul sebagai bentuk kritik pada partai politik yang dinilai gagal menghadirkan kader potensial untuk kontestasi lima tahunan itu.
Fenomena ini bermunculan mulai dari dunia maya hingga menjangkiti sejumlah kelompok.
Baca Juga: Pemasangan Tiang Pancang Terowongan Joyoboyo Molor, Ini Biang Keroknya yang Jadi Alasan Dishub
Sebutlah seperti di hari Minggu (1/9) kemarin, sejumlah relawan beramai-ramai mendatangi kantor KPU Surabaya di Jalan Adityawarman untuk menyampaikan aspirasi mendukung kotak kosong di Pilwali Surabaya pada 27 November mendatang.
Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam mengatakan bahwa hal itu merupakan sebuah kewajaran.
Fenomena itu, menurut dia, merupakan bentuk kekecewaan warga Kota Pahlawan atas geliat pencalonan yang terjadi saat ini.
"Kalau saya menduganya karena bentuk protes ke partai politik yang tidak mengajukan paslon lain sehingga muncul fenomena paslon tunggal," kata Surokim.
Dia mengungkapkan, Surabaya merupakan kota besar dengan jumlah penduduk lebih dari tiga juta orang.
Edukasi mengenai politik, pemerintahan dan kontestasi bukanlah hal baru bagi warga perkotaan. Sehingga wajar jika ada yang menyampaikan aspirasinya atas bentuk ketidakpuasan mereka melihat dinamika politik hari ini.
"Kalau untuk perolehan (suara) kotak kosong, prediksi saya masih di bawah 7 persen. Soalnya gak terlalu signifikan gerakan politik saat ini," ucap alumnus FISIP Unair ini.
Sebutlah semisal, dia mencontohkan, saat ini tidak ada upaya untuk menghadang petahana melawan kotak kosong dari para partai politik.
Baca Juga: VIRAL! Siswi SD di Bekasi Dipaksa Temannya Makan Roti Isi Tusuk Gigi Hingga Nyangkut di Tenggorokan
Mereka semua, menurut dia, bahkan tumplek blek mendukung petahana dan cenderung tidak ada gairah untuk memunculkan lawan politik.
"Kalau petahana juga tidak ada upaya untuk menghadang munculnya calon yang mana kalau kita ambil contoh di pilkada Makassar bisa menang. Beberapa syarat agar kotak kosong bisa menang ini tidak terpenuhi. Sehingga saya lebih banyak melihat gerakan ini sebagai kekecewaan pada partai politik saja," ujarnya.
Menurut Surokim, eloknya di pilkada ada persaingan paslon. Mereka bisa beradu gagasan dalam sebuah debat politik mengenai bagaimana memimpin kota sebesar Surabaya.
"Jadi ini tidak elok dan tidak sehat bagi demokrasi elektoral kota," tukasnya.
Namun demikian, dia menyampaikan bahwa mau bagaimanapun fakta politik ini harus diterima.
"Kenapa parpol ini hanya sekadar jadi cheerleaders kader partai lain untuk maju. Jadi menurut pendapat saya, itu hanya pragmatis untuk bisa mendapatkan sharing kekuasaan, sebagai zona nyaman. Padahal menjadi oposisi jika kalah pun tidak kalah terhormatnya. Kalau lawan bumbung kosong ini kan hanya sekadar prosedural formalitas saja, pilkada Surabaya sudah selesai. Aspirasi ini harus jadi refleksi bagi semuanya," ungkapnya. (dim/jay)
Editor : Jay Wijayanto