alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Oleh : Hendro Puspito, SE, M.PSDM. (*)

Urgensi SDM Keamanan Siber

PANDEMI membawa dampak yang sangat luas dan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat. Perlu waktu yang cukup lama untuk sembuh dari trauma pandemi Covid-19. Pemerintah dengan tegas mengeluarkan kebijakan pembatasan kegiatan dan mobilitas masyarakat dengan tujuan menekan angka penyebaran Corona. Dunia pendidikan dengan sistem pembelajaran dalam jaringan (daring). Sektor pekerjaan memberlakukan sistem bekerja dari rumah (work from home). Sektor pelayanan publik juga menerapkan hal yang sama dalam proses administrasi. Transformasi digital menjadi kunci di saat pandemi. Sehingga terjadi peningkatan penggunaan media digital. Hampir semua sektor mengalami transformasi digital. Pusat perdagangan, pendidikan, kantor pelayanan publik, transportasi dan yang terbaru aplikasi peduli lindungi.

Keamanan Siber yang Lemah

Beralihnya sistem tatap muka menjadi sistem online, serta penggunaan media digital di berbagai sektor, maka kebutuhan internet naik signifikan. Hal tersebut berdampak pada banyaknya serangan cyber yang terjadi pada pengguna internet di Indonesia (BSSN,2020). Keamanan siber di Indonesia yang lemah, sering terjadi kebocoran data. Akhir-akhir ini muncul isu peretasan yang dilakukan penjahat siber. Masyarakat semakin cemas dengan banyaknya isu yang muncul. Penyalahgunaan data oleh penjahat siber, merugikan berbagai pihak. Keamanan data menjadi poin penting yang harus dijaga pemerintah.

Indonesia berada pada peringkat 77 dari 160 negara di dunia soal keamanan siber nasional. Indonesia tercatat memiliki skor 38,96. Angka itu jauh dibawah sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara (NCSI 2021). Insiden kebocoran data telah terjadi di beberapa tahun terakhir, lebih tinggi disaat pandemi. Di marketplace seperti tokopedia juga terjadi kebocoran data yang diretas hacker. Data KPU, BPJS kesehatan dan yang terbaru dari aplikasi Indonesia Health Alert Card (eHAC) terdeteksi terjadi kebocoran data.

Peretasan siber terjadi bukan hanya masyarakat biasa. Presiden Joko Widodo juga mengalaminya. Sertifikat vaksin yang terintegrasi dengan NIK tersebar di dunia maya. Keamanan data Presiden saja bisa di bobol. Apalagi masyarakat biasa, sangat mudah bagi hacker untuk meretasnya. Tahun 2020 lalu tercatat kurang lebih 495 insiden serangan siber, yang bersifat teknis dan sosial. Ada 9.749 kasus peretasan situs dan 90.887 kasusu kebocoran data dari aktivitas malware pencuri informasi di Indonesia (BSSN,2020)

Peningkatan SDM Siber

Seiring meningkatnya insiden serangan siber, beberapa tantangan terkait ancaman siber membutuhkan lebih banyak perhatian untuk menjaga dan mengembangkan keamanan siber yang lebih kuat. Gangguan kecil terhadap kinerja sistem dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan (Kovacevic & Nikolic,2015; Tabansky,2011). Salah satu upaya yang harus dijalankan, dengan menambah jumlah Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan skill (ketrampilan) dalam pengelolaan siber di Indonesia. Perlu waktu yang cukup panjang untuk mengatasi kebutuhan bakat di bidang keamanan siber. Ekosistem SDM keamanan siber harus terbangun dan terintegrasi.

Kemanan siber menjadi tanggung jawab pemangku kebijakan dan masyarakat. SDM sebagai pondasi yang kuat dalam strategi keamanan siber. Para pengguna digital harus mampu memilih dan memilah jalur koneksi yang aman. Guna meminimalisir kejadian yang kurang baik, pengguna perlu menjaga data pribadinya. Supaya mampu melindungi dirinya dari kejahatan digital. Bisa dimulai dengan memastikan pemberian data kepada pihak yang tepat. Selalu periksa perijinan dalam akses pembukaan aplikasi. Baca syarat dan ketentuan aplikasi. Teliti untuk double checking di setiap transaksi.

Rekomendasi

Kebijakan pemerintah dalam mengatur Rancangan Undang-undang (RUU) keamanan dan ketahanan siber agar terjadi keseimbangan kebutuhan setiap instansi terhadap keamanan sibernya masing-masing. Bersinergi dengan pihak swasta dalam hal pengembangan kompetensi SDM siber yang lebih unggul.

Menganalisis lebih lanjut kompetensi SDM agar tidak tumpang tindih dalam implementasinya. Berinvestasi SDM siber dan pendidikan digital bagi para pengguna adalah kunci kesuksesan dalam membangun dan menjaga kemanan siber masyarakat dan ekonomi digital yang tangguh.

(*) Pengusaha/Mahasiswa Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia
Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

PANDEMI membawa dampak yang sangat luas dan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat. Perlu waktu yang cukup lama untuk sembuh dari trauma pandemi Covid-19. Pemerintah dengan tegas mengeluarkan kebijakan pembatasan kegiatan dan mobilitas masyarakat dengan tujuan menekan angka penyebaran Corona. Dunia pendidikan dengan sistem pembelajaran dalam jaringan (daring). Sektor pekerjaan memberlakukan sistem bekerja dari rumah (work from home). Sektor pelayanan publik juga menerapkan hal yang sama dalam proses administrasi. Transformasi digital menjadi kunci di saat pandemi. Sehingga terjadi peningkatan penggunaan media digital. Hampir semua sektor mengalami transformasi digital. Pusat perdagangan, pendidikan, kantor pelayanan publik, transportasi dan yang terbaru aplikasi peduli lindungi.

Keamanan Siber yang Lemah

Beralihnya sistem tatap muka menjadi sistem online, serta penggunaan media digital di berbagai sektor, maka kebutuhan internet naik signifikan. Hal tersebut berdampak pada banyaknya serangan cyber yang terjadi pada pengguna internet di Indonesia (BSSN,2020). Keamanan siber di Indonesia yang lemah, sering terjadi kebocoran data. Akhir-akhir ini muncul isu peretasan yang dilakukan penjahat siber. Masyarakat semakin cemas dengan banyaknya isu yang muncul. Penyalahgunaan data oleh penjahat siber, merugikan berbagai pihak. Keamanan data menjadi poin penting yang harus dijaga pemerintah.

Indonesia berada pada peringkat 77 dari 160 negara di dunia soal keamanan siber nasional. Indonesia tercatat memiliki skor 38,96. Angka itu jauh dibawah sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara (NCSI 2021). Insiden kebocoran data telah terjadi di beberapa tahun terakhir, lebih tinggi disaat pandemi. Di marketplace seperti tokopedia juga terjadi kebocoran data yang diretas hacker. Data KPU, BPJS kesehatan dan yang terbaru dari aplikasi Indonesia Health Alert Card (eHAC) terdeteksi terjadi kebocoran data.

Peretasan siber terjadi bukan hanya masyarakat biasa. Presiden Joko Widodo juga mengalaminya. Sertifikat vaksin yang terintegrasi dengan NIK tersebar di dunia maya. Keamanan data Presiden saja bisa di bobol. Apalagi masyarakat biasa, sangat mudah bagi hacker untuk meretasnya. Tahun 2020 lalu tercatat kurang lebih 495 insiden serangan siber, yang bersifat teknis dan sosial. Ada 9.749 kasus peretasan situs dan 90.887 kasusu kebocoran data dari aktivitas malware pencuri informasi di Indonesia (BSSN,2020)

Peningkatan SDM Siber

Seiring meningkatnya insiden serangan siber, beberapa tantangan terkait ancaman siber membutuhkan lebih banyak perhatian untuk menjaga dan mengembangkan keamanan siber yang lebih kuat. Gangguan kecil terhadap kinerja sistem dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan (Kovacevic & Nikolic,2015; Tabansky,2011). Salah satu upaya yang harus dijalankan, dengan menambah jumlah Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan skill (ketrampilan) dalam pengelolaan siber di Indonesia. Perlu waktu yang cukup panjang untuk mengatasi kebutuhan bakat di bidang keamanan siber. Ekosistem SDM keamanan siber harus terbangun dan terintegrasi.

Kemanan siber menjadi tanggung jawab pemangku kebijakan dan masyarakat. SDM sebagai pondasi yang kuat dalam strategi keamanan siber. Para pengguna digital harus mampu memilih dan memilah jalur koneksi yang aman. Guna meminimalisir kejadian yang kurang baik, pengguna perlu menjaga data pribadinya. Supaya mampu melindungi dirinya dari kejahatan digital. Bisa dimulai dengan memastikan pemberian data kepada pihak yang tepat. Selalu periksa perijinan dalam akses pembukaan aplikasi. Baca syarat dan ketentuan aplikasi. Teliti untuk double checking di setiap transaksi.

Rekomendasi

Kebijakan pemerintah dalam mengatur Rancangan Undang-undang (RUU) keamanan dan ketahanan siber agar terjadi keseimbangan kebutuhan setiap instansi terhadap keamanan sibernya masing-masing. Bersinergi dengan pihak swasta dalam hal pengembangan kompetensi SDM siber yang lebih unggul.

Menganalisis lebih lanjut kompetensi SDM agar tidak tumpang tindih dalam implementasinya. Berinvestasi SDM siber dan pendidikan digital bagi para pengguna adalah kunci kesuksesan dalam membangun dan menjaga kemanan siber masyarakat dan ekonomi digital yang tangguh.

(*) Pengusaha/Mahasiswa Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia
Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Most Read

Berita Terbaru


/