alexametrics
34 C
Surabaya
Friday, October 22, 2021

Surabaya Punya 142 Taman Aktif dan 311 Taman Pasif

SURABAYA – Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, diamanatkan bahwa proporsi RTH pada kawasan perkotaan minimal 30 persen, yang terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat.

Sedangkan data RTH di Kota Surabaya hingga 2018 lalu, sudah mencapai 21,79 persen atau sama dengan 7.290,53 hektare dari luas wilayah Surabaya. Oleh karena itu di Surabaya saat ini menjadi kota taman yang paling banyak di setiap sudut kota.

Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Anna Fajriatin mengatakan, saat ini terdapat 142 taman aktif dan 311 taman pasif. “Taman pasif merupakan taman yang lokasinya di pulau-pulau jalan, orang tidak bisa berkunjung di situ. Sedangkan taman aktif bisa dikunjungi banyak orang,” katanya.

Di antara taman-taman yang ada di Surabaya seperti taman Bungkul, Keputih, Prestasi, Mundu, Kebun Bibit, dan lain sebagainya.

Adanya ruang terbuka hijau mempunyai pengaruh secara makro sebagai penyeimbang. Wilayah Surabaya Barat dan Timur sebagai paru-paru kota, kemudian ruang terbuka hijau di pusat kota sebagai sumber polutan, artinya polusi di Surabaya lebih banyak bersumber dari kendaraan bermotor, sehingga polusi emisi yang dari pinggiir kota akan berada di tengah kota. “Maka dari itu ruang terbuka hijau baik pasif dan aktif di wilayah Surabaya Barat dan Timur bisa menjadi sapu hijaunya polusi kendaraan,” jelasnya.

Keberadaan taman di Surabaya mulai tertata saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 2010 di awal periode menjabat wali kota. Ketika itu Risma memanfaatkan lahan tidur untuk dijadikan taman sehingga kesan yang tadinya kumuh kini menjadi tertata dan enak dipandang.

Anna memastikan keberadaan taman ini tidak hanya soal estetika kota.  Yang paling penting fungsi taman sebagai paru-paru kota sehingga kualitas udara semkain baik lagi. (rmt/nur)


SURABAYA – Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, diamanatkan bahwa proporsi RTH pada kawasan perkotaan minimal 30 persen, yang terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat.

Sedangkan data RTH di Kota Surabaya hingga 2018 lalu, sudah mencapai 21,79 persen atau sama dengan 7.290,53 hektare dari luas wilayah Surabaya. Oleh karena itu di Surabaya saat ini menjadi kota taman yang paling banyak di setiap sudut kota.

Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Anna Fajriatin mengatakan, saat ini terdapat 142 taman aktif dan 311 taman pasif. “Taman pasif merupakan taman yang lokasinya di pulau-pulau jalan, orang tidak bisa berkunjung di situ. Sedangkan taman aktif bisa dikunjungi banyak orang,” katanya.

Di antara taman-taman yang ada di Surabaya seperti taman Bungkul, Keputih, Prestasi, Mundu, Kebun Bibit, dan lain sebagainya.

Adanya ruang terbuka hijau mempunyai pengaruh secara makro sebagai penyeimbang. Wilayah Surabaya Barat dan Timur sebagai paru-paru kota, kemudian ruang terbuka hijau di pusat kota sebagai sumber polutan, artinya polusi di Surabaya lebih banyak bersumber dari kendaraan bermotor, sehingga polusi emisi yang dari pinggiir kota akan berada di tengah kota. “Maka dari itu ruang terbuka hijau baik pasif dan aktif di wilayah Surabaya Barat dan Timur bisa menjadi sapu hijaunya polusi kendaraan,” jelasnya.

Keberadaan taman di Surabaya mulai tertata saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 2010 di awal periode menjabat wali kota. Ketika itu Risma memanfaatkan lahan tidur untuk dijadikan taman sehingga kesan yang tadinya kumuh kini menjadi tertata dan enak dipandang.

Anna memastikan keberadaan taman ini tidak hanya soal estetika kota.  Yang paling penting fungsi taman sebagai paru-paru kota sehingga kualitas udara semkain baik lagi. (rmt/nur)


Most Read

Berita Terbaru