alexametrics
25 C
Surabaya
Thursday, January 27, 2022
spot_img

Percepat Pemulihan Ekonomi, Cak Eri Dorong Usaha Kuliner

spot_img

SURABAYA – Pemkot Surabaya terus berupaya melakukan pemulihan ekonomi yang sempat macet gara-gara pandemi berkepanjangan. Aktivitas ekonomi di Surabaya sudah mulai diaktifkan. Mal-mal, restoran, hingga sentra wisata kuliner (SWK) pun kian menggeliat.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan, pihaknya akan mendorong sektor usaha kuliner atau makanan setelah limbung sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat ini PKL yang menjual kuliner sudah diberikan keleluasaan untuk buka hingga pukul 24.00.

Eri pun memerintahkan petugas untuk terus mengingatkan masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan (prokes). Namun, ia meminta para petugas mengutamakan pendekatan yang humanis. “Satpol, Linmas, dan OPD saya bagi untuk keliling ke sentra UMKM. Tidak untuk ngobrak, tapi memberi ilmu bagaimana bermasker. Kalau makan jaga jarak. Itu hadirnya pemerintah di sana. Kami kasih solusi,” ujar Cak Eri kemarin (27/9).

Intervensi pemkot saat ini pun sangat penting. Salah satu bentuk bantuan adalah pelatihan pedagang agar ekonomi bisa bergerak. Menurut Eri, dalam upaya memberdayakan UMKM, pemkot juga telah meluncurkan aplikasi E-Peken (Pemberdayaan dan Ketahanan Ekonomi Nang Suroboyo). Aplikasi itu berguna untuk mempermudah transaksi antara pembeli, pedagang kelontong, koperasi, dan UMKM yang ada di Surabaya.

Salah satu pedagang kuliner di kawasan Kampung Kue, Rungkut, Choirul Mahpuduah mengatakan, saat ini kondisi ekonomi sudah mulai bangkit. Namun, ia berharap Pemkot Surabaya bisa memberikan perhatian kepada pelaku UMKM. “Ya, harapan kami bisa difasilitasi dalam mengembangkan pemasaran kue-kue,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti berharap ke depan UMKM atau pedagang kuliner di Surabaya bisa naik kelas. Ini karena banyak UMKM yang punya potensi untuk maju. Karena itu, Pemkot Surabaya harus hadir memfasilitasi UMKM dengan dukungan teknologi untuk pemasaran.

Reni menyebutkan, dari total 25 ribu UMKM di Kota Surabaya yang baru mendapatkan pendampingan dari pemkot baru 10 ribu UMKM. “Sisanya belum. Masih banyak yang mandiri atau didampingi komunitas kecil lain. Karena tidak sedikit pelaku UMKM yang belum mahir,” pungkasnya. (rmt/rek)

SURABAYA – Pemkot Surabaya terus berupaya melakukan pemulihan ekonomi yang sempat macet gara-gara pandemi berkepanjangan. Aktivitas ekonomi di Surabaya sudah mulai diaktifkan. Mal-mal, restoran, hingga sentra wisata kuliner (SWK) pun kian menggeliat.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan, pihaknya akan mendorong sektor usaha kuliner atau makanan setelah limbung sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat ini PKL yang menjual kuliner sudah diberikan keleluasaan untuk buka hingga pukul 24.00.

Eri pun memerintahkan petugas untuk terus mengingatkan masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan (prokes). Namun, ia meminta para petugas mengutamakan pendekatan yang humanis. “Satpol, Linmas, dan OPD saya bagi untuk keliling ke sentra UMKM. Tidak untuk ngobrak, tapi memberi ilmu bagaimana bermasker. Kalau makan jaga jarak. Itu hadirnya pemerintah di sana. Kami kasih solusi,” ujar Cak Eri kemarin (27/9).

Intervensi pemkot saat ini pun sangat penting. Salah satu bentuk bantuan adalah pelatihan pedagang agar ekonomi bisa bergerak. Menurut Eri, dalam upaya memberdayakan UMKM, pemkot juga telah meluncurkan aplikasi E-Peken (Pemberdayaan dan Ketahanan Ekonomi Nang Suroboyo). Aplikasi itu berguna untuk mempermudah transaksi antara pembeli, pedagang kelontong, koperasi, dan UMKM yang ada di Surabaya.

Salah satu pedagang kuliner di kawasan Kampung Kue, Rungkut, Choirul Mahpuduah mengatakan, saat ini kondisi ekonomi sudah mulai bangkit. Namun, ia berharap Pemkot Surabaya bisa memberikan perhatian kepada pelaku UMKM. “Ya, harapan kami bisa difasilitasi dalam mengembangkan pemasaran kue-kue,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti berharap ke depan UMKM atau pedagang kuliner di Surabaya bisa naik kelas. Ini karena banyak UMKM yang punya potensi untuk maju. Karena itu, Pemkot Surabaya harus hadir memfasilitasi UMKM dengan dukungan teknologi untuk pemasaran.

Reni menyebutkan, dari total 25 ribu UMKM di Kota Surabaya yang baru mendapatkan pendampingan dari pemkot baru 10 ribu UMKM. “Sisanya belum. Masih banyak yang mandiri atau didampingi komunitas kecil lain. Karena tidak sedikit pelaku UMKM yang belum mahir,” pungkasnya. (rmt/rek)

Most Read

Berita Terbaru