28.3 C
Surabaya
Tuesday, May 30, 2023

Revitalisasi Kota Lama Meromansakan Jalan Karet

Pengecatan Tiang Lampu di Jalan Karet Disesuaikan dengan Karakter Pecinan

SURABAYA – Pemkot Surabaya saat ini tengah fokus pada pengembangan wisata kota lama. Salah satunya yang menjadi fokus pemkot adalah menghidupkan kembali Jalan Karet. Kini jalan yang ada di kawasan Pecinan itu kembali bersolek.

Setelah ditambah dengan bolard beberapa waktu lalu, kini Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya melakukan pengecatan tiang lampu hias yang ada di sepanjang Jalan Karet.

Kepala Bidang Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya Iman Krestian Maharhandono mengatakan, pihaknya saat ini melakukan mockup dengan mengecat tiang lampu hias dengan warna merah yang mengambarkan nuansa Pecinan.

“Ya ini masih kami lakukan mockup atau gambaran nyata terkait konsep yang tengah diolah. Agar nanti kita bisa mengetahui cocok atau tidaknya warna itu dengan nuansa Pecinan. Sehingga baru satu yang kami cat,” kata Iman.

Apabila nanti konsep nuansa Pecinan itu sudah cocok, maka pihaknya akan meneruskan kembali untuk bagian lainnya. “Kalau sudah ok, kami akan teruskan lagi. Jadi kami evalusi terus. Agar bener-benar tidak menghilangkan nuansa atau kultur kawasan tersebut,” terangnya.

Baca Juga :  Dukung Karet Romansa, Kumpulkan Warga dan Pemilik Bangunan di Kantor Radar Surabaya

Selain mengecat lampu hias, pihaknya akan membuat mural di bangunan tua yang ada di sana. “Kendalanya ada dipenggabungan gambar (mural) dengan arsitektur bangunan lawasnya. Sehingga kami sering turun untuk merealisasikan konsep Pecinan dengan nuansa yang asli,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Dekorasi Kota Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Myrna Augusta Aditya Dewi mengatakan, pemasangan bolard saat ini sudah hampir rampung. Bolard tersebut yang akan dipasang berjumlah 20 bola. Sedangkan yang baru dipasang 12 bola. “Kami masih bertahap untuk pemasangan bolard-nya. Baru 12 bola. Mungkin dalam minggu ini kami akan pasang lagi,” terangnya.

Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal mengatakan, pihaknya juga meminta dinas terkait untuk melakukan pengaspalan jalan. Oleh karena itu pihaknya menargetkan Agustus mendatang kawasan Pecinan itu sudah bisa menjadi daya tarik masyarakat. “Maksimal Agustus sudah rampung semua untuk pembenahan Jalan Karet,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kompor Ngebros, Warkop di Wonokusumo Terbakar

Ia juga memastikan tidak akan merubah kultur Pecinan di kawasan tersebut. Malahan, ia akan menghidupkan kembali nuansa Pecinan yang disesuaikan dengan kawasan tersebut. Sehingga bisa menjadi daya tarik pengunjung maupun wisatawan. “Nanti produk UMKM juga menjual khas Pecinan, seperti ada kue keranjang. Kemudian ada barongsai hingga musik khas Tionghoa juga ada di situ,” terangnya.

Sebelumnya, pegiat sejarah Freddy H. Istanto mengatakan bahwa dalam revitalisasi Jalan Karet perlu dikuatkan karakter yang ada, yakni karakter pecinan. Sehingga karakter romansa pecinan tersebut yang bisa dinikmati oleh masyarakat. “Yang paling utama untuk menata Jalan Karet jangan salah. Jangan sampai menggunakan ornamen atau tetenger yang tidak sesuai dengan kultur pecinan,” kata Freddy.

Karakter kawasan baginya bisa menjadi daya tarik masyarakat untuk mengenang sejarah di kawasan tersebut. “Jadi jangan disamaratakan dengan Jalan Tunjungan, maupun Jalan Panggung,” imbuhnya. (rmt/nur)

SURABAYA – Pemkot Surabaya saat ini tengah fokus pada pengembangan wisata kota lama. Salah satunya yang menjadi fokus pemkot adalah menghidupkan kembali Jalan Karet. Kini jalan yang ada di kawasan Pecinan itu kembali bersolek.

Setelah ditambah dengan bolard beberapa waktu lalu, kini Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya melakukan pengecatan tiang lampu hias yang ada di sepanjang Jalan Karet.

Kepala Bidang Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya Iman Krestian Maharhandono mengatakan, pihaknya saat ini melakukan mockup dengan mengecat tiang lampu hias dengan warna merah yang mengambarkan nuansa Pecinan.

“Ya ini masih kami lakukan mockup atau gambaran nyata terkait konsep yang tengah diolah. Agar nanti kita bisa mengetahui cocok atau tidaknya warna itu dengan nuansa Pecinan. Sehingga baru satu yang kami cat,” kata Iman.

Apabila nanti konsep nuansa Pecinan itu sudah cocok, maka pihaknya akan meneruskan kembali untuk bagian lainnya. “Kalau sudah ok, kami akan teruskan lagi. Jadi kami evalusi terus. Agar bener-benar tidak menghilangkan nuansa atau kultur kawasan tersebut,” terangnya.

Baca Juga :  Penyelundupan Narkoba untuk Hancurkan Generasi Muda Masa Depan Bangsa

Selain mengecat lampu hias, pihaknya akan membuat mural di bangunan tua yang ada di sana. “Kendalanya ada dipenggabungan gambar (mural) dengan arsitektur bangunan lawasnya. Sehingga kami sering turun untuk merealisasikan konsep Pecinan dengan nuansa yang asli,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Dekorasi Kota Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Myrna Augusta Aditya Dewi mengatakan, pemasangan bolard saat ini sudah hampir rampung. Bolard tersebut yang akan dipasang berjumlah 20 bola. Sedangkan yang baru dipasang 12 bola. “Kami masih bertahap untuk pemasangan bolard-nya. Baru 12 bola. Mungkin dalam minggu ini kami akan pasang lagi,” terangnya.

Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal mengatakan, pihaknya juga meminta dinas terkait untuk melakukan pengaspalan jalan. Oleh karena itu pihaknya menargetkan Agustus mendatang kawasan Pecinan itu sudah bisa menjadi daya tarik masyarakat. “Maksimal Agustus sudah rampung semua untuk pembenahan Jalan Karet,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kompor Ngebros, Warkop di Wonokusumo Terbakar

Ia juga memastikan tidak akan merubah kultur Pecinan di kawasan tersebut. Malahan, ia akan menghidupkan kembali nuansa Pecinan yang disesuaikan dengan kawasan tersebut. Sehingga bisa menjadi daya tarik pengunjung maupun wisatawan. “Nanti produk UMKM juga menjual khas Pecinan, seperti ada kue keranjang. Kemudian ada barongsai hingga musik khas Tionghoa juga ada di situ,” terangnya.

Sebelumnya, pegiat sejarah Freddy H. Istanto mengatakan bahwa dalam revitalisasi Jalan Karet perlu dikuatkan karakter yang ada, yakni karakter pecinan. Sehingga karakter romansa pecinan tersebut yang bisa dinikmati oleh masyarakat. “Yang paling utama untuk menata Jalan Karet jangan salah. Jangan sampai menggunakan ornamen atau tetenger yang tidak sesuai dengan kultur pecinan,” kata Freddy.

Karakter kawasan baginya bisa menjadi daya tarik masyarakat untuk mengenang sejarah di kawasan tersebut. “Jadi jangan disamaratakan dengan Jalan Tunjungan, maupun Jalan Panggung,” imbuhnya. (rmt/nur)

Most Read

Berita Terbaru