Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ritual Sembahyangan di Kelenteng Hong San Koo Tee Surabaya, Rebutan Mengirim Barang kepada Leluhur Agar Selamat

Rahmat Sudrajat • Senin, 19 Agustus 2024 | 06:02 WIB
UNTUK LELUHUR: Umat Tri Dharma membakar sejumlah barang-barang berharga seperti pakaian uang mainan, untuk dikirimkan kepada para leluhurnya dalam upacara Chit Yek Pan, di klenteng Hong San Koo Tee .
UNTUK LELUHUR: Umat Tri Dharma membakar sejumlah barang-barang berharga seperti pakaian uang mainan, untuk dikirimkan kepada para leluhurnya dalam upacara Chit Yek Pan, di klenteng Hong San Koo Tee .

RADAR SURABAYA - Ratusan umat Tri Dharma di Kelenteng Hong San Koo Tee, di Kawasan HOS Cokroaminoto, Tegalsari, Surabaya, Minggu (18/8) melakukan ritual Chit Yek Pan atau sembahyang rebutan.

Mereka memberikan berbagai barang kepada leluhur yang sudah tiada dengan kepercayaan akan memberi keselamatan.

Persembahan bagi leluhur diberikan keluarga dengan disusun rapi di atas kapal naga.

Setelah melakukan persembahyangan dan doa bersama, kemudian persembahan tersebut dibakar dengan disaksikan oleh ratusan umat Tri Dharma di depan Kelenteng Hong San Koo Tee.

Menurut Pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee, Erdiana Tejasputra, Chit Yek Pan merupakan tradisi leluhur yang dilakukan setiap bulan 7 Imlek.

Hal ini dipercaya arwah-arwah leluhur maupun keluarga yang sudah tiada turun ke bumi.

"Ritual persembahyangan rebutan ini karena bulan ini pintu bagi orang yang meninggal di nirwana dibuka sehingga waktunya kita sebagai manusia yang masih hidup untuk memberikan atau mengirimkan barang kepada mereka yang telah tiada," kata Erdiana.

Erdiana menjelaskan barang yang telah disusun rapi antara lain buah, kue, teratai, emas, perak serta uang dan pakaian.

Ada tiga meja untuk menaruh persembahan sebelum proses pembakaran yakni persembahan untuk leluhur atau keluarga yang dikenal, kemudian untuk leluhur atau keluarga yang tidak dikenal serta bayi yang mengalami keguguran.

"Barang yang dikirim uang palsu bukan uang beneran, kemudian emas dan perak juga replika serta ada baju yang ditaruh di koper. Dan persembahan lain ada teratai, kue serta buah yang dibakar secara bersamaan," jelasnya.

Bahkan saat pembakaran tiada barang yang tersisa. Pembakaran ini untuk mengirim barang ke nirwana.

"Nanti dibakar sampai habis cara mengirimkan kepada leluhur," imbuhnya.

Sebelum pembakaran barang, ada proses persembayangan bersama doa untuk arwah leluhur.

Setelah selesai proses pembakaran kemudian dilakukan proses pembagian sembako kepada seluruh umat di Kelenteng Hong San Koo Tee.

"Sasarannya ke umat klenteng pembagian sembako setelah proses pembakaran. Acara ini diikuti 265 umat Tri Dharma," ujar Erdiana.

Dengan ritual Chit Yek Pan dia berharap agar selalu diberikan keselamatan baik yang masih hidup maupun juga yang sudah meninggal dunia.

Selain itu sebagai umat juga harus mengingat dengan leluhur.

"Sebagai umat kita harus selalu ingat kepada leluhur kita. Kita juga harus mendoakan keselamatan bagi leluhur serta bagi diri kita," pungkasnya. (rmt/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Umat Tri Darma #Jalan HOS Cokroaminoto #kelenteng #imlek #dibakar #sembahyangan #Chit Yek Pan #teratai #kelenteng hong san ko tee