RADAR SURABAYA - Menyongsong Tahun Baru Imlek di tahun naga kayu 2575, umat Tri Dharma melakukan ci suak.
Mereka melarung potongan kuku kaki dan tangan serta rambut.
Seperti yang dilakukan, Minggu (4/2), ratusan potongan kuku dan rambut serta ada benang penanda terbungkus dalam kertas berbentuk penyu.
Umat Tri Dharma beserta rohaniawan Konghucu sekaligus pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya, dengan menggunakan perahu menyebrangi Selat Madura untuk melarung.
Sebelum melakukan ci suak atau melarung balak, rohaniawan Konghucu, Liem Tiong Yang memimpin prosesi ritual untuk memohon izin kepada tuhan atau penguasa lautan, diikuti oleh umat lainnya di atas perahu dengan membawa hio dupa.
Setelah itu dupa tersebut dilempar ke lautan, barulah Liem Tiong Yang melakukan tabur bunga diikuti oleh umat.
Setelah itu prosesi ci suak dilakukan satu persatu bungkus kertas berbentuk penyu itu dilarungkan.
"Ci suak untuk menyongsong tahun baru Imlek di tahun naga kayu tahun 2575 atau Imlek tahun 2024. Tujuannya menyelaraskan antara shio yang tidak harmonis dengan alam. Ini upaya manusia yang berusaha untuk menyelaraskan. Alam tidak bisa dilawan namun dapat disiasati," kata Liem Tiong Yang.
Ci suak dilakukan untuk membuang segala hal-hal negatif di dalam tubuh.
Lebih lanjut ia menjelaskan dengan memotong rambut dan melarungkan diharapkan apa yang ada di pikiran yang ruwet bisa lepas.
"Apa yang dikerjakan selama satu tahun dan ada sesuatu hal yang negatif yang melekat bisa dihilangkan. Sedangkan dengan kuku kaki dan tangan selama melangkah mungkin ada energi yang negatif bisa kita lepaskan sehingga menjadi jiwa yang baru di Tahun Baru Imlek ini," tuturnya.
Pemotongan rambut, kuku kaki dan tangan dilakukan satu hari sebelum upacara sembahyangan mengantar dewa dapur naik.
Tepatnya tanggal 24 bulan 12 Imlek atau tanggal 3 Februari.
Lebih lanjut ia menerangkan bahwa penyu sebagai bungkus rambut dan kuku mempunyai arti sebagai lambang kekuatan, ketahanan dan panjang umur.
"Harapannya kita tahan menghadapi problematika kehidupan, panjang umur kalau punya usaha dan karir panjang," imbuhnya.
Ia berharap memasuki Tahun Baru Imlek di tahun naga kayu semua umat bisa selamat, tidak kekurangan apapun.
"Harapannya semua umat bisa selamat, diberikan kesehatan dilancarkan kesehatan dilancarkan usaha dan rezekinya," harapnya.
Sementara itu dalam prosesi larung ci suak, terdapat umat Tri Dharma yang datang dari Pulau Kalimantan.
Seperti David Hermanto yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur yang mengikuti prosesi larung, karena sebelumnya ia belum pernah mengikuti prosesi larung.
"Sudah pernah ikut ci suak tapi belum pernah ikut larungnya ingin tahu secara prosesinya secara Khonghucu seperti apa. Saya ingin mengikuti tradisi seperti agama yang saya anut," tutur David.
Ia tak sendiri, ditemani oleh ibunya yang juga mengikuti larung.
Menurut pria 36 tahun itu, arti ci suak sebagai tolak balak karena setiap tahun shio berbeda-beda.
Ia sendiri memotong rambut dan kuku tangan serta kaki saat berada di Samarinda.
Setelah itu di hari Kamis, ia terbang ke Surabaya untuk mengikuti sembayangan di Kelenteng Boen Bio.
"Menurut rohaniawan setiap tahun mengeluarkan beberapa shio yang tidak harmonis. Untuk menjaga tahun depan agar tidak kena musibah kesehatan tidak terganggu keselamatan maka perlu dilakukan ritual ci suak," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa