alexametrics
28 C
Surabaya
Tuesday, May 24, 2022

Revitalisasi Jembatan Bambu di Wonorejo Diharapkan Dimulai Tahun Depan

SURABAYA – Revitalisasi jembatan bambu di kawasan wisata Mangrove Wonorejo yang saat ini kondisinya rusak diharapkan bisa dimulai pada 2022.

Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Kota Surabaya Alfian Limardi mengatakan, pada 2022, ada anggaran untuk pembangunan, rehabilitasi, dan pemeliharaan taman hutan raya sebesar Rp 18 miliar. “Kami berharap itu dapat digunakan secara optimal memperbaiki fasilitas wisata,” katanya.

Apalagi, lanjut dia, tahun depan memasuki masa pemulihan ekonomi, sehingga wisata mangrove ini diharapkan menjadi salah satu daya tarik yang dapat menggerakkan ekonomi. “Kolaborasi pendanaan dengan swasta melalui CSR juga perlu dipertimbangkan supaya kawasan mangrove semakin baik,” katanya.

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya menyayangkan jembatan bambu dengan panjang 600 meter dan tinggi 12 meter serta menelan biaya Rp 1,2 miliar itu rusak.

Baca Juga :  Kejahatan Konvensional Masih Dominan, Laporan Terselesaikan 48 Persen

Semestinya, kata dia, dengan anggaran tersebut, Pemkot Surabaya sudah melakukan kajian kelayakan, mulai dari perkiraan usia jembatan hingga biaya perawatan setiap tahunnya. Baru satu tahun dibangun, sekarang sudah rusak. “Ke depannya, pembangunan perlu dievaluasi secara serius,” kata Alfian.

Ia menambahkan, kawasan wisata mangrove yang berada di kawasan pesisir akan selalu tergenang air sehingga diperlukan konstruksi dan material khusus untuk jembatan tersebut. Estetika memang penting, tapi yang mesti diprioritaskan adalah kualitas, keamanan, dan kemampuan menekan biaya perawatan setiap tahun.

“Tidak apa mengeluarkan anggaran sedikit besar di awal, yang penting jembatannya awet, aman, dan perawatannya lebih murah. Coba kita belajar konsep kawasan wisata mangrove di kota lain yang menggunakan kayu ulin untuk membangun jembatan. Kayu ulin memang cocok di lahan basah. Tidak dipungkiri memang pembangunan di lahan basah lebih mahal dibanding lahan kering,” katanya.

Baca Juga :  Dokter Kandungan RSUD Dipolisikan Lagi

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemerintah Kota Surabaya Yuniarto Herlambang sebelumnya mengatakan, kerusakan jembatan bambu tersebut belum diperbaiki karena saat itu belum ada anggaran.

Jembatan bambu di kawasan wisata Wonorejo dibangun pada Mei 2018. Pembangunan jembatan tahap pertama dilanjutkan pada akhir Desember 2018 dan tahap kedua hingga selanjutnya dilakukan pada pertengahan tahun 2019. Jembatan gantung yang dibangun menggunakan bambu petung itu menghubungkan Mangrove Information Center dengan area jogging di kawasan wisata mangrove Wonorejo. (ant/nur)

SURABAYA – Revitalisasi jembatan bambu di kawasan wisata Mangrove Wonorejo yang saat ini kondisinya rusak diharapkan bisa dimulai pada 2022.

Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Kota Surabaya Alfian Limardi mengatakan, pada 2022, ada anggaran untuk pembangunan, rehabilitasi, dan pemeliharaan taman hutan raya sebesar Rp 18 miliar. “Kami berharap itu dapat digunakan secara optimal memperbaiki fasilitas wisata,” katanya.

Apalagi, lanjut dia, tahun depan memasuki masa pemulihan ekonomi, sehingga wisata mangrove ini diharapkan menjadi salah satu daya tarik yang dapat menggerakkan ekonomi. “Kolaborasi pendanaan dengan swasta melalui CSR juga perlu dipertimbangkan supaya kawasan mangrove semakin baik,” katanya.

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya menyayangkan jembatan bambu dengan panjang 600 meter dan tinggi 12 meter serta menelan biaya Rp 1,2 miliar itu rusak.

Baca Juga :  Jalan Dinoyo Dipantau, Bertetangga Jadi Pengedar dan Pemakai Narkoba

Semestinya, kata dia, dengan anggaran tersebut, Pemkot Surabaya sudah melakukan kajian kelayakan, mulai dari perkiraan usia jembatan hingga biaya perawatan setiap tahunnya. Baru satu tahun dibangun, sekarang sudah rusak. “Ke depannya, pembangunan perlu dievaluasi secara serius,” kata Alfian.

Ia menambahkan, kawasan wisata mangrove yang berada di kawasan pesisir akan selalu tergenang air sehingga diperlukan konstruksi dan material khusus untuk jembatan tersebut. Estetika memang penting, tapi yang mesti diprioritaskan adalah kualitas, keamanan, dan kemampuan menekan biaya perawatan setiap tahun.

“Tidak apa mengeluarkan anggaran sedikit besar di awal, yang penting jembatannya awet, aman, dan perawatannya lebih murah. Coba kita belajar konsep kawasan wisata mangrove di kota lain yang menggunakan kayu ulin untuk membangun jembatan. Kayu ulin memang cocok di lahan basah. Tidak dipungkiri memang pembangunan di lahan basah lebih mahal dibanding lahan kering,” katanya.

Baca Juga :  Dokter Kandungan RSUD Dipolisikan Lagi

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemerintah Kota Surabaya Yuniarto Herlambang sebelumnya mengatakan, kerusakan jembatan bambu tersebut belum diperbaiki karena saat itu belum ada anggaran.

Jembatan bambu di kawasan wisata Wonorejo dibangun pada Mei 2018. Pembangunan jembatan tahap pertama dilanjutkan pada akhir Desember 2018 dan tahap kedua hingga selanjutnya dilakukan pada pertengahan tahun 2019. Jembatan gantung yang dibangun menggunakan bambu petung itu menghubungkan Mangrove Information Center dengan area jogging di kawasan wisata mangrove Wonorejo. (ant/nur)

Most Read

Berita Terbaru


/