Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pengrajin Tempe di Tenggilis Kauman Surabaya Bertahan dengan Kreasi Produk dan Siasati Bahan Kedelai

Jay Wijayanto • Jumat, 6 Oktober 2023 | 21:06 WIB
Poniman sedang menjemur tempe setelah pencetakan di belakang rumahnya di Tenggilis Kauman Surabaya. (ANGELICA/RADAR SURABAYA)
Poniman sedang menjemur tempe setelah pencetakan di belakang rumahnya di Tenggilis Kauman Surabaya. (ANGELICA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Banyak kampung unik di Surabaya, salah satunya adalah Kampung Tempe. Kampung yang berada di kawasan Tenggilis Kauman ini hampir semua warganya merupakan produsen tempe.

Salah satunya adalah Poniman, 52. Laki-laki paro baya ini mengaku sudah memulai memproduksi tempe sejak tahun 1998. Awalnya, Poniman seorang sopir ekspedisi. Saat pindah ke Tenggilis Kauman, dirinya melihat banyak tetangga memproduksi tempe. Dia pun mengikutinya dan berlanjut hingga sekarang.

Poniman memproduksi tempe setiap hari. Ia libur berproduksi saat weekend. Poniman mengaku sekali produksi bisa menghasilkan 25 kilogram tempe. Semua proses tersebut dia lakukan sendiri dengan bantuan sang isri.

Tempe-tempe tersebut kemudian dijual dengan mengedarkannya ke pelanggan dari kampung ke kampung. Tempe yang sudah selesai diproduksi dibanderol dengan harga Rp10-12 ribu per kotak.

Saat Radar Surabaya mengunjungi kediaman Poniman, kemarin, tampak beberapa peralatan produksi tempe di belakang rumahnya. Antara lain dandang untuk merebus kedelai, papan untuk memisahkan kedelai dengan kulit, alat cetak dan papan untuk menjemur tempe. Untuk memproduksi tempe, Poniman menggunakan kedelai yang dia beli dari toko.

Semakin banyak produsen tempe di kampungnya, Poniman mengaku warga mulai mengkreasi tempe menjadi olahan lain. Mulai keripik tempe, nugget tempe, brownies tempe dan masih banyak lagi.

Para wanita di kampung ini juga membuat makanan seperti bothok tempe jika sedang ada acara di sana. “Produk-produk tadi biasanya ada yang dijual, ada yang tidak. Biasanya ada yang bikin, terus dipamerkan waktu ada acara-acara tertentu saja,” kata dia.

Poniman sendiri selain membuat tempe juga memproduksi susu kedelai. Selain keripik tempe yang juga pernah ditekuninya. "Keripik tempe saya dulu itu ada khasnya. Jadi di dalam tempe saya kasih adonan tepung biar kriuk pas makan. Terus bentuk keripik tempe saya bulat, beda sama yang lain," kenang Poniman.

Tak hanya tempe dan olahannya, Poniman mengaku kini limbah kedelai juga laku dijual. Limbah ini adalah air bekas rebusan kedelai yang dibeli untuk campuran pakan dan air minum sapi.

Selama puluhan tahun memproduksi tempe, Poniman mengaku banyak suka dukanya. Namun yang paling terasa adalah saat kenaikan harga kedelai seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. 

Ketika harga kedelai naik, Poniman dan tetangganya tak pernah menghentikan produksi tempe. Untuk menyiasati, dirinya hanya mengurangi jumlah takaran bahan baku saja saat produksi. "Harga kedelai naik-turun itu sudah biasa. Gak mungkin berhenti produksi tempe gara-gara itu, soalnya ini sudah pekerjaan kami," tandasnya. (mg1/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#produsen tempe #kampung tempe #tenggilis kauman