Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bikin Merinding, Perantau di Surabaya Ini Pulang ke Madiun Naik Bus dengan Sopir Pakai Blangkon dan Beskap, Ditemani Perempuan ala Pengantin Jawa

Agung Nugroho • Senin, 6 Mei 2024 | 15:22 WIB
Ilustrasi bus hantu yang melintas pada malam hari.
Ilustrasi bus hantu yang melintas pada malam hari.

RADAR SURABAYA-Cerita misteri ini masih berkaitan seputar transportasi darat, yakni bus jurusan Surabaya-Madiun.

Ihwal cerita, seperti disampaikan sahabat Kumbara Sunyi bernama Hari dari Madiun di sebuah sinyiar di YotuTube, mereka awalnya nekat mencoba peruntungan dengan bekerja di sebuah industri percetakan di Surabaya.

Dua tahun kemudian, sebelum Covid-19, Hari mendapatkan pekerjaan di kawasan Sepanjang, Sidoarjo, dengan gaji lumayan dan fasilitas mess yang menyenangkan.

Ketika virus Covid-19 menyerang, Hari yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara ini pun masih bertahan pada pekerjaanya.

Urusan pekerjaan pun lancar, membuat Hari makin betah meski dia jarang pulang ke Madiun, apalagi perlakuan majikannya kepada seluruh karyawan baik.

Namun saat mulai kerasan tinggal dan bekerja di Kota Pahlawan, tak disangka, Hari mendapatkan kabar dari kakak perempuan yang pertama jika bapaknya dalam kondisi sakit, sehingga sawah dan ternaknya tidak ada yang mengurus.

Mau tak mau, Hari pun harus pulang. Karena dia anak laki-laki satu satunya dan tidak ada lagi yang mengurus orang tua. Sebab dua saudara perempuanya sudah menikah dan tinggal di tempat berbeda.

Hari pun pamit kepada majikan perempuannya. Namun, ia disuruh menungu majikan pria yang kebetulan sedang berada di luar kota.

Dengan sabar, Hari pun menunggu majikan pria hingga sekitar pukul 23.00.

Setelah majikan pria datang, Hari pun pamit dan mendapatkan pesangon secukupnya.

Malam itu, majikan pria berbaik hati untuk mengantar Hari ke terminal Purabaya di Bungurasih Sidoarjo.

Namun, niat tersebut tidak kesampaian karena Hari merasa sungkan dan memilih menunggu bus di jalan utama.

Saat menunggu bus, Hari merasakan ada yang aneh. Suasana jalan utama sangat lengang dan sepi, tidak seperti malam-malam sebelumnya saat dia ngopi di kawasan tersebut.

Tak lama kemudian, muncul bus dengan sorot lampu yang tidak begitu terang dengan jalan yang sangat pelan.

Sampai di depannya, sang kenek langsung menyebut desa tempat tinggal Hari.

Hari kembali merasa aneh, apalagi busnya tidak memiliki nama dan warnanya pun cenderung kusam, dan hening tidak seperti bus malam yang biasanya ada suara musik dangdut atau koplo.

Saat melangkahkan kaki memasuki bus, Hari sempat melihat bahwa sang sopir mengenakan baju khas Jawa.

Mengenakan blangkon, beskap warna hitam, dan bawahan kain batik, dengan wajah pucat.

Di belakang sopir, duduk diam seorang wanita berpakaian ala pengantin perempuan Jawa lengkap dengan untaian melati yang wanginya menusuk hidung.

Di dalam bus, Hari sempat membuka HP, dan waktu menunjukkan pukul 00.15. Ia juga membalas WA dari kakaknya. “Paling 3 jam lagi sampai,” jawabnya.

Usai membalas WA kakaknya, Hari pun tertidur pulas di bangku bis sisi kiri agak ke depan.

Tak lama, Hari dibangunkan kondektur, karena sudah sampai di desa tujuan.

Hari sempat heran karena perasaannya hanya tidur sebentar.

Tetapi dia tidak punya pilihan dan tetap turun, meski kemudian dia tersadar belum membayar karcis bus.

Dalam kebingungan, Hari sempat melihat jam dan waktu menunjukkan pukul 00.25.

Hari sempat menolah ke belakang, dan baru yakin jika dia telah sampai di desanya.

Namun, keanehan kembali terjadi saat Hari melangkahkan kaki menuju ke rumahnya

Desanya seperti berubah cepat beberapa tahun sepeninggalnya merantau ke Surabaya karena kondisinya menjadi sepi.

Usahanya untuk menghubungi saudara atau tetangganya untuk menjemput malam itu tidak ada yang berhasil.

Di tengah keputusasaaan, Hari hanya bertemu dengan enam rumah dan beberapa wanita.

Anehnya, saat Hari bertanya di mana rumah bapaknya, wanita tersebut mengaku tidak ada yang tahu lalu pamit masuk ke rumah yang berdinding bambu.

Hari kemudian memilih meninggalkan tempat itu. Ia lalu bertemu lagi dengan enam rumah yang sama hingga tiga kali terulang.

Karena merasa lelah, Hari memberanikan diri merebahkan badan di balai bambu di depan salah satu rumah tersebut.

Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita memberinya kendi berisi air untuk diminum.

Kesempatan itu digunakan Hari pamit untuk tidur di balai bambu karena sudah merasa sangat lelah.

Setelah tertidur, Hari pun terkejut karena tiba-tiba dibagunkan oleh Wak Umar, seorang sepuh didesanya yang biasa berburu di malam hari di kawasan pemakaman.

Ya, malam itu Hari baru sadar telah tidur di balai bambu di depan bangunan di tengah pemakaman yang biasa digunakan menyimpan keranda jenazah.

Oleh seorang sepuh yang biasa dipanggil Wak Umar itu, Hari pun diajak pulang.

Sampai di rumah baru terkuak, rupanya Hari sudah ditunggu keluarga berhari-hari
yang membuat keluarganya juga khawatir.

Bagaimana tidak, pamit pulang malam Minggu dan diperkirakan sampai Madiun tiga jam kemudian, ternyata Hari muncul di tengah keluarga sudah hari Jumat pagi. (nug/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#cerita misteri #misteri surabaya #bus surabaya madiun