alexametrics
28 C
Surabaya
Tuesday, May 24, 2022

Tim Unair Ciptakan Fototerapi di Rumah untuk Bayi Kuning

SURABAYA Bayi kuning atau dalam dunia kedokteran disebut Hiperbilirubinemia  menjadi permasalahan yang sering terjadi pada bayi baru lahir.

Ini diakibatkan karena bayi baru lahir belum mampu untuk menyaring bilirubin seperti tubuh orang dewasa. Bilirubin adalah zat limbah yang terbentuk akibat dari proses perombakan sel darah merah.

Hiperbilirubinemia menjadi penyebab kematian nomor lima  di Indonesia pada bayi baru lahir. Permasalahan ini mengakibatkan 60 sampai 80 persen bayi harus dirawat di rumah sakit pada 7 hari pertama kehidupannya. Saat di rumah sakit bayi akan diberi berbagai penanganan untuk mengatasi hiperbilirubinemia, salah satunya adalah fototerapi.

Namun pandemi Covid-19 yang terjadi menjadikan orang tua khawatir untuk memberikan perawatan fototerapi di rumah sakit. Selain itu pemberian fototerapi yang sesuai dengan dosis dan keadaan bayi menjadi indikator percepatan pemulihan bayi.

Demi menjawab keresahan yang ada, civitas akademika Universitas Airlangga (Unair) yakni: dr. Mahendra Tri Arif Sampurna., SpA(K)., PhD. dari Fakultas Kedokteran; Andi Hamim Zaidan, ST, MSi, PhD. dari Fakultas Sains dan Teknologi; Dr. Muhammad Nafik Ryandono, SE., MSi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis; serta Arya Satya Rajanagara, S.Ked dari Fakultas Kedokteran, berkolaborasi guna menciptakan sebuah inovasi yang diberi nama Smart Phototherapy System Airlangga Bilirubin Nesting (AirBiliNest).

Baca Juga :  Nekat Transaksi di Depan Masjid, Hendak Kabur Ternyata Sudah Dikepung

“Inovasi ini merupakan inovasi sistem fototerapi pintar yang dilengkapi dengan kalkulator, adjusted dose, portable yang memungkinkan untuk dilakukan fototerapi efektif di rumah,” kata Arya.

Uniknya inovasi ini memberikan lingkungan yang mirip seperti rahim sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada bayi terlebih pada bayi yang lahir prematur. Inovasi ini sekaligus membantu bayi untuk menguatkan otot-otot dengan bantuan bantalan di bagian bawah perangkat.

Tidak hanya sampai itu saja, inovasi ini juga bisa mencegah terjadinya luka dekubitus pada bayi serta membantu bayi untuk melakukan gerakan-gerakan spontan seperti menggenggam tangan, menghisap jari, atau berpegangan pada tempat tidur.

Material yang digunakan dilengkapi dengan serat optik yang bersifat hipoalergi dan lembut serta penempatan material yang sesuai sehingga dapat meminimalkan pancaran sinar biru di siang hari.

Baca Juga :  BRI Bangun Posko Bencana dan Kirim Sembako untuk Korban Banjir Pantura

Dengan ditemukannya inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas fototerapi pada penyembuhan hiperbilirubinemia.

Inovasi yang berada dibawah pembinaan Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Unair ini berhasil meraih pendanaan sebesar Rp 250 juta oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 10 Desember 2021 lalu.

“Saat ini sedang pengembangan. Target ke depan supaya inovasi ini bisa diterima dan mendapat surat izin edar dan bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas Arya. (rmt/pps/rak) 

 

SURABAYA Bayi kuning atau dalam dunia kedokteran disebut Hiperbilirubinemia  menjadi permasalahan yang sering terjadi pada bayi baru lahir.

Ini diakibatkan karena bayi baru lahir belum mampu untuk menyaring bilirubin seperti tubuh orang dewasa. Bilirubin adalah zat limbah yang terbentuk akibat dari proses perombakan sel darah merah.

Hiperbilirubinemia menjadi penyebab kematian nomor lima  di Indonesia pada bayi baru lahir. Permasalahan ini mengakibatkan 60 sampai 80 persen bayi harus dirawat di rumah sakit pada 7 hari pertama kehidupannya. Saat di rumah sakit bayi akan diberi berbagai penanganan untuk mengatasi hiperbilirubinemia, salah satunya adalah fototerapi.

Namun pandemi Covid-19 yang terjadi menjadikan orang tua khawatir untuk memberikan perawatan fototerapi di rumah sakit. Selain itu pemberian fototerapi yang sesuai dengan dosis dan keadaan bayi menjadi indikator percepatan pemulihan bayi.

Demi menjawab keresahan yang ada, civitas akademika Universitas Airlangga (Unair) yakni: dr. Mahendra Tri Arif Sampurna., SpA(K)., PhD. dari Fakultas Kedokteran; Andi Hamim Zaidan, ST, MSi, PhD. dari Fakultas Sains dan Teknologi; Dr. Muhammad Nafik Ryandono, SE., MSi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis; serta Arya Satya Rajanagara, S.Ked dari Fakultas Kedokteran, berkolaborasi guna menciptakan sebuah inovasi yang diberi nama Smart Phototherapy System Airlangga Bilirubin Nesting (AirBiliNest).

Baca Juga :  Polisi Obrak Puluhan Pemuda-Pemudi Asik Pesta Miras

“Inovasi ini merupakan inovasi sistem fototerapi pintar yang dilengkapi dengan kalkulator, adjusted dose, portable yang memungkinkan untuk dilakukan fototerapi efektif di rumah,” kata Arya.

Uniknya inovasi ini memberikan lingkungan yang mirip seperti rahim sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada bayi terlebih pada bayi yang lahir prematur. Inovasi ini sekaligus membantu bayi untuk menguatkan otot-otot dengan bantuan bantalan di bagian bawah perangkat.

Tidak hanya sampai itu saja, inovasi ini juga bisa mencegah terjadinya luka dekubitus pada bayi serta membantu bayi untuk melakukan gerakan-gerakan spontan seperti menggenggam tangan, menghisap jari, atau berpegangan pada tempat tidur.

Material yang digunakan dilengkapi dengan serat optik yang bersifat hipoalergi dan lembut serta penempatan material yang sesuai sehingga dapat meminimalkan pancaran sinar biru di siang hari.

Baca Juga :  Berawal Bakar Sampah, Gudang Mainan Sumber Rejeki Varia Ludes Terbakar

Dengan ditemukannya inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas fototerapi pada penyembuhan hiperbilirubinemia.

Inovasi yang berada dibawah pembinaan Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Unair ini berhasil meraih pendanaan sebesar Rp 250 juta oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 10 Desember 2021 lalu.

“Saat ini sedang pengembangan. Target ke depan supaya inovasi ini bisa diterima dan mendapat surat izin edar dan bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas Arya. (rmt/pps/rak) 

 

Most Read

Berita Terbaru


/