alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Kenalkan Karya Fashion Design lewat Hybrid Creative Show

SURABAYA – Dunia fashion design seolah tak pernah habisnya. Hal itu tak bisa lepas dari banyaknya lulusan sarjana dalam bidang tersebut yang terus berinovasi dan menunjukkan karya-karya terbaiknya.

Misalnya saja karya lulusan salah satu sekolah mode di kawasan Darmo ini, karya mahasiswa kampus desain itu dipamerkan dalam ajang Graduation Creative Show di sebuah hotel di kawasan Surabaya Barat.

Dua orang model nampak berjalan di catwalk menunjukkan karya lulusan angkatan 2020 dan 2021 yang bertajuk Unification. Topik itu dipilih untuk menyuarakan persistensi untuk merealisasikan kelulusan siswa dari dua angkatan tersebut.

“Unification merupakan proses menyatukan atau menadi satu kesatuan. Ini merupakan adaptasi dan inspirasi dari sudut pandang kehidupan selama pandemi,” kata Sasanti Cahya Mulya selaku Senior Marketing Executive sekolah tersebut, Kamis (21/10).

Salah satu pengajar Patrick SML mengatakan, untuk membuat sebuah karya tersebut rupanya tak mudah. Hal tersebut dipengaruhi oleh cara belajar yang banyak dilakukan secara online alias daring selama masa pandemi.

Sebab sebagai sekolah berbasis industri kreatif banyak praktikum yang semestinya dilakukan. Sehingga ketika proses belajar dilakukan secara online ada banyak kendala di dalamnya. Misalnya saja jaringan yang tidak stabil saat proses pembelajaran. “Bagaimana caranya agar tetap semangat belajar, tentu harus tetap sesuai dengan schedule yang sudah ditetapkan. Jadi para siswa diberi pengertian,” ujarnya.

Walau sempat ada kendala, namun proses berkarya siswa tetap berjalan. Sehingga karya mahasiswa bisa dipajang dan juga dikenakan oleh sejumlah model. Sejumlah karya design siswa yang dipajang dan dikenakan model tersebut membutuhkan waktu empat bulan.

Mulai dari proses mendesain, menjahit dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan oleh siswa baik dari program fashion design, fashion business, graphic design, interior design hingga artistic make up. Karya siswa tersebut kini bisa dinikmati di media sosial.

“Jadi satu student itu menghasilkan lima outfit. Yang jelas seluruh hasil karya siswa itu bisa dilihat dan dinikmati publik melalui akun YouTube,” imbuhnya.

Karya-karya itu sengaja dipublikasikan dalam bentuk virtual show. Hal tersebut menyesuaikan kondisi yang masih dalam masa pandemi. Meski dalam prosesnya tak mudah, namun pembinaannya dilakukan secara maksimal.

Mahasiswa mulai dipantau sejak dalam proses pembuatan desain. Jika ternyata nantinya tidak cocok dengan warna, atau perpaduan warna pakaian tak sesuai, maka akan langsung diberikan arahan. “Kalau misal dari ilustrasinya udah enggak cocok, kita pasti udah kasih tahu sebelum mereka lanjut ke proses pembuatan pola dan menjahit,” jelasnya. (far/nur)


SURABAYA – Dunia fashion design seolah tak pernah habisnya. Hal itu tak bisa lepas dari banyaknya lulusan sarjana dalam bidang tersebut yang terus berinovasi dan menunjukkan karya-karya terbaiknya.

Misalnya saja karya lulusan salah satu sekolah mode di kawasan Darmo ini, karya mahasiswa kampus desain itu dipamerkan dalam ajang Graduation Creative Show di sebuah hotel di kawasan Surabaya Barat.

Dua orang model nampak berjalan di catwalk menunjukkan karya lulusan angkatan 2020 dan 2021 yang bertajuk Unification. Topik itu dipilih untuk menyuarakan persistensi untuk merealisasikan kelulusan siswa dari dua angkatan tersebut.

“Unification merupakan proses menyatukan atau menadi satu kesatuan. Ini merupakan adaptasi dan inspirasi dari sudut pandang kehidupan selama pandemi,” kata Sasanti Cahya Mulya selaku Senior Marketing Executive sekolah tersebut, Kamis (21/10).

Salah satu pengajar Patrick SML mengatakan, untuk membuat sebuah karya tersebut rupanya tak mudah. Hal tersebut dipengaruhi oleh cara belajar yang banyak dilakukan secara online alias daring selama masa pandemi.

Sebab sebagai sekolah berbasis industri kreatif banyak praktikum yang semestinya dilakukan. Sehingga ketika proses belajar dilakukan secara online ada banyak kendala di dalamnya. Misalnya saja jaringan yang tidak stabil saat proses pembelajaran. “Bagaimana caranya agar tetap semangat belajar, tentu harus tetap sesuai dengan schedule yang sudah ditetapkan. Jadi para siswa diberi pengertian,” ujarnya.

Walau sempat ada kendala, namun proses berkarya siswa tetap berjalan. Sehingga karya mahasiswa bisa dipajang dan juga dikenakan oleh sejumlah model. Sejumlah karya design siswa yang dipajang dan dikenakan model tersebut membutuhkan waktu empat bulan.

Mulai dari proses mendesain, menjahit dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan oleh siswa baik dari program fashion design, fashion business, graphic design, interior design hingga artistic make up. Karya siswa tersebut kini bisa dinikmati di media sosial.

“Jadi satu student itu menghasilkan lima outfit. Yang jelas seluruh hasil karya siswa itu bisa dilihat dan dinikmati publik melalui akun YouTube,” imbuhnya.

Karya-karya itu sengaja dipublikasikan dalam bentuk virtual show. Hal tersebut menyesuaikan kondisi yang masih dalam masa pandemi. Meski dalam prosesnya tak mudah, namun pembinaannya dilakukan secara maksimal.

Mahasiswa mulai dipantau sejak dalam proses pembuatan desain. Jika ternyata nantinya tidak cocok dengan warna, atau perpaduan warna pakaian tak sesuai, maka akan langsung diberikan arahan. “Kalau misal dari ilustrasinya udah enggak cocok, kita pasti udah kasih tahu sebelum mereka lanjut ke proses pembuatan pola dan menjahit,” jelasnya. (far/nur)



Most Read

Berita Terbaru