SURABAYA - Berbagai macam jenis dan motif batu mulia nusantara dipamerkan di Pasar Kayoon, Surabaya.
Ada sekitar 1.400 batu nusantara, di antaranya batu gambar anggota tubuh, bunga, animasi orang, animasi hewan selain itu ada bulu hanoman kura, sulaiman puser bumi, kendit batu fosil dari pantai laut Jawa hingga fosil jagung dan sotong.
Tak hanya itu, batu akik yang biasa disebut kebanyakan orang, juga dikonteskan.
Mereka yang mengikuti berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Ada yang berasal dari Pacitan, Bengkulu, Kalimantan hingga Lampung.
Menurut Ketua Pameran Batu Nusantara, Nuriwansyah, pameran ini sudah digelar dua kali di Surabaya.
Sebelumnya tahun lalu pameran sudah digelar, namun tahun ini peminatnya dan batu yang dipamerkan lebih banyak.
"Supaya batu nusantara ini lebih lestari karena banyak motif dan jenis di Indonesia yang perlu dikembangkan," kata Nuriwansyah kepada Radar Surabaya, Minggu (5/11).
Selama ini keberadaan peminat batu akik juga mulai luntur.
Tentu dengan hadirnya kontes batu nusantara diharapkan membangkitkan para perajin, peminat, pedagang serta kolektor.
Untuk kontes batu akik yang diikuti oleh ratusan orang tersebut, Nuriwansyah menjelaskan harus memiliki unsur keindahan, motif dan warna.
Tingkat keunikan batu terlihat dari motif gambar seperti pemandangan hingga binatang.
"Ada kriteria yang dikelompokkan mulai dari keindahan, kejernihan dan warna," terangnya.
Selain itu, kontes batu mulia kali ini memperebutkan Piala Wali Kota Surabaya.
Sementara itu salah satu kolektor batu mulia, Roni mengatakan telah membawa sekitar 40 persen koleksinya untuk diikutkan dalam pameran dan kontes batu nusantara.
Seperti batu fosil dari kayu yang sudah puluhan tahun di dalam tanah dan berbentuk kayu.
Tak hanya itu ia, juga membawa batu fosil hewan.
"Ya harapannya agar perbatuan di Indonesia bisa lebih hidup dan berkembang," ujar Roni.
Roni yang sejak 25 tahun lalu mengoleksi batu nusantara itu memiliki koleksi lebih dari 100 batu dengan berbagai jenis dan motif.
Ia juga kerap juara ketika mengikuti kontes batu. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa