alexametrics
25 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

Bekuk Dua Penjual Satwa Langka, Macan Tutul Dijual Rp 15 Juta

SURABAYA – Polisi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim membongkar penjualan satwa langka yang dijual melalui media sosial (medsos). Satwa tersebut diperoleh dari pemburu di kawasan hutan Jember.

Dua tersangka dijebloskan ke tahanan Mapolda Jatim di Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Yakni, Vando Rangga, 29, warga Desa Sodo, Pakel, Tulungagung, dan Sarnandy Sofyan Sauri, 25, warga Desa Kamal, Arjasa, Jember, yang tinggal di Desa Glagahwero, Kalisat Jember.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, kasus itu terungkap setelah polisi mendapatkan informasi dari masyarakat adanya penjualan satwa dilindungi melalui medsos. Setelah dilakukan penyelidikan, tersangka Vando asal Tulungagung dicokok.

Pria 29 tahun itu diringkus di rumahnya. Polisi menemukan dua ekor satwa lutung jawa dalam kondisi mati dan hidup. Selain itu, diamankan, seekor satwa binturong dan burung rangkong.

“Setelah menangkap VR, dikembangkan, kemudian mendapati nama SF. Tersangka SF ditangkap di Jember,” ungkap Gatot di Mapolda Jatim, Rabu (13/10).

Dari tersangka SF, disita seekor harimau tutul yang sudah mati dan diformalin (diawetkan). Kemudian dua ekor lutung udang dan dua ekor lutung budeng yang sudah mati. Tak hanya itu. Polisi juga menyita satu ekor binturong, satu ekor julang emas dalam keadaan hidup.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Oki Ahadian Purwono menambahkan, dua orang tersangka memiliki peran yang sama. Mereka mencari hewan langka kemudian dijual kembali lewat media sosial. “Mereka saling melengkapi. Kalau ada yang butuh mereka saling kontak,” terangnya.

Oki menyatakan, satu ekor macan tutul yang sudah diformalin dijual dengan harga Rp 15 juta. “Untuk hewan lain masih kami dalami,” bebernya.

Dalam aksinya, lanjut Oki, tersangka menjual satwa endemik Jawa itu hanya di pasar dalam negeri. Keduanya mendapatkan hewan langka tersebut dari pemburu di hutan kawasan Jember.

“Kami dapatkan beberapa jaringan mereka juga. Kita coba kembangkan,” terangnya. Mantan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya itu menduga masih banyak hewan-hewan langka dalam jaringan mereka yang akan dijualbelikan.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 40 ayat (2) juncto pasal 21 ayat (2) huruf a, b, dan d Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tersangka terancam pidana lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. (rus/rek)


SURABAYA – Polisi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim membongkar penjualan satwa langka yang dijual melalui media sosial (medsos). Satwa tersebut diperoleh dari pemburu di kawasan hutan Jember.

Dua tersangka dijebloskan ke tahanan Mapolda Jatim di Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Yakni, Vando Rangga, 29, warga Desa Sodo, Pakel, Tulungagung, dan Sarnandy Sofyan Sauri, 25, warga Desa Kamal, Arjasa, Jember, yang tinggal di Desa Glagahwero, Kalisat Jember.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, kasus itu terungkap setelah polisi mendapatkan informasi dari masyarakat adanya penjualan satwa dilindungi melalui medsos. Setelah dilakukan penyelidikan, tersangka Vando asal Tulungagung dicokok.

Pria 29 tahun itu diringkus di rumahnya. Polisi menemukan dua ekor satwa lutung jawa dalam kondisi mati dan hidup. Selain itu, diamankan, seekor satwa binturong dan burung rangkong.

“Setelah menangkap VR, dikembangkan, kemudian mendapati nama SF. Tersangka SF ditangkap di Jember,” ungkap Gatot di Mapolda Jatim, Rabu (13/10).

Dari tersangka SF, disita seekor harimau tutul yang sudah mati dan diformalin (diawetkan). Kemudian dua ekor lutung udang dan dua ekor lutung budeng yang sudah mati. Tak hanya itu. Polisi juga menyita satu ekor binturong, satu ekor julang emas dalam keadaan hidup.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Oki Ahadian Purwono menambahkan, dua orang tersangka memiliki peran yang sama. Mereka mencari hewan langka kemudian dijual kembali lewat media sosial. “Mereka saling melengkapi. Kalau ada yang butuh mereka saling kontak,” terangnya.

Oki menyatakan, satu ekor macan tutul yang sudah diformalin dijual dengan harga Rp 15 juta. “Untuk hewan lain masih kami dalami,” bebernya.

Dalam aksinya, lanjut Oki, tersangka menjual satwa endemik Jawa itu hanya di pasar dalam negeri. Keduanya mendapatkan hewan langka tersebut dari pemburu di hutan kawasan Jember.

“Kami dapatkan beberapa jaringan mereka juga. Kita coba kembangkan,” terangnya. Mantan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya itu menduga masih banyak hewan-hewan langka dalam jaringan mereka yang akan dijualbelikan.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 40 ayat (2) juncto pasal 21 ayat (2) huruf a, b, dan d Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tersangka terancam pidana lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. (rus/rek)



Most Read

Berita Terbaru