RADAR SURABAYA - Lima warga Kota Surabaya yang menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut di Tol Solo-Ngawi, merupakan satu keluarga.
Kelimanya menjadi rombongan wisata ke Gunung Kidul Yogyakarta.
Dari lima orang yang meninggal itu, salah satunya adalah Achmad Rofiuzein, 26.
Achmad Rofiuzein merupakan anak dari Abdul Manan yang juga meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Dia juga menjadi pengurus Yayasan SD Darul Falah, Kalilom I Surabaya.
Menurut ibunya, Luluk Maslicha, Achmad merupakan anak terakhir yang sudah lulus dari Universitas Islam Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Mahasiswa jurusan menejemen pendidikan itu akan diwisuda 27 Juli mendatang.
"Iya, mau wisuda lulusan UINSA tanggal 27 Juli besok. Sudah persiapan ada undangannya juga," ungkap Luluk, Sabtu (13/7).
Luluk menirukan ucapan anaknya tersebut bahwa ibunya harus berangkat menghadiri.
"Dia bilang, ‘Bu ada wisuda ada undangannya, tapi cuma satu, ibu harus datang, nanti saya mintakan undangan ke teman, biar bisa datang’," tutur Luluk menirukan pesan putranya.
Luluk mengaku bahwa anak bungsunya tersebut akan melanjutkan kuliah S2.
Achmad semasa hidupnya juga menjadi guru olahraga di SD Darul Falah dan kuliah di Manajemen Pendidikan Fakultas Tarbiyah UINSA.
"Dia (Achmad, Red) juga bilang mau kuliah lagi S2. Sembari kuliah dia ngajar juga di sekolah abahnya (Abdul Manan, Red) dan sekaligus menjabat menjadi memegang keuangan di yayasan," terang Luluk.
Dalam rombongan tersebut juga terdapat anak kelimanya yakni Fahmi Muhammad.
Luluk juga mengatakan bahwa ada komunikasi terakhir dengan Fahmi, Jumat (12/7) pukul 23.00 WIB.
Fahmi hanya mengalami luka-luka saja.
"Ya percakapan terakhir saya sempat SMS Fahmi. Tanya kabar. Saya tanya, ‘Gimana Le perjalanannya. Mobilnya enak Le?’ Cuma dibales, ‘Enggeh (ya) enak’. Karena saya kan gak enak perasaan saya," ungkap Luluk.
Seketika Luluk juga mengenang bersama suaminya yang umrah sebelum puasa tahun lalu.
Atas kejadian tersebut Luluk mengaku belum mengetahui penyebab kecelakaan maut yang menewaskan keluarganya itu.
Dia juga kehilangan kedua cucunya yang tewas dalam rombongan tersebut.
"Kurang paham. Sopirnya gak apa-apa. Tapi kakinya kenapa gitu. Posisinya enggak tahu di sebelah mana," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa