26 C
Surabaya
Thursday, March 30, 2023

Dua Terdakwa Kanjuruhan Bebas, Keluarga Korban Akan Terus Berjuang

SURABAYA – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan vonis bebas kepada mantan Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto dan mantan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi. Keluarga korban tragedi Kanjuruhan merasa kecewa atas putusan tersebut.

Isatus Sa’adah, 24, kakak kandung Wildan Rahmadhani, 16, yang meninggal karena tragedi Kanjuruhan, mengaku sangat terpukul. Apalagi tragedi di Stadion Kanjuruhan itu menyebabkan 135 orang meninggal dunia. Ia datang dari Kabupaten Malang ke PN Surabaya untuk menyaksikan sidang vonis terhadap tiga terdakwa dari unsur kepolisian.

“Rasa keadilan kami terkoyak-koyak,” kata Isa di PN Surabaya. Dengan air mata berlinang, Isa mengenang adiknya yang kini telah tiada. “Seharusnya putusan majelis hakim itu maksimal seperti tuntutan jaksa. Namun, kami tidak akan berhenti hanya pada vonis ini saja,” tambahnya.

Baca Juga :  Polda Jatim Tembak Mati Kurir Sabu Asal Sedati

Begitu juga Susiani. Wanita 38 tahun itu memegang foto anaknya Hendra Wahyu Zainal Arifin yang jadi korban tragedi terbesar dalam sejarah persepakbolaan tanah air itu. “Hati saya sangat terkoyak-koyak karena menuntut keadilan dalam kasus ini sangat susah,” katanya.

Menurut Susiani, sejumlah keluarga korban sudah datang ke Komnas HAM, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), hingga Ombudsman. “Terus menjelang sidang, kami juga kirim surat desakan ke majelis hakim. Tapi hasilnya seperti ini,” ungkapnya kecewa. (jar/rek)

SURABAYA – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan vonis bebas kepada mantan Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto dan mantan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi. Keluarga korban tragedi Kanjuruhan merasa kecewa atas putusan tersebut.

Isatus Sa’adah, 24, kakak kandung Wildan Rahmadhani, 16, yang meninggal karena tragedi Kanjuruhan, mengaku sangat terpukul. Apalagi tragedi di Stadion Kanjuruhan itu menyebabkan 135 orang meninggal dunia. Ia datang dari Kabupaten Malang ke PN Surabaya untuk menyaksikan sidang vonis terhadap tiga terdakwa dari unsur kepolisian.

“Rasa keadilan kami terkoyak-koyak,” kata Isa di PN Surabaya. Dengan air mata berlinang, Isa mengenang adiknya yang kini telah tiada. “Seharusnya putusan majelis hakim itu maksimal seperti tuntutan jaksa. Namun, kami tidak akan berhenti hanya pada vonis ini saja,” tambahnya.

Baca Juga :  Perbaikan Plengsengan di Jalan AR Hakim Terkendala Utilitas Listrik

Begitu juga Susiani. Wanita 38 tahun itu memegang foto anaknya Hendra Wahyu Zainal Arifin yang jadi korban tragedi terbesar dalam sejarah persepakbolaan tanah air itu. “Hati saya sangat terkoyak-koyak karena menuntut keadilan dalam kasus ini sangat susah,” katanya.

Menurut Susiani, sejumlah keluarga korban sudah datang ke Komnas HAM, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), hingga Ombudsman. “Terus menjelang sidang, kami juga kirim surat desakan ke majelis hakim. Tapi hasilnya seperti ini,” ungkapnya kecewa. (jar/rek)

Most Read

Berita Terbaru