28 C
Surabaya
Thursday, June 8, 2023

Ada Faktor Kelalaian, Pakar Hukum UI Nilai Gugatan Korban Kurang Tepat

JAKARTA – Pakar hukum ekonomi Universitas Indonesia, Arman Nefi, menyarankan niat korban pembobolan rekening BCA atas nama Muin Zachry untuk menggugat pihak bank alangkah baiknya dibatalkan.

Sebab, ia menilai rencana korban kasus pencurian identitas rekening BCA ini tidak tepat. Arman menyarankan korban lebih baik fokus untuk mengejar tindak kejahatan pelaku, dalam hal ini pencurian data nasabah bank untuk kepentingan pribadi.

Apalagi, fakta di persidangan terungkap bahwa faktor kelalaian korban lah yang dimanfaatkan pelaku dan menjadi penyebab terjadinya kasus ini yang merugikan korban sebesar Rp 320 juta.

“Pelaku memiliki niat jahat sejak awal untuk mengambil uang di rekening korban. Semua pihak perlu mengikuti proses persidangan yang masih berjalan hingga selesai, apakah ada unsur kelalaian korban sehingga data-data rahasia perbankan korban bisa diketahui oleh pelaku,” kata Arman Nefi di Jakarta, Kamis (26/1).

Sebelumnya, Muin Zachry selaku korban melalui kuasa hukumnya berencana melaporkan BCA secara pidana dan perdata. Alasannya, pihak bank dianggap lalai karena mencairkan uang di rekening korban yang dibobol oleh pelaku. “Kasusnya didalami dulu agar jelas duduk perkaranya, siapa berbuat apa dan bertanggung jawab atas apa?” saran Arman.

Sidang pemeriksaan kasus ini pada Selasa (24/1) lalu menghadirkan terdakwa Mohammad Thoha alias Thoha. Thoha menjadi terdakwa atas laporan hukum dari korban Muin Zachry.

Peristiwa bermula saat Thoha menjadi penghuni dari tempat kos milik sang korban, Muin.
Niat jahat Thoha muncul ketika Muin menyampaikan secara langsung bahwa dirinya memiliki uang ratusan juta di rekening BCA dari hasil menjual rumah. Bahkan, ia juga menyebut dirinya sempat diajak korban untuk berbisnis bersama.

Baca Juga :  Momen Couple Riding Saat Sunrise Jadi Semakin Epik

Timbul niat jahat Thoha untuk menguasai uang di rekening korban. Thoha pun mencari seseorang dengan sosok yang menyerupai Muin. Setelah melewati proses pencarian, pilihan sosok yang ia cari jatuh kepada Setu, 64, seorang tukang becak yang tidak dia kenal sebelumnya.

Merasa perawakannya sangat mirip dengan korban, Thoha melatih Setu agar mengikuti rencananya untuk mencairkan uang Muin di kantor cabang BCA di Surabaya. Akal bulus Thoha berlanjut pada 5 Agustus 2022 dengan mencuri KTP, buku tabungan, dan kartu ATM dari rumah Muin yang ditinggalkan tak terkunci saat korban pergi salat Jumat.

Kedekatan Thoha dan Muin membuat pelaku tampaknya sudah memahami waktu kepergian dan lokasi penyimpanan dokumen-dokumen rahasia milik korban. Pada hari yang sama, Thoha menghubungi Setu untuk berangkat ke kantor cabang BCA untuk menguras uang Muin sebesar Rp320 juta.

Rencana ini berjalan mulus. Setu pun melenggang dari kantor BCA sambil menenteng uang tunai Rp320 juta dalam dua kantung plastik. Uang itu segera diserahkannya ke Thoha sang master mind.

Atas jerih payahnya, Thoha memberi Setu uang tunai Rp5 juta. Namun demikian, ia masih tega mengambil ponsel jadul Setu dengan alasan sebagai jaminan. Lantas, Thoha kabur menggunakan bus kota meninggalkan Setu yang masih kebingungan.

Baca Juga :  Komunitas MC Wani Suroboyo Gelar Buka Puasa Bersama 100 Anak Panti Asuhan

Pihak BCA sendiri sudah menjelaskan bahwa tindakan teller mereka sudah sesuai prosedur. Adapun prosedur dalam mencairkan uang tunai di teller adalah dengan membawa kartu identitas SIM/KTP, buku tabungan BCA, nomor PIN, mengisi formulir dengan tanda tangan asli, serta nasabah tak boleh diwakili siapa pun. Rencana licik Thoha berhasil memenuhi persyaratan itu semua lewat tangan Setu yang sudah dilatihnya, termasuk memalsukan tanda tangan Muin.

Terkait pengakuan Thoha di persidangan, Arman menilai unsur kelalaian dari korban semakin tinggi. Kendati demikian, Arman menilai semua pihak harus menahan diri hingga perkara ini selesai terlebih dahulu sehingga siapa saja yang bertanggung jawab bisa terlihat jelas. Ia pun berpesan supaya masyarakat lebih berfokus pada upaya-upaya untuk menjaga kerahasiaan data perbankan.

“Diharapkan putusan hakim memerintahkan pelaku untuk mengembalikan uang korban yang ‘dicuri’ tanpa menghilangkan perbuatan pidananya yang juga harus dihukum sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkas Arman.

Saat ini kasus pencurian rekening Muin oleh Thoha masih berada dalam proses persidangan di PN Surabaya. Aksi pidana Thoha dan Setu ini dijerat dengan Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun. (*/jay)

JAKARTA – Pakar hukum ekonomi Universitas Indonesia, Arman Nefi, menyarankan niat korban pembobolan rekening BCA atas nama Muin Zachry untuk menggugat pihak bank alangkah baiknya dibatalkan.

Sebab, ia menilai rencana korban kasus pencurian identitas rekening BCA ini tidak tepat. Arman menyarankan korban lebih baik fokus untuk mengejar tindak kejahatan pelaku, dalam hal ini pencurian data nasabah bank untuk kepentingan pribadi.

Apalagi, fakta di persidangan terungkap bahwa faktor kelalaian korban lah yang dimanfaatkan pelaku dan menjadi penyebab terjadinya kasus ini yang merugikan korban sebesar Rp 320 juta.

“Pelaku memiliki niat jahat sejak awal untuk mengambil uang di rekening korban. Semua pihak perlu mengikuti proses persidangan yang masih berjalan hingga selesai, apakah ada unsur kelalaian korban sehingga data-data rahasia perbankan korban bisa diketahui oleh pelaku,” kata Arman Nefi di Jakarta, Kamis (26/1).

Sebelumnya, Muin Zachry selaku korban melalui kuasa hukumnya berencana melaporkan BCA secara pidana dan perdata. Alasannya, pihak bank dianggap lalai karena mencairkan uang di rekening korban yang dibobol oleh pelaku. “Kasusnya didalami dulu agar jelas duduk perkaranya, siapa berbuat apa dan bertanggung jawab atas apa?” saran Arman.

Sidang pemeriksaan kasus ini pada Selasa (24/1) lalu menghadirkan terdakwa Mohammad Thoha alias Thoha. Thoha menjadi terdakwa atas laporan hukum dari korban Muin Zachry.

Peristiwa bermula saat Thoha menjadi penghuni dari tempat kos milik sang korban, Muin.
Niat jahat Thoha muncul ketika Muin menyampaikan secara langsung bahwa dirinya memiliki uang ratusan juta di rekening BCA dari hasil menjual rumah. Bahkan, ia juga menyebut dirinya sempat diajak korban untuk berbisnis bersama.

Baca Juga :  Fokus Padat Karya, Rayakan HJKS 730 bersama Pedagang Pasar Turi dan Warga 

Timbul niat jahat Thoha untuk menguasai uang di rekening korban. Thoha pun mencari seseorang dengan sosok yang menyerupai Muin. Setelah melewati proses pencarian, pilihan sosok yang ia cari jatuh kepada Setu, 64, seorang tukang becak yang tidak dia kenal sebelumnya.

Merasa perawakannya sangat mirip dengan korban, Thoha melatih Setu agar mengikuti rencananya untuk mencairkan uang Muin di kantor cabang BCA di Surabaya. Akal bulus Thoha berlanjut pada 5 Agustus 2022 dengan mencuri KTP, buku tabungan, dan kartu ATM dari rumah Muin yang ditinggalkan tak terkunci saat korban pergi salat Jumat.

Kedekatan Thoha dan Muin membuat pelaku tampaknya sudah memahami waktu kepergian dan lokasi penyimpanan dokumen-dokumen rahasia milik korban. Pada hari yang sama, Thoha menghubungi Setu untuk berangkat ke kantor cabang BCA untuk menguras uang Muin sebesar Rp320 juta.

Rencana ini berjalan mulus. Setu pun melenggang dari kantor BCA sambil menenteng uang tunai Rp320 juta dalam dua kantung plastik. Uang itu segera diserahkannya ke Thoha sang master mind.

Atas jerih payahnya, Thoha memberi Setu uang tunai Rp5 juta. Namun demikian, ia masih tega mengambil ponsel jadul Setu dengan alasan sebagai jaminan. Lantas, Thoha kabur menggunakan bus kota meninggalkan Setu yang masih kebingungan.

Baca Juga :  Ungkap Ulah 2 Oknum, Polisi Gelar Prarekontruksi Penganiayaan Jurnalis

Pihak BCA sendiri sudah menjelaskan bahwa tindakan teller mereka sudah sesuai prosedur. Adapun prosedur dalam mencairkan uang tunai di teller adalah dengan membawa kartu identitas SIM/KTP, buku tabungan BCA, nomor PIN, mengisi formulir dengan tanda tangan asli, serta nasabah tak boleh diwakili siapa pun. Rencana licik Thoha berhasil memenuhi persyaratan itu semua lewat tangan Setu yang sudah dilatihnya, termasuk memalsukan tanda tangan Muin.

Terkait pengakuan Thoha di persidangan, Arman menilai unsur kelalaian dari korban semakin tinggi. Kendati demikian, Arman menilai semua pihak harus menahan diri hingga perkara ini selesai terlebih dahulu sehingga siapa saja yang bertanggung jawab bisa terlihat jelas. Ia pun berpesan supaya masyarakat lebih berfokus pada upaya-upaya untuk menjaga kerahasiaan data perbankan.

“Diharapkan putusan hakim memerintahkan pelaku untuk mengembalikan uang korban yang ‘dicuri’ tanpa menghilangkan perbuatan pidananya yang juga harus dihukum sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkas Arman.

Saat ini kasus pencurian rekening Muin oleh Thoha masih berada dalam proses persidangan di PN Surabaya. Aksi pidana Thoha dan Setu ini dijerat dengan Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun. (*/jay)

Most Read

Berita Terbaru