alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Jalan Dinoyo Dipantau, Bertetangga Jadi Pengedar dan Pemakai Narkoba

SURABAYA – Kawasan Jalan Dinoyo kini menjadi perhatian polisi. Sebab dalam beberapa Minggu terakhir dua warganya diringkus. Kedua tersangka tersebut terlibat kasus narkoba. 

Mulai dari pemakai hingga pengedar.  Kedua tersangka itu adalah Muhammad Tri,37, dan Lica Hariyanto,36, warga Jalan Dinoyo Alun-Alun 2 /18, Surabaya. Meski terlibat kasus yang sama, namun kedua tersangka bukanlah satu jaringan. 

Polisi yang menangkap mereka juga beda sektor. M Tri ditangkap Satreskrim Polsek Tegalsari pada Selasa (10/7) sedangkan Lica ditangkap anggota polsek Sukomanunggal pada Selasa (17/7). M Tri ditangkap lantaran mengedarkan sabu-sabu (SS), sedangkan Lica pemakai SS yang digerebek saat transaksi. 

Kapolsek Tegalsari, Kompol David Trio Prasojo mengatakan tersangka Tri memang sudah menjadi target operasinya selama dua bulan terakhir. Dia menjadi incaran lantaran beberapa kali sudah mengedarkan SS di beberapa kawasan di Surabaya. 

“Tersangka kami amankan saat asyik menimbang SS di rumahnya untuk dijual kembali,” ungkap David, Jumat (20/7). 

Menurut David saat digerebek, pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya 22 poket SS yang sudah dimasukkan ke dalam potongan sedotan, jumlahnya seberat 8,86 gram. Selain itu, pihaknya juga mengamankan dua unit Handphone (Hp), uang Rp 800 ribu serta timbangan elektronik. 

“Modus peredaran SS yang dilakukan tersangka memang dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam potongan sedotan kecil yang setiap ujungnya sudah dibakar. Biasanya untuk satu poket itu, tersangka menjualnya dengan harga Rp 200 ribu,” lanjut mantan Kapolsek Tambaksari ini. 

Sementara itu, kepada polisi M Tri mengaku jika SS tersebut dipasok dari temannya yang sudah ia kenal selama dua tahun terakhir. Namun ia mulai berani mengedarkan SS tersebut baru dua bulan. Hal itu ia lakukan karena terpaksa lantaran usahanya menjual nasi sedang sepi. 

“Saya butuh uang tambahan untuk kehidupan sehari-hari. Dari penjualan itu saya memperoleh keuntungan Rp 300 ribu untuk setiap poketnya,” jelasnya. 

Terpisah tersangka Lica mengaku jika ia mengkonsumsi SS lantaran sudah ketagihan. Ia mengatakan membeli SS tersebut dari seorang kurir langganannya seharga Rp 800 ribu per gramnya.  Setelah itu, ia menikmati SS itu sedikit demi sedikit. 

“Kalau saya ingin, baru saya pakai. Hanya  untuk dopping saja,” terang Lican.

Lican sendiri ditangkap usai melakukan transaksi dengan barang bukti satu poket SS seberat 0,22 gram, namun saat digeledah di rumahnya polisi menemukan barang bukti lain, yakni dua poket SS masing-masing seberat 1,26 gram dan 3,40 gram dan juga seperangkat alat isap. 

“Kami masih mendalami kasus ini, sebab barang bukti SS yang kami amankan cukup banyak untuk seorang pamakai saja. Kami menduga jika tersangka juga mengedarkannya,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Sukomanunggal, Iptu Misdianto. (yua/rud)

SURABAYA – Kawasan Jalan Dinoyo kini menjadi perhatian polisi. Sebab dalam beberapa Minggu terakhir dua warganya diringkus. Kedua tersangka tersebut terlibat kasus narkoba. 

Mulai dari pemakai hingga pengedar.  Kedua tersangka itu adalah Muhammad Tri,37, dan Lica Hariyanto,36, warga Jalan Dinoyo Alun-Alun 2 /18, Surabaya. Meski terlibat kasus yang sama, namun kedua tersangka bukanlah satu jaringan. 

Polisi yang menangkap mereka juga beda sektor. M Tri ditangkap Satreskrim Polsek Tegalsari pada Selasa (10/7) sedangkan Lica ditangkap anggota polsek Sukomanunggal pada Selasa (17/7). M Tri ditangkap lantaran mengedarkan sabu-sabu (SS), sedangkan Lica pemakai SS yang digerebek saat transaksi. 

Kapolsek Tegalsari, Kompol David Trio Prasojo mengatakan tersangka Tri memang sudah menjadi target operasinya selama dua bulan terakhir. Dia menjadi incaran lantaran beberapa kali sudah mengedarkan SS di beberapa kawasan di Surabaya. 

“Tersangka kami amankan saat asyik menimbang SS di rumahnya untuk dijual kembali,” ungkap David, Jumat (20/7). 

Menurut David saat digerebek, pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya 22 poket SS yang sudah dimasukkan ke dalam potongan sedotan, jumlahnya seberat 8,86 gram. Selain itu, pihaknya juga mengamankan dua unit Handphone (Hp), uang Rp 800 ribu serta timbangan elektronik. 

“Modus peredaran SS yang dilakukan tersangka memang dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam potongan sedotan kecil yang setiap ujungnya sudah dibakar. Biasanya untuk satu poket itu, tersangka menjualnya dengan harga Rp 200 ribu,” lanjut mantan Kapolsek Tambaksari ini. 

Sementara itu, kepada polisi M Tri mengaku jika SS tersebut dipasok dari temannya yang sudah ia kenal selama dua tahun terakhir. Namun ia mulai berani mengedarkan SS tersebut baru dua bulan. Hal itu ia lakukan karena terpaksa lantaran usahanya menjual nasi sedang sepi. 

“Saya butuh uang tambahan untuk kehidupan sehari-hari. Dari penjualan itu saya memperoleh keuntungan Rp 300 ribu untuk setiap poketnya,” jelasnya. 

Terpisah tersangka Lica mengaku jika ia mengkonsumsi SS lantaran sudah ketagihan. Ia mengatakan membeli SS tersebut dari seorang kurir langganannya seharga Rp 800 ribu per gramnya.  Setelah itu, ia menikmati SS itu sedikit demi sedikit. 

“Kalau saya ingin, baru saya pakai. Hanya  untuk dopping saja,” terang Lican.

Lican sendiri ditangkap usai melakukan transaksi dengan barang bukti satu poket SS seberat 0,22 gram, namun saat digeledah di rumahnya polisi menemukan barang bukti lain, yakni dua poket SS masing-masing seberat 1,26 gram dan 3,40 gram dan juga seperangkat alat isap. 

“Kami masih mendalami kasus ini, sebab barang bukti SS yang kami amankan cukup banyak untuk seorang pamakai saja. Kami menduga jika tersangka juga mengedarkannya,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Sukomanunggal, Iptu Misdianto. (yua/rud)

Most Read

Berita Terbaru


/