alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Masih Banyak Kendala saat PTM di Surabaya

SURABAYA – Pembelajaran saat pandemi Covid-19 menjadi pengalaman baru bagi guru-guru di Kota Surabaya. Selain protokol kesehatan (prokes) ketat, masih banyak kebiasaan baru di era di new normal ini. Guru harus pandai membagi waktu antara PTM dan daring.

Guru SMPN 4 Surabaya Mulyo Setiyono menyebut salah satu kendala adalah tidak semua orang tua memberikan izin kepada siswa untuk tatap muka. Ada saja alasannya. Mulai dari komorbid, khawatir terpapar virus corona, dan sebagainya. “Ada kendala internet juga. Ada anak yang tidak ada kouta internet,” katanya kemarin (24/11).

Saat ini 30 persen siswa mengikuti PTM. Minggu depan rencananya kouta PTM ditambah menjadi 50 persen. “Sekarang kelas 7 sudah boleh masuk PTM,” ungkapnya.

Pengamat pendidikan Martadi mengatakan, kapasitas 50 persen selama PTM akan lebih memudahkan siswa dan guru untuk berinteraksi sehingga pembelajaran lebih efektif daripada 25 persen siswa. Ia menyebut selama PTM tidak klaster sekolah. Sehingga, perlu ditambahkan kuota siswa yang belajar di sekolah.

“Harapannya, dari 50 persen kemudian ditingkatkan jadi 75 persen dan bisa 100 persen,” katanya. Martadi meminta Pemkot Surabaya terus melakukan evaluasi dan supervisi secara berkala. Juga memberikan edukasi kepada para wali murid tentang prokes dan pentingnya vaksinasi.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku ingin semua sekolah di Surabaya dibuka mulai dari SD hingga SMP. Namun, semuanya harus menjalani asesmen dari Satgas Covid-19. “Kalau lulus asesmen baru dibuka. Tapi, kalau belum lulus asesmen, berarti sekolah itu belum siap PTM,” katanya.

Menurut dia, pemkot berusaha memastikan pihak sekolah sudah menjalankan asesmen dan mendapat persetujuan dari wali murid sebelum melaksanakan PTM. “Meskipun sedikit yang masuk harus tetap digelar PTM,” tegasnya. (rmt/rek)


SURABAYA – Pembelajaran saat pandemi Covid-19 menjadi pengalaman baru bagi guru-guru di Kota Surabaya. Selain protokol kesehatan (prokes) ketat, masih banyak kebiasaan baru di era di new normal ini. Guru harus pandai membagi waktu antara PTM dan daring.

Guru SMPN 4 Surabaya Mulyo Setiyono menyebut salah satu kendala adalah tidak semua orang tua memberikan izin kepada siswa untuk tatap muka. Ada saja alasannya. Mulai dari komorbid, khawatir terpapar virus corona, dan sebagainya. “Ada kendala internet juga. Ada anak yang tidak ada kouta internet,” katanya kemarin (24/11).

Saat ini 30 persen siswa mengikuti PTM. Minggu depan rencananya kouta PTM ditambah menjadi 50 persen. “Sekarang kelas 7 sudah boleh masuk PTM,” ungkapnya.

Pengamat pendidikan Martadi mengatakan, kapasitas 50 persen selama PTM akan lebih memudahkan siswa dan guru untuk berinteraksi sehingga pembelajaran lebih efektif daripada 25 persen siswa. Ia menyebut selama PTM tidak klaster sekolah. Sehingga, perlu ditambahkan kuota siswa yang belajar di sekolah.

“Harapannya, dari 50 persen kemudian ditingkatkan jadi 75 persen dan bisa 100 persen,” katanya. Martadi meminta Pemkot Surabaya terus melakukan evaluasi dan supervisi secara berkala. Juga memberikan edukasi kepada para wali murid tentang prokes dan pentingnya vaksinasi.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku ingin semua sekolah di Surabaya dibuka mulai dari SD hingga SMP. Namun, semuanya harus menjalani asesmen dari Satgas Covid-19. “Kalau lulus asesmen baru dibuka. Tapi, kalau belum lulus asesmen, berarti sekolah itu belum siap PTM,” katanya.

Menurut dia, pemkot berusaha memastikan pihak sekolah sudah menjalankan asesmen dan mendapat persetujuan dari wali murid sebelum melaksanakan PTM. “Meskipun sedikit yang masuk harus tetap digelar PTM,” tegasnya. (rmt/rek)



Most Read

Berita Terbaru