alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Dorong Batik Tulis Go International, Slamet Riyadi Jadi Guru Besar Unitomo Ke-19

SURABAYA – Jumlah guru besar di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) bertambah satu lagi. Prof. Dr. Drs. Ec. Slamet Riyadi, MP, MM, dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Mana­jemen. Kamis (23/06).

Acara pengukuhan guru besar ke-19 Kampus Kebangsaan dan Kerakyatan ini dipimpin rektor Dr. Siti Marwiyah, SH., MH., bertempat di Auditorium Ki H. Mohammad Saleh lantai 5 gedung F kampus Jl. Semolowaru Surabaya. Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA tu­rut hadir dan menyerahkan langsung Surat Keputusan pengangkatan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini sebagai guru besar.

Dalam orasinya Slamet Riyadi menyampaikan pemikiran tentang Model dan Strategi Meningkatkan Ke­unggulan Daya Saing Industri Batik Tulis Menuju Go Internasional. Menurutnya, kontribusi industri batik terha­dap perekonomian nasional sejauh ini belum optimal.

“Nilai ekspor indus­tri fashion Indonesia sebelum pandemi global melanda beberapa tahun lalu sudah mencapai hampir 20 milyar US Dollar per tahun, atau senilai hampir 4 persen PDB Indonesia. Dari jumlah itu, nilai ekspor industri batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi masih di bawah 100 juta US Dollar per tahun, tidak sampai 1 persen dari total nilai ekspor industri fashion. Padahal Indonesia memiliki ratusan sentra industri batik, dengan hampir 40 ribu unit usaha yang menyerap hingga 200.000 tenaga kerja,” ujar Slamet.

Di antara sentra-sentra batik yang ada di Indonesia, meski didominasi industri kecil dan menengah (IKM), menurut Slamet, cukup banyak yang sebenarnya punya prospek menembus pasar internasional.

“Di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan misalnya, yang pernah saya teliti. Dari hasil analisa SWOT diketahui, positioning pe­laku industri batik tulis di wilayah ini berada di kuadran 1, yang artinya mereka sebenarnya punya kekuatan lebih besar dibanding kelemahannya, sedang peluangnya pun lebih besar dibanding ancaman yang dihadapi,” papar mantan wakil rektor 2 Unitomo periode 2013-2017 dan 2017-2021 ini.

Karena itu, saran Slamet, cukup tepat jika pelaku industri batik tulis di wilayah ini melakukan strategi yang lebih bersifat agresif melalui berbagai inovasi produk, inovasi pewarnaan, inovasi standarisasi, inovasi pemasaran, inovasi teknologi dan inovasi kerjasama.

“Pemerintah, termasuk kalangan perguruan tinggi dan stakeholder lain, bisa mengambil peran dalam upaya peningkatan daya saing ini melalui berbagai program pelatihan, bantuan permodalan, kerjasama dan sebagainya. Namun, untuk lebih menjamin kesesuaian berbagai program itu de­ngan harapan dan kebutuhan mereka, maka pelaksanaannya harus dengan menggunakan pendekatan yang lebih partisipatif, bukan top down dari atas ke bawah, tapi bottom up dari bawah ke atas,” sarannya. (yad/jay)

SURABAYA – Jumlah guru besar di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) bertambah satu lagi. Prof. Dr. Drs. Ec. Slamet Riyadi, MP, MM, dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Mana­jemen. Kamis (23/06).

Acara pengukuhan guru besar ke-19 Kampus Kebangsaan dan Kerakyatan ini dipimpin rektor Dr. Siti Marwiyah, SH., MH., bertempat di Auditorium Ki H. Mohammad Saleh lantai 5 gedung F kampus Jl. Semolowaru Surabaya. Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA tu­rut hadir dan menyerahkan langsung Surat Keputusan pengangkatan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini sebagai guru besar.

Dalam orasinya Slamet Riyadi menyampaikan pemikiran tentang Model dan Strategi Meningkatkan Ke­unggulan Daya Saing Industri Batik Tulis Menuju Go Internasional. Menurutnya, kontribusi industri batik terha­dap perekonomian nasional sejauh ini belum optimal.

“Nilai ekspor indus­tri fashion Indonesia sebelum pandemi global melanda beberapa tahun lalu sudah mencapai hampir 20 milyar US Dollar per tahun, atau senilai hampir 4 persen PDB Indonesia. Dari jumlah itu, nilai ekspor industri batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi masih di bawah 100 juta US Dollar per tahun, tidak sampai 1 persen dari total nilai ekspor industri fashion. Padahal Indonesia memiliki ratusan sentra industri batik, dengan hampir 40 ribu unit usaha yang menyerap hingga 200.000 tenaga kerja,” ujar Slamet.

Di antara sentra-sentra batik yang ada di Indonesia, meski didominasi industri kecil dan menengah (IKM), menurut Slamet, cukup banyak yang sebenarnya punya prospek menembus pasar internasional.

“Di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan misalnya, yang pernah saya teliti. Dari hasil analisa SWOT diketahui, positioning pe­laku industri batik tulis di wilayah ini berada di kuadran 1, yang artinya mereka sebenarnya punya kekuatan lebih besar dibanding kelemahannya, sedang peluangnya pun lebih besar dibanding ancaman yang dihadapi,” papar mantan wakil rektor 2 Unitomo periode 2013-2017 dan 2017-2021 ini.

Karena itu, saran Slamet, cukup tepat jika pelaku industri batik tulis di wilayah ini melakukan strategi yang lebih bersifat agresif melalui berbagai inovasi produk, inovasi pewarnaan, inovasi standarisasi, inovasi pemasaran, inovasi teknologi dan inovasi kerjasama.

“Pemerintah, termasuk kalangan perguruan tinggi dan stakeholder lain, bisa mengambil peran dalam upaya peningkatan daya saing ini melalui berbagai program pelatihan, bantuan permodalan, kerjasama dan sebagainya. Namun, untuk lebih menjamin kesesuaian berbagai program itu de­ngan harapan dan kebutuhan mereka, maka pelaksanaannya harus dengan menggunakan pendekatan yang lebih partisipatif, bukan top down dari atas ke bawah, tapi bottom up dari bawah ke atas,” sarannya. (yad/jay)

Most Read

Berita Terbaru


/