alexametrics
27 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

HUT Ke-76 Provinsi Jawa Timur: Bangkit untuk Ekonomi Yang Makin Kuat

SURABAYA – Provinsi Jawa Timur berulang tahun yang ke-76, hari ini (12/10). Masih di masa pandemi, ulang tahun kali ini sedikit ada rasa bungah. Perekonomian provinsi paling timur di pulau Jawa ini dilaporkan terus mengalami perbaikan, meskipun pandemi Covid-19 belum benar-benar selesai. Provinsi Jatim terus bangkit di saat negeri ini masih sakit karena pandemi.

Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur terus menunjukkan pergerakan yang semakin progresif di triwulan kedua tahun ini (triwulan II/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, angka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mampu melesat hingga 7,05 persen year on year (YoY).

Terhadap perkembangan tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa syukurnya lantaran di tengah upaya penanganan kasus Covid-19, pertumbuhan ekonomi Jatim justru terdongkrak naik. Sebab, dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II/2021 sebesar 7,05 persen  YoY, Jatim mampu menjadi penyumbang ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta dengan kontribusi 24,93 persen.

Sementara kontribusinya terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar  14,44 persen, Jawa Timur juga menjadi provinsi penyumbang terbesar kedua. “Perkembangan ini menunjukkan bahwa perekonomian Jatim terus bangkit dan mengalami perbaikan meskipun pencapaiannya belum dapat kembali seperti saat sebelum pandemi Covid-19,” katanya.

Pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif sebesar 1,78 persen (q to q) dan meningkat 3,2 persen (c to c) ditopang oleh sejumlah sektor utama. Antara lain berdasarkan lapangan usaha, sektor industri pengolahan berkontribusi paling besar terhadap struktur PDRB Jatim mencapai 30,23 persen dengan laju pertumbuhan 6,85 persen (YoY).

Selanjutnya sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor memberi kontribusi PDRB 18,28 persen dengan laju pertumbuhan 13,64 persen (YoY). Kontribusi tertinggi ketiga pada struktur PDRB Jatim adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan share 12,37 persen dan laju pertumbuhan minus 3,14 persen (YoY).

“PDRB Jatim sesungguhnya ditopang cukup besar oleh sektor pertanian. Namun, masa panen raya yang terjadi di triwulan I menyebabkan kontraksi  pada triwulan II. Agregat demand yang semakin membesar pada triwulan II/2021 ini juga menandai pemulihan ekonomi Jawa Timur yang terindikasi terjadi secara merata. Mulai dari investasi  yang naik 1,77 persen, konsumsi naik 5,24 persen, dan bahkan ekspor mengalami kenaikan tertinggi sebesar 21,16 persen,” paparnya.

Mantan Menteri Sosial ini menegaskan pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak positif ini harus tetap dibarengi dengan upaya maksimal dalam penanganan Covid-19. Karena itu, pemerintah provinsi (pemprov) bersama forum komunikasi pemimpin daerah (forkopimda) Jatim serta stake holder dari berbagai komponen, terus berupaya melakukan percepatan vaksinasi Covid-19 untuk mengejar terwujudnya herd immunity.

“Kita optimis akan dapat menginjak gas lebih kencang lagi jika herd immunity itu sudah tercapai. Namun, rem tetap harus berimbang dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,”  tutur Khofifah.

Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim terus menggerakan ekonomi rakyat untuk kembali tumbuh dan bergerak untuk meningkatkan kesejahteraan  rakyat. Salah satunya yaitu dengan menggerakkan sektor koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Koperasi dan UMKM memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian di Jatim. Kontribusi terhadap PDRB Jatim pada Triwulan II/2021 mencapai 57,25 persen. Sehingga kebangkitan perekonomian Jatim setelah makin melandainya penyebaran Covid-19,  dimulai dari koperasi dan UMKM. “Pentingnya backbone ekonomi ini perlu mendapatkan penguatan di saat kondisi Covid-19 sudah makin terkendali. Apalagi kontribusi UMKM terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim mencapai 57,25 persen. Pertumbuhan ekonomi di Jatim pada semester I/2021 mencapai 7,05 persen. Ke depan harapannya perekonomian di Jatim semakin bergerak meningkat dan bisa terdongkrak di triwulan IV Tahun 2021,” paparnya.

Menurut Khofifah, pergerakan sektor ekonomi maupun transportasi publik ini mulai terjadi pada bulan September. Dari angka pertumbuhan ekonomi tersebut, tentu diharapkan bisa terdongkrak di triwulan IV. “Pasalnya, pada triwulan III terdapat PPKM Darurat pada Juli dan PPKM Berlevel pada Agustus,”  jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Khofifah mengingatkan kepada semua pihak untuk menjaga hulu penanganan Covid-19 ketika suasana sudah melandai seperti saat ini. Hulu penanganan Covid-19 yang dimaksud seperti tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan vaksinasi. “Karena Covid-19 ini beriringan dengan mobilitas . Jika interaksi masyarakat tinggi, jika  tidak diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat  bisa berpotensi penyebaran juga tinggi. Karena itu suasana yang sudah melandai seperti ini harus tetap disiplin prokes dan mempercepat vaksinasi. Tetap  harus waspada,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Wagub Emil Elestianto Dardak. Ia menyebut penurunan kasus penyebaran Covid-19 dapat menumbuhkan optimisme dalam pertumbuhan ekonomi di Jatim. “Periode Januari ke Juni kita mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang baik, namun kita harus realistis dengan prospek di kuartal ketiga dampak dari adanya pembatasan,” ungkapnya.

Namun September, menurutnya ada recovery sangat cepat. Menurut Emil, marketing merupakan elemen yang sangat penting dan mendorong hal tersebut kedalam market digital. “Dulu mengandalkan direct sale sekarang harus mulai mensuplemen penjualan melalui market digital sementara itu diferensiasinya sangat penting melihat persaingan produk lain yang sangat banyak,” katanya. (mus/opi)


SURABAYA – Provinsi Jawa Timur berulang tahun yang ke-76, hari ini (12/10). Masih di masa pandemi, ulang tahun kali ini sedikit ada rasa bungah. Perekonomian provinsi paling timur di pulau Jawa ini dilaporkan terus mengalami perbaikan, meskipun pandemi Covid-19 belum benar-benar selesai. Provinsi Jatim terus bangkit di saat negeri ini masih sakit karena pandemi.

Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur terus menunjukkan pergerakan yang semakin progresif di triwulan kedua tahun ini (triwulan II/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, angka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mampu melesat hingga 7,05 persen year on year (YoY).

Terhadap perkembangan tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa syukurnya lantaran di tengah upaya penanganan kasus Covid-19, pertumbuhan ekonomi Jatim justru terdongkrak naik. Sebab, dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II/2021 sebesar 7,05 persen  YoY, Jatim mampu menjadi penyumbang ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta dengan kontribusi 24,93 persen.

Sementara kontribusinya terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar  14,44 persen, Jawa Timur juga menjadi provinsi penyumbang terbesar kedua. “Perkembangan ini menunjukkan bahwa perekonomian Jatim terus bangkit dan mengalami perbaikan meskipun pencapaiannya belum dapat kembali seperti saat sebelum pandemi Covid-19,” katanya.

Pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif sebesar 1,78 persen (q to q) dan meningkat 3,2 persen (c to c) ditopang oleh sejumlah sektor utama. Antara lain berdasarkan lapangan usaha, sektor industri pengolahan berkontribusi paling besar terhadap struktur PDRB Jatim mencapai 30,23 persen dengan laju pertumbuhan 6,85 persen (YoY).

Selanjutnya sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor memberi kontribusi PDRB 18,28 persen dengan laju pertumbuhan 13,64 persen (YoY). Kontribusi tertinggi ketiga pada struktur PDRB Jatim adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan share 12,37 persen dan laju pertumbuhan minus 3,14 persen (YoY).

“PDRB Jatim sesungguhnya ditopang cukup besar oleh sektor pertanian. Namun, masa panen raya yang terjadi di triwulan I menyebabkan kontraksi  pada triwulan II. Agregat demand yang semakin membesar pada triwulan II/2021 ini juga menandai pemulihan ekonomi Jawa Timur yang terindikasi terjadi secara merata. Mulai dari investasi  yang naik 1,77 persen, konsumsi naik 5,24 persen, dan bahkan ekspor mengalami kenaikan tertinggi sebesar 21,16 persen,” paparnya.

Mantan Menteri Sosial ini menegaskan pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak positif ini harus tetap dibarengi dengan upaya maksimal dalam penanganan Covid-19. Karena itu, pemerintah provinsi (pemprov) bersama forum komunikasi pemimpin daerah (forkopimda) Jatim serta stake holder dari berbagai komponen, terus berupaya melakukan percepatan vaksinasi Covid-19 untuk mengejar terwujudnya herd immunity.

“Kita optimis akan dapat menginjak gas lebih kencang lagi jika herd immunity itu sudah tercapai. Namun, rem tetap harus berimbang dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,”  tutur Khofifah.

Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim terus menggerakan ekonomi rakyat untuk kembali tumbuh dan bergerak untuk meningkatkan kesejahteraan  rakyat. Salah satunya yaitu dengan menggerakkan sektor koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Koperasi dan UMKM memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian di Jatim. Kontribusi terhadap PDRB Jatim pada Triwulan II/2021 mencapai 57,25 persen. Sehingga kebangkitan perekonomian Jatim setelah makin melandainya penyebaran Covid-19,  dimulai dari koperasi dan UMKM. “Pentingnya backbone ekonomi ini perlu mendapatkan penguatan di saat kondisi Covid-19 sudah makin terkendali. Apalagi kontribusi UMKM terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim mencapai 57,25 persen. Pertumbuhan ekonomi di Jatim pada semester I/2021 mencapai 7,05 persen. Ke depan harapannya perekonomian di Jatim semakin bergerak meningkat dan bisa terdongkrak di triwulan IV Tahun 2021,” paparnya.

Menurut Khofifah, pergerakan sektor ekonomi maupun transportasi publik ini mulai terjadi pada bulan September. Dari angka pertumbuhan ekonomi tersebut, tentu diharapkan bisa terdongkrak di triwulan IV. “Pasalnya, pada triwulan III terdapat PPKM Darurat pada Juli dan PPKM Berlevel pada Agustus,”  jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Khofifah mengingatkan kepada semua pihak untuk menjaga hulu penanganan Covid-19 ketika suasana sudah melandai seperti saat ini. Hulu penanganan Covid-19 yang dimaksud seperti tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan vaksinasi. “Karena Covid-19 ini beriringan dengan mobilitas . Jika interaksi masyarakat tinggi, jika  tidak diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat  bisa berpotensi penyebaran juga tinggi. Karena itu suasana yang sudah melandai seperti ini harus tetap disiplin prokes dan mempercepat vaksinasi. Tetap  harus waspada,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Wagub Emil Elestianto Dardak. Ia menyebut penurunan kasus penyebaran Covid-19 dapat menumbuhkan optimisme dalam pertumbuhan ekonomi di Jatim. “Periode Januari ke Juni kita mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang baik, namun kita harus realistis dengan prospek di kuartal ketiga dampak dari adanya pembatasan,” ungkapnya.

Namun September, menurutnya ada recovery sangat cepat. Menurut Emil, marketing merupakan elemen yang sangat penting dan mendorong hal tersebut kedalam market digital. “Dulu mengandalkan direct sale sekarang harus mulai mensuplemen penjualan melalui market digital sementara itu diferensiasinya sangat penting melihat persaingan produk lain yang sangat banyak,” katanya. (mus/opi)



Most Read

Berita Terbaru