alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, June 29, 2022

Masih Ada Potensi Gempa di Kawasan Selatan Jawa Timur

JEMBER – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak pemerintah kabupaten/kota di kawasan selatan Jawa Timur memperkuat mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami. Selama lima tahun terakhir, BMKG mencatat aktivitas kegempaan di wilayah tersebut mengalami peningkatan.

Berdasarkan catatan BMKG, sepanjang tahun 2013-2015, jumlah gempa bumi di Jawa Timur dengan beragam magnitudo kurang dari 230 kali per tahun. Namun, pada 2016 hingga 2020, jumlah gempa bumi meningkat menjadi lebih dari 450 kali setahun. Frekuensi tertinggi 655 kali pada 2016.

“Para kepala daerah, mohon untuk segera melakukan audit kelayakan konstruksi bangunan dan infrastruktur, penyiapan jalur dan sarana prasarana evakuasi yang layak dan memadai,” ujar Khofifah di Jember, Minggu (19/12).

Menurut dia, mitigasi tersebut harus dilakukan untuk mengurangi dampak yang terjadi jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menghantam selatan Jatim. Pemerintah daerah diminta segera membuat rencana aksi dengan berbagai skenario, dari yang ringan hingga antisipasi terburuk.

“Rencana aksi tersebut harus juga mencakup jalur evakuasi, proses evakuasi, dan pola penanganan pengungsi jika bencana terjadi,” katanya.

Selain mitigasi, lanjut Khofifah, perlu juga penguatan dalam hal literasi bencana masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak gagap dan bingung serta tahu harus berbuat apa saat bencana terjadi. “Masyarakat harus bisa melakukan evakuasi mandiri. Karena gak akan nutut kalau mengikuti ritme dan menunggu relawan datang. Sebab, kemungkinan jarak dari gempa ke tsunami biasanya hanya 20 menit saja,” terangnya.

Berdasarkan data BPBD Jember, sedikitnya terdapat 46 unit rumah yang mengalami kerusakan. Lima unit fasilitas umum yang rusak berupa empat sekolah dan satu gedung juga terdampak gempa di Jember. Sementara itu, enam warga mengalami luka ringan.

Sementara itu, dalam kunjungannya ke Dusun Krajan, Desa Ambulu, Kecamatan, Ambulu, Kabupaten Jember, Khofifah menyempatkan diri berbincang dengan warga setempat yang rumahnya rusak. Khofifah memastikan bahwa perbaikan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa akan dilakukan sesegera mungkin.

“Perbaikan as soon as possible ada tingkat urgensi, terutama untuk warga yang kondisi rumahnya mengkhawatirkan jikalau ada gempa susulan atau ada angin khawatir genteng jatuh,” katanya.

Kepala Pusat Seismologi Teknik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rakhmat mengatakan, sebenarnya gempa di Jember berkekuatan 5,1 SR tidak berpotensi menimbulkan tsunami atau kerusakan parah.

“Jadi, ada yang salah kalau sampai ada kerusakan seperti ini. Nah, ini biasanya ada pada konstruksi warga yang tidak kokoh dan kuat. Ini yang seharusnya diperbaiki,” ujar Rakhmat saat mendampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau wilayah terdampak gempa di Desa Ambulu, Dusun Krajan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember.

Gempa berkekuatan 5,1 SR terjadi pada Kamis (16/12) pukul 06:01:33 WIB. Gempa berpusat pada lintang 8.55 LS, bujur 113.49 BT dengan kedalaman 10 Km. BMKG memastikan bahwa kekuatan 5,1 SR ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Meskipun demikian, gempa tersebut dirasakan di Kabupaten Jember dengan intensitas IV MMI, Kabupaten Banyuwangi dengan intensitas II-III MMI, Kabupaten Malang dengan intensitas II MMI, Lumajang dengan intensitas I-II MMI, Kabupaten Bondowoso dengan intensitas I-II MMI, serta Kabupaten Trenggalek yang berintensitas I-II MMI.

Rakhmat menambahkan, pemerintah berperan penting terkait pembangunan suatu bangunan. “Ini tugas kita bersama. Pemerintah harus ketat dalam memberikan izin untuk bangunan. Pengecekan konstruksi harus ketat pula. Jadi struktur bangunan harus dibuat siap untuk skenario terburuk,” katanya. (mus/rek)

JEMBER – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak pemerintah kabupaten/kota di kawasan selatan Jawa Timur memperkuat mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami. Selama lima tahun terakhir, BMKG mencatat aktivitas kegempaan di wilayah tersebut mengalami peningkatan.

Berdasarkan catatan BMKG, sepanjang tahun 2013-2015, jumlah gempa bumi di Jawa Timur dengan beragam magnitudo kurang dari 230 kali per tahun. Namun, pada 2016 hingga 2020, jumlah gempa bumi meningkat menjadi lebih dari 450 kali setahun. Frekuensi tertinggi 655 kali pada 2016.

“Para kepala daerah, mohon untuk segera melakukan audit kelayakan konstruksi bangunan dan infrastruktur, penyiapan jalur dan sarana prasarana evakuasi yang layak dan memadai,” ujar Khofifah di Jember, Minggu (19/12).

Menurut dia, mitigasi tersebut harus dilakukan untuk mengurangi dampak yang terjadi jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menghantam selatan Jatim. Pemerintah daerah diminta segera membuat rencana aksi dengan berbagai skenario, dari yang ringan hingga antisipasi terburuk.

“Rencana aksi tersebut harus juga mencakup jalur evakuasi, proses evakuasi, dan pola penanganan pengungsi jika bencana terjadi,” katanya.

Selain mitigasi, lanjut Khofifah, perlu juga penguatan dalam hal literasi bencana masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak gagap dan bingung serta tahu harus berbuat apa saat bencana terjadi. “Masyarakat harus bisa melakukan evakuasi mandiri. Karena gak akan nutut kalau mengikuti ritme dan menunggu relawan datang. Sebab, kemungkinan jarak dari gempa ke tsunami biasanya hanya 20 menit saja,” terangnya.

Berdasarkan data BPBD Jember, sedikitnya terdapat 46 unit rumah yang mengalami kerusakan. Lima unit fasilitas umum yang rusak berupa empat sekolah dan satu gedung juga terdampak gempa di Jember. Sementara itu, enam warga mengalami luka ringan.

Sementara itu, dalam kunjungannya ke Dusun Krajan, Desa Ambulu, Kecamatan, Ambulu, Kabupaten Jember, Khofifah menyempatkan diri berbincang dengan warga setempat yang rumahnya rusak. Khofifah memastikan bahwa perbaikan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa akan dilakukan sesegera mungkin.

“Perbaikan as soon as possible ada tingkat urgensi, terutama untuk warga yang kondisi rumahnya mengkhawatirkan jikalau ada gempa susulan atau ada angin khawatir genteng jatuh,” katanya.

Kepala Pusat Seismologi Teknik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rakhmat mengatakan, sebenarnya gempa di Jember berkekuatan 5,1 SR tidak berpotensi menimbulkan tsunami atau kerusakan parah.

“Jadi, ada yang salah kalau sampai ada kerusakan seperti ini. Nah, ini biasanya ada pada konstruksi warga yang tidak kokoh dan kuat. Ini yang seharusnya diperbaiki,” ujar Rakhmat saat mendampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau wilayah terdampak gempa di Desa Ambulu, Dusun Krajan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember.

Gempa berkekuatan 5,1 SR terjadi pada Kamis (16/12) pukul 06:01:33 WIB. Gempa berpusat pada lintang 8.55 LS, bujur 113.49 BT dengan kedalaman 10 Km. BMKG memastikan bahwa kekuatan 5,1 SR ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Meskipun demikian, gempa tersebut dirasakan di Kabupaten Jember dengan intensitas IV MMI, Kabupaten Banyuwangi dengan intensitas II-III MMI, Kabupaten Malang dengan intensitas II MMI, Lumajang dengan intensitas I-II MMI, Kabupaten Bondowoso dengan intensitas I-II MMI, serta Kabupaten Trenggalek yang berintensitas I-II MMI.

Rakhmat menambahkan, pemerintah berperan penting terkait pembangunan suatu bangunan. “Ini tugas kita bersama. Pemerintah harus ketat dalam memberikan izin untuk bangunan. Pengecekan konstruksi harus ketat pula. Jadi struktur bangunan harus dibuat siap untuk skenario terburuk,” katanya. (mus/rek)

Most Read

Berita Terbaru


/