alexametrics
25 C
Surabaya
Thursday, January 27, 2022
spot_img

50 Ribu Pekerja di Jatim Terdampak Pandemi Covid-19

spot_img

SURABAYA – Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama dua tahun berdampak signifikan di berbagai sektor. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Himawan Jawa Timur Estu Bagijo menyebut sebanyak 41.384 pekerja di Jawa Timur terdampak pandemi sejak 2020. Angka itu meningkat pada tahun 2021.

“Sekitar 50 ribu jumlah pekerja di Jawa Timur terdampak pandemi Covid-19 tahun 2021,” kata Himawan di Surabaya, Jumat (14/1).

Himawan mengatakan, pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih banyak dilakukan perusahaan-perusahaan yang bergerak pada bidang industri. Bukan hanya pekerja dalam negeri, pekerja yang di-PHK dan dirumahkan juga termasuk pekerja migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur.

“Mayoritas yang dirumahkan adalah pekerja di sektor perhotelan, tempat hiburan, dan restoran,” jelasnya.

Meski demikian, Himawan menambahkan, perusahaan yang bergerak pada bidang perhotelan, tempat hiburan, dan restoran mulai memanggil kembali pekerja yang sempat dirumahkan. Namun, banyak sektor yang belum pulih.

“Dengan harapan agar pekerja yang dirumahkan ini bisa berkerja di tempat lain. Jadi, kerugian akibat pandemi ini bukan hanya dirasakan oleh pekerja tapi juga perusahaan. Cara PHK ini merupakan upaya untuk bertahan agar bisa tetap eksis bagi perusahaan,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2021 sebesar 5,74 persen, atau turun 0,1 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2020. Namun, ada kenaikan 0,57 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono mengatakan, momen libur akhir tahun tanpa adanya PPKM yang ketat ternyata mampu mendongkrak tingkat hunian hotel dengan rata-rata okupansi mencapai 65-70 persen. Terutama di daerah destinasi wisata seperti Malang, Pasuruan, Batu dan Banyuwangi. Bisnis perhotelan pun mulai menggeliat meski belum normal.

“Selain tidak ada PPKM, adanya imbauan pemerintah agar masyarakat tidak berlibur ke luar negeri juga telah membawa berkah. Bukan hanya hotel, restoran juga ikut kecipratan rezeki akhir tahun,” katanya. (mus/rek)

SURABAYA – Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama dua tahun berdampak signifikan di berbagai sektor. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Himawan Jawa Timur Estu Bagijo menyebut sebanyak 41.384 pekerja di Jawa Timur terdampak pandemi sejak 2020. Angka itu meningkat pada tahun 2021.

“Sekitar 50 ribu jumlah pekerja di Jawa Timur terdampak pandemi Covid-19 tahun 2021,” kata Himawan di Surabaya, Jumat (14/1).

Himawan mengatakan, pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih banyak dilakukan perusahaan-perusahaan yang bergerak pada bidang industri. Bukan hanya pekerja dalam negeri, pekerja yang di-PHK dan dirumahkan juga termasuk pekerja migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur.

“Mayoritas yang dirumahkan adalah pekerja di sektor perhotelan, tempat hiburan, dan restoran,” jelasnya.

Meski demikian, Himawan menambahkan, perusahaan yang bergerak pada bidang perhotelan, tempat hiburan, dan restoran mulai memanggil kembali pekerja yang sempat dirumahkan. Namun, banyak sektor yang belum pulih.

“Dengan harapan agar pekerja yang dirumahkan ini bisa berkerja di tempat lain. Jadi, kerugian akibat pandemi ini bukan hanya dirasakan oleh pekerja tapi juga perusahaan. Cara PHK ini merupakan upaya untuk bertahan agar bisa tetap eksis bagi perusahaan,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2021 sebesar 5,74 persen, atau turun 0,1 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2020. Namun, ada kenaikan 0,57 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono mengatakan, momen libur akhir tahun tanpa adanya PPKM yang ketat ternyata mampu mendongkrak tingkat hunian hotel dengan rata-rata okupansi mencapai 65-70 persen. Terutama di daerah destinasi wisata seperti Malang, Pasuruan, Batu dan Banyuwangi. Bisnis perhotelan pun mulai menggeliat meski belum normal.

“Selain tidak ada PPKM, adanya imbauan pemerintah agar masyarakat tidak berlibur ke luar negeri juga telah membawa berkah. Bukan hanya hotel, restoran juga ikut kecipratan rezeki akhir tahun,” katanya. (mus/rek)

Most Read

Berita Terbaru