alexametrics
26 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Surabaya Punya 35 Mal, Tersebar Hingga ke Pinggiran Kota

SURABAYA – Julukan sebagai kota perdagangan bagi Surabaya memang sangat melekat sejak dulu. Pada era Kolonial Belanda, pusat distribusi dagang di Surabaya terletak di Jembatan Merah, Kembang Jepun, dan Tunjungan.
Di kawasan tersebut banyak pasar dan pertokoan. Namun saat era modernisasi, kondisi perdagangan semakin merambah ke pertumbuhan pusat perbelanjaan atau mal yang banyak di Surabaya.
Pertumbuhan mal menjadi salah satu bukti Surabaya mempunyai peluang investasi terbesar di Indonesia. Meski munculnya mal di Surabaya masih tertinggal dari Jakarta sebagai kota metropolitan, di Surabaya baru ada mal di tahun 1985.
Keberadaan mal di Surabaya saat ini tidak hanya terpusat di jantung kota, melainkan di pinggiran Surabaya saat ini juga menjamur mal dengan gedungnya yang menjulang tinggi.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, saat ini ada 35 mal yang tersebar di seluruh Surabaya. “Sudah banyak mal sampai di Surabaya yang bagian barat ini karena kota Surabaya merupakan kota perdagangan dan diminati investor,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini juga tidak menutup kemungkinan mal akan kembali dibuka. Karena kegiatan ekonomi mulai pulih. “Ada yang masih akan buka. Jadi nggak menutup kemungkinan mereka akan menanam investasi ke Surabaya dengan pertumbuhan ekonomi saat ini,” jelasnya.
Meski demikian, dalam Perda Nomor 1 Tahun 2010 Bab IV pasal 33 ayat 1 dijelaskan pendirian mal harus izin dulu kepada pemangku kebijakan, yakni Pemkot Surabaya.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Surabaya M Taswin mengatakan, di triwulan ketiga ini investasi yang masuk telah mencapai sekitar Rp 17,4 triliun. Karena itu, melalui Klinik Investasi ini diharapkan target investasi di akhir tahun 2021 bisa tercapai.
“Target kami sudah ada Rp 43 triliun, sekarang kan Rp 17,4 triliun. Tapi karena kondisi pandemi ini, ya kita makanya dengan adanya perubahan Perwali Nomor 41 Tahun 2021, percepatan perizinan dengan sistem, paling tidak segera menarik investor ke Surabaya,” katanya. (rmt/nur)

SURABAYA – Julukan sebagai kota perdagangan bagi Surabaya memang sangat melekat sejak dulu. Pada era Kolonial Belanda, pusat distribusi dagang di Surabaya terletak di Jembatan Merah, Kembang Jepun, dan Tunjungan.
Di kawasan tersebut banyak pasar dan pertokoan. Namun saat era modernisasi, kondisi perdagangan semakin merambah ke pertumbuhan pusat perbelanjaan atau mal yang banyak di Surabaya.
Pertumbuhan mal menjadi salah satu bukti Surabaya mempunyai peluang investasi terbesar di Indonesia. Meski munculnya mal di Surabaya masih tertinggal dari Jakarta sebagai kota metropolitan, di Surabaya baru ada mal di tahun 1985.
Keberadaan mal di Surabaya saat ini tidak hanya terpusat di jantung kota, melainkan di pinggiran Surabaya saat ini juga menjamur mal dengan gedungnya yang menjulang tinggi.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, saat ini ada 35 mal yang tersebar di seluruh Surabaya. “Sudah banyak mal sampai di Surabaya yang bagian barat ini karena kota Surabaya merupakan kota perdagangan dan diminati investor,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini juga tidak menutup kemungkinan mal akan kembali dibuka. Karena kegiatan ekonomi mulai pulih. “Ada yang masih akan buka. Jadi nggak menutup kemungkinan mereka akan menanam investasi ke Surabaya dengan pertumbuhan ekonomi saat ini,” jelasnya.
Meski demikian, dalam Perda Nomor 1 Tahun 2010 Bab IV pasal 33 ayat 1 dijelaskan pendirian mal harus izin dulu kepada pemangku kebijakan, yakni Pemkot Surabaya.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Surabaya M Taswin mengatakan, di triwulan ketiga ini investasi yang masuk telah mencapai sekitar Rp 17,4 triliun. Karena itu, melalui Klinik Investasi ini diharapkan target investasi di akhir tahun 2021 bisa tercapai.
“Target kami sudah ada Rp 43 triliun, sekarang kan Rp 17,4 triliun. Tapi karena kondisi pandemi ini, ya kita makanya dengan adanya perubahan Perwali Nomor 41 Tahun 2021, percepatan perizinan dengan sistem, paling tidak segera menarik investor ke Surabaya,” katanya. (rmt/nur)


Most Read

Berita Terbaru