alexametrics
28 C
Surabaya
Tuesday, May 24, 2022

Cegah Kerumunan, Waktu Transit PTM Diperpanjang di Surabaya

SURABAYA – Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sudah berjalan lima hari. Kerumunan siswa saat pergantian sif dan kepulangan sering terjadi. Karena itu, dilakukan perpanjangan waktu transit pergantian sif yang semula 30 menit menjadi satu jam.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya Ridwan Mubarun mengatakan, pihaknya sudah meminta seluruh sekolah untuk mengatur jam pergantian sif hingga kepulangan agar tidak terjadi kerumunan. “Yang sulit diatur itu saat pulang sekolah dan pergantian sif di sesi kedua masuk yang hanya 30 menit. Itu mengakibatkan kerumanan,” kata Ridwan, Kamis (13/1).

Wakil Satgas Covid-19 kota Surabaya itu juga menyebut faktor terjadinya kerumanan di masa transisi itu karena banyaknya penjemput dan pengantar siswa di sif kedua. PTM 100 persen memang menggunakan dua sif. Sif pertama 50 persen dan sif kedua 50 persen dengan menyesuaikan kondisi sekolah masing-masing.

Baca Juga :  Dispendik Surabaya Siapkan Skema PTM 100 Persen

Pihak sekolah juga menyediakan ruang transit untuk digunakan siswa menunggu pembelajaran selanjutnya. Juga orang tua yang menjemput putra-putrinya. “Saat ini kesadaran dalam bermasker baik orang tua, siswa, guru sudah baik. Namun, yang paling sulit adalah mengantisipasi kerumanan,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh menjelaskan bahwa pelaksanaan PTM 100 persen di Kota Surabaya telah mendapat persetujuan dari wali murid atau orang tua siswa. Total diikuti 661 unit sekolah. Yakin 285 SD negeri dan 376 SD swasta. Tingkat SMP sebanyak 331 sekolah dengan 63 SMP negeri dan 268 SMP swasta.

Sedangkan PTM tingkat SD, Yusuf menerangkan belum bisa dilaksanakan secara penuh. Ini karena masih ada sebagian siswa yang belum mengikuti vaksinasi Covid-19 untuk usia 6-11 tahun. Ditambah, adanya penyesuaian terhadap siswa yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Baca Juga :  Evaluasi PTM di Surabaya, Banyak Siswa Abaikan Prokes

Terkait evaluasi PTM 100 persen, Yusuf mengatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan rapat koordinasi dengan dinkes dan pakar epidemiologi. “Kami akan terus melakukan yang terbaik untuk anak-anak di Surabaya,” jelasnya.

Sementara itu, pengamat pendidikan Isa Anshori mengusulkan adanya petugas untuk mengatasi kerumanan saat masuk dan pulang sekolah. Terutama di sekolah yang satu kompleks dengan sekolah lainnya. Ia melihat ketika bubaran sekolah jenjang SMA, sering kali terjadi kerumunan.

“Misalnya, di Jalan Pacar dan Wijaya Kusuma. Ini kan kompleks sekolah ada SMP maupun SMA. Jadi, perlu ada petugas yang berjaga untuk mengatasi kerumanan setelah jam pulang sekolah. Kalau ditempatkan beberapa petugas, saya rasa mereka tidak akan berkerumun,” pungkasnya. (rmt/rek)

SURABAYA – Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sudah berjalan lima hari. Kerumunan siswa saat pergantian sif dan kepulangan sering terjadi. Karena itu, dilakukan perpanjangan waktu transit pergantian sif yang semula 30 menit menjadi satu jam.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya Ridwan Mubarun mengatakan, pihaknya sudah meminta seluruh sekolah untuk mengatur jam pergantian sif hingga kepulangan agar tidak terjadi kerumunan. “Yang sulit diatur itu saat pulang sekolah dan pergantian sif di sesi kedua masuk yang hanya 30 menit. Itu mengakibatkan kerumanan,” kata Ridwan, Kamis (13/1).

Wakil Satgas Covid-19 kota Surabaya itu juga menyebut faktor terjadinya kerumanan di masa transisi itu karena banyaknya penjemput dan pengantar siswa di sif kedua. PTM 100 persen memang menggunakan dua sif. Sif pertama 50 persen dan sif kedua 50 persen dengan menyesuaikan kondisi sekolah masing-masing.

Baca Juga :  Jadi Kurir Sabu, Kuli Batu Ditangkap

Pihak sekolah juga menyediakan ruang transit untuk digunakan siswa menunggu pembelajaran selanjutnya. Juga orang tua yang menjemput putra-putrinya. “Saat ini kesadaran dalam bermasker baik orang tua, siswa, guru sudah baik. Namun, yang paling sulit adalah mengantisipasi kerumanan,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh menjelaskan bahwa pelaksanaan PTM 100 persen di Kota Surabaya telah mendapat persetujuan dari wali murid atau orang tua siswa. Total diikuti 661 unit sekolah. Yakin 285 SD negeri dan 376 SD swasta. Tingkat SMP sebanyak 331 sekolah dengan 63 SMP negeri dan 268 SMP swasta.

Sedangkan PTM tingkat SD, Yusuf menerangkan belum bisa dilaksanakan secara penuh. Ini karena masih ada sebagian siswa yang belum mengikuti vaksinasi Covid-19 untuk usia 6-11 tahun. Ditambah, adanya penyesuaian terhadap siswa yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Surabaya Menurun, PTM Masih 25 Persen

Terkait evaluasi PTM 100 persen, Yusuf mengatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan rapat koordinasi dengan dinkes dan pakar epidemiologi. “Kami akan terus melakukan yang terbaik untuk anak-anak di Surabaya,” jelasnya.

Sementara itu, pengamat pendidikan Isa Anshori mengusulkan adanya petugas untuk mengatasi kerumanan saat masuk dan pulang sekolah. Terutama di sekolah yang satu kompleks dengan sekolah lainnya. Ia melihat ketika bubaran sekolah jenjang SMA, sering kali terjadi kerumunan.

“Misalnya, di Jalan Pacar dan Wijaya Kusuma. Ini kan kompleks sekolah ada SMP maupun SMA. Jadi, perlu ada petugas yang berjaga untuk mengatasi kerumanan setelah jam pulang sekolah. Kalau ditempatkan beberapa petugas, saya rasa mereka tidak akan berkerumun,” pungkasnya. (rmt/rek)

Most Read

Berita Terbaru


/