alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Penyakit Antraknosa Meluas di Jatim, Harga Cabai Rawit Setara Daging

SURABAYA – Harga cabai rawit dan cabai besar kembali melonjak. Tak tanggung-tanggung, harga cabai rawit saat ini hampir setara harga daging sapi, yakni Rp 120 ribu per kilogram.

Berdasar Sistem Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Timur, harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp 93.821. Harga rata-rata tertinggi di Kota Pasuruan, Kabupaten Sumenep, dan Kota Probolinggo Rp 105 ribu. Sedangkan harga rata-rata terendah di Bondowoso Rp 83.375.

Di Kota Surabaya, harga cabai rawit mencapai Rp 100 ribu per kilogram untuk Pasar Genteng, Keputran, dan Wonokromo. Untuk Pasar Pucang Anom Rp 90 ribu dan Pasar Tambakrejo Rp 95 ribu.

Adapun harga cabai besar di Pasar Genteng Rp 70 ribu dan Pasar Keputran Rp 65 ribu per kilogram. Sedangkan Pasar Pucang Anom dan Tambakrejo harganya Rp 60 ribu. Kemudian Pasar Wonokromo Rp 75 ribu. Harga rata-rata cabai besar Jawa Timur Rp 68.039. Harga rata-rata tertinggi di Kota Batu Rp 87.250. Dan, harga rata-rata terendah di Kota Probolinggo Rp 55 ribu.

Untuk harga daging sapi rata-rata Jawa Timur Rp 115.647. Harga rata-rata tertinggi di Pacitan Rp 130 ribu. Dan harga rata-rata terendah di Jombang Rp 100 ribu. Sementara harga daging sapi di Pasar Surabaya berkisar Rp 110-Rp120 ribu per kilogram

Salah seorang pedagang Pasar PPI Surabaya Nur Nanik, 65, menyebutkan harga cabai rawit mencapai Rp 120 ribu. Hal ini membuatnya tidak berani melakukan stok banyak. “Kalau busuk saya bisa rugi. Karena sejak harga cabai naik ini, yang beli sedikit-sedikit,” katanya.

Sementara itu, pedagang pecel lele Sujarwo, 35, mengaku dirinya membeli cabai rawit di Pasar Wonokromo seharga Rp 120 ribu per kilogram. “Kalau kita menaikkan harga, pelanggan komplain. Solusinya sambalnya dibuat agak encer,” jelasnya.

Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko mengatakan, naiknya harga cabai ini disebabkan produksinya yang berkurang akibat penyakit antraknosa di sentra cabai rawit di Blitar, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Tanaman cabai pun mati lebih awal sebelum panen.
“Terjadi kekosongan panen di daerah sentra cabai rawit. Sehingga, jika biasanya panennya sambung menyambung antardaerah, kali ini terputus,” katanya.

Nanang menambahkan, lonjakan harga cabai besar disebabkan kekosongan tanam akibat curah hujan yang tinggi. “Nah, untuk stok ini sebenarnya bukan langka, tapi produksinya menurun. Sehingga stoknya tidak banyak,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan, secara periodik luas panen cabai rawit mulai Januari hingga Mei sebesar 28.916 ha atau menurun 74 persen. Meski demikian, ketersediaan cabai rawit di Jawa Timur masih mencukupi atau surplus sebesar 208.246 ton.

Sedangkan berdasarkan luas musim tanam bulan Januari hingga April diperkirakan potensi luas panen bulan Juli seluas 5.030 ha dengan produksi 20.119 ton atau surplus 14.028 ton pada bulan Juli.

Hadi menyebut beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga cabai. Di antaranya, ketersedian cabai dengan kualitas yang diinginkan pasar mengalami penurunan akibat serangan hama karena curah hujan yang tinggi, serta umur tanaman yang sudah tidak produktif lagi. Namun, beberapa sentra cabai di Jatim pada Februari hingga April telah melakukan penanaman di daerah dataran rendah. (mus/rek)

SURABAYA – Harga cabai rawit dan cabai besar kembali melonjak. Tak tanggung-tanggung, harga cabai rawit saat ini hampir setara harga daging sapi, yakni Rp 120 ribu per kilogram.

Berdasar Sistem Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Timur, harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp 93.821. Harga rata-rata tertinggi di Kota Pasuruan, Kabupaten Sumenep, dan Kota Probolinggo Rp 105 ribu. Sedangkan harga rata-rata terendah di Bondowoso Rp 83.375.

Di Kota Surabaya, harga cabai rawit mencapai Rp 100 ribu per kilogram untuk Pasar Genteng, Keputran, dan Wonokromo. Untuk Pasar Pucang Anom Rp 90 ribu dan Pasar Tambakrejo Rp 95 ribu.

Adapun harga cabai besar di Pasar Genteng Rp 70 ribu dan Pasar Keputran Rp 65 ribu per kilogram. Sedangkan Pasar Pucang Anom dan Tambakrejo harganya Rp 60 ribu. Kemudian Pasar Wonokromo Rp 75 ribu. Harga rata-rata cabai besar Jawa Timur Rp 68.039. Harga rata-rata tertinggi di Kota Batu Rp 87.250. Dan, harga rata-rata terendah di Kota Probolinggo Rp 55 ribu.

Untuk harga daging sapi rata-rata Jawa Timur Rp 115.647. Harga rata-rata tertinggi di Pacitan Rp 130 ribu. Dan harga rata-rata terendah di Jombang Rp 100 ribu. Sementara harga daging sapi di Pasar Surabaya berkisar Rp 110-Rp120 ribu per kilogram

Salah seorang pedagang Pasar PPI Surabaya Nur Nanik, 65, menyebutkan harga cabai rawit mencapai Rp 120 ribu. Hal ini membuatnya tidak berani melakukan stok banyak. “Kalau busuk saya bisa rugi. Karena sejak harga cabai naik ini, yang beli sedikit-sedikit,” katanya.

Sementara itu, pedagang pecel lele Sujarwo, 35, mengaku dirinya membeli cabai rawit di Pasar Wonokromo seharga Rp 120 ribu per kilogram. “Kalau kita menaikkan harga, pelanggan komplain. Solusinya sambalnya dibuat agak encer,” jelasnya.

Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko mengatakan, naiknya harga cabai ini disebabkan produksinya yang berkurang akibat penyakit antraknosa di sentra cabai rawit di Blitar, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Tanaman cabai pun mati lebih awal sebelum panen.
“Terjadi kekosongan panen di daerah sentra cabai rawit. Sehingga, jika biasanya panennya sambung menyambung antardaerah, kali ini terputus,” katanya.

Nanang menambahkan, lonjakan harga cabai besar disebabkan kekosongan tanam akibat curah hujan yang tinggi. “Nah, untuk stok ini sebenarnya bukan langka, tapi produksinya menurun. Sehingga stoknya tidak banyak,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan, secara periodik luas panen cabai rawit mulai Januari hingga Mei sebesar 28.916 ha atau menurun 74 persen. Meski demikian, ketersediaan cabai rawit di Jawa Timur masih mencukupi atau surplus sebesar 208.246 ton.

Sedangkan berdasarkan luas musim tanam bulan Januari hingga April diperkirakan potensi luas panen bulan Juli seluas 5.030 ha dengan produksi 20.119 ton atau surplus 14.028 ton pada bulan Juli.

Hadi menyebut beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga cabai. Di antaranya, ketersedian cabai dengan kualitas yang diinginkan pasar mengalami penurunan akibat serangan hama karena curah hujan yang tinggi, serta umur tanaman yang sudah tidak produktif lagi. Namun, beberapa sentra cabai di Jatim pada Februari hingga April telah melakukan penanaman di daerah dataran rendah. (mus/rek)

Most Read

Berita Terbaru


/