30 C
Surabaya
Thursday, December 8, 2022

Ibu Aniaya Anak Kandung sampai Tewas karena Tak Mau Diajak Ngamen

SURABAYA – Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya menetapkan dua orang sebagai tersangka kasus penganiayaan bocah enam tahun berinisial AP. Tersangka U, 32, tinggal di Jalan Bulak Banteng Kidul VIII, Surabaya, dan LB, 18, warga Surabaya, akhirnya ditahan karena menganiaya korban sampai meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit.

Tersangka U mengaku menganiaya anak kandungnya karena menolak diajak mengemis. Dia emosi setiap kali anaknya menangis. Tersangka kemudian memukul korban menggunakan tangan kosong, sapu hingga ukulele.

“Tersangka emosi setiap kali anaknya menangis karena tidak mau diajak mengamen,” kata Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Arief Ryzki Wicaksana, Kamis (24/11).

Penangkapan kedua tersangka ini setelah pihak kepolisian mendapat informasi dari tim dokter RSU Soewandhie bahwa ada anak meninggal dunia. Dokter melaporkan karena anak ini mengalami luka di sekujur tubuhnya. Polisi melakukan penyelidikan dan menemukan luka memar hingga terbuka di bagian kepala hingga kaki korban.

“Ada luka lebam, ada pula luka parah di kepala. Luka yang paling parah di bagian belakang kepala korban,” katanya.

Kejadian ini sudah dilakukan kedua tersangka terutama tersangka U selama dua tahun. Korban mengalami penganiayaan sejak usia empat tahun. Ini dilakukan tersangka setiap kali korban menolak jika disuruh. Pihak kepolisian awalnya menangkap ibu korban, setelah penyidikan pihaknya juga menangkap LB yang sempat kabur ke Jember.

“Mengetahui korban meninggal dunia, tersangka LB kabur dan kami tangkap di Jember,” tuturnya.

Tersangka U mengaku emosional jika korban tidak menurut apa yang ia perintahkan. Ia tidak segan menganiaya korban menggunakan sapu hingga ukulele. Tersangka juga sering melampiaskan kekesalannya pada korban jika ada penagih utang ke tempat tinggalnya. Korban mengaku suaminya sudah meninggal lama. Dia hidup dengan anaknya ini.

“Saya juga kesal karena anak saya ini anak haram. Saya menikah siri dengan mantan suami dan tidak direstui keluarga. Dia (korban) juga sering menolak sata saya ajak mengamen di Mangga Dua,” jelasnya.

Sementara itu, tersangka LB, teman ibu korban, mengaku hanya sekali memukul korban dengan ukulele ke arah wajah. Ia kesal saat korban disuruh malah melawan dan mengucapkan kata kotor. Setelah dianiaya korban pamit buang air kecil, namun ternyata jatuh di kamar mandi.

“Awalnya tidak apa-apa. Tapi, saat di kamar mandi, ia jatuh kemudian dibawa ke rumah sakit,” ujarnya. (gun/rek)

SURABAYA – Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya menetapkan dua orang sebagai tersangka kasus penganiayaan bocah enam tahun berinisial AP. Tersangka U, 32, tinggal di Jalan Bulak Banteng Kidul VIII, Surabaya, dan LB, 18, warga Surabaya, akhirnya ditahan karena menganiaya korban sampai meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit.

Tersangka U mengaku menganiaya anak kandungnya karena menolak diajak mengemis. Dia emosi setiap kali anaknya menangis. Tersangka kemudian memukul korban menggunakan tangan kosong, sapu hingga ukulele.

“Tersangka emosi setiap kali anaknya menangis karena tidak mau diajak mengamen,” kata Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Arief Ryzki Wicaksana, Kamis (24/11).

Penangkapan kedua tersangka ini setelah pihak kepolisian mendapat informasi dari tim dokter RSU Soewandhie bahwa ada anak meninggal dunia. Dokter melaporkan karena anak ini mengalami luka di sekujur tubuhnya. Polisi melakukan penyelidikan dan menemukan luka memar hingga terbuka di bagian kepala hingga kaki korban.

“Ada luka lebam, ada pula luka parah di kepala. Luka yang paling parah di bagian belakang kepala korban,” katanya.

Kejadian ini sudah dilakukan kedua tersangka terutama tersangka U selama dua tahun. Korban mengalami penganiayaan sejak usia empat tahun. Ini dilakukan tersangka setiap kali korban menolak jika disuruh. Pihak kepolisian awalnya menangkap ibu korban, setelah penyidikan pihaknya juga menangkap LB yang sempat kabur ke Jember.

“Mengetahui korban meninggal dunia, tersangka LB kabur dan kami tangkap di Jember,” tuturnya.

Tersangka U mengaku emosional jika korban tidak menurut apa yang ia perintahkan. Ia tidak segan menganiaya korban menggunakan sapu hingga ukulele. Tersangka juga sering melampiaskan kekesalannya pada korban jika ada penagih utang ke tempat tinggalnya. Korban mengaku suaminya sudah meninggal lama. Dia hidup dengan anaknya ini.

“Saya juga kesal karena anak saya ini anak haram. Saya menikah siri dengan mantan suami dan tidak direstui keluarga. Dia (korban) juga sering menolak sata saya ajak mengamen di Mangga Dua,” jelasnya.

Sementara itu, tersangka LB, teman ibu korban, mengaku hanya sekali memukul korban dengan ukulele ke arah wajah. Ia kesal saat korban disuruh malah melawan dan mengucapkan kata kotor. Setelah dianiaya korban pamit buang air kecil, namun ternyata jatuh di kamar mandi.

“Awalnya tidak apa-apa. Tapi, saat di kamar mandi, ia jatuh kemudian dibawa ke rumah sakit,” ujarnya. (gun/rek)

Most Read

Berita Terbaru


/