alexametrics
26 C
Surabaya
Wednesday, December 8, 2021
spot_img

523 Anak Ikut Seleksi Diklat Sepak Bola di Surabaya  

SURABAYA – Sebanyak 523 anak berusia 13, 14, dan 15 tahun mengikuti seleksi diklat sepak bola di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Jumat (8/10). Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya M. Afghani Wardhana mengatakan, seleksi kali ini diikuti 523 anak. Nantinya akan dipilih 60 pemain berbakat untuk didiklat oleh Pemkot Surabaya bersama tim pelatih.

“Mereka diseleksi oleh Hanafing bersama timnya. Bahkan, ke depan tim seleksi akan melibatkan pemain-pemain legenda dari Persebaya,” katanya.

Menurut dia, dalam seleksi ini akan diambil 60 anak untuk ikut diklat sepak bola Surabaya. Mereka akan mengikuti program ini seminggu tiga kali, yaitu pada Jumat, Sabtu, dan Minggu, sehingga tidak mengganggu program mereka di klub mereka masing-masing. Ini karena ada beberapa yang sudah ikut klub.

Afghani mengatakan, Surabaya sebagai barometer persepakbolaan nasional yang sudah berjaya di masa lalu dan sangat luar biasa, akan diaktualisasikan kembali dan dibangkitkan kembali ke depannya. Sesuai dengan arahan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Diklat Sepak Bola Surabaya ini dapat mengembangkan talenta anak-anak Surabaya dalam dunia sepak bola.

“Kami berharap para peserta diklat ini bisa mewarnai persepakbolaan di tanah air ini dan akan lahir Supriyadi-Supriyadi baru dari diklat ini. Dulu Supriyadi juga diasah dari klub-klub binaan hingga pernah kita ikutkan pelatihan ke Liverpool. Kini Supriyadi sudah menjadi pemain yang profesional di tanah air,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Seleksi Hanafing mengatakan, tujuan diklat ini untuk mencetak pemain-pemain terbaik yang ada di Kota Surabaya. Bahkan, ia juga menargetkan anak-anak yang tergabung dalam diklat ini bisa menjadi timnasnya Kota Surabaya. “Jadi, kami mengarah ke sana, sehingga kalau nanti ada seleksi timnas, anak-anak ini mudah ke sana,” kata Hanafing.

Ia juga memastikan bahwa dalam diklat nanti akan membuat program Filanesia atau filosofi sepak bola Indonesia. Program inilah yang ada di timnas Indonesia saat ini, karena dia juga terlibat di dalamnya. “Jadi, itu yang kami tanamkan sejak usia muda. Kenapa kamu buat diklat? Karena memang banyak klub-klub di Surabaya yang belum memberikan sistem pembinaan yang Filanesia. Ini yang belum banyak dipahami oleh anak-anak kita,” kata mantan pemain Niac Mitra itu.

Hanafing menegaskan, jika salah melakukan pembinaan di usia 13 dan 15, maka anak-anak berbakat itu akan sulit menjadi pemain hebat. Sebab, sepak bola sekarang berbeda dengan sepak bola dulu yang selalu mengandalkan bakat, tapi kalau sekarang mengandalkan teknologi. (ant/rek)


SURABAYA – Sebanyak 523 anak berusia 13, 14, dan 15 tahun mengikuti seleksi diklat sepak bola di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Jumat (8/10). Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya M. Afghani Wardhana mengatakan, seleksi kali ini diikuti 523 anak. Nantinya akan dipilih 60 pemain berbakat untuk didiklat oleh Pemkot Surabaya bersama tim pelatih.

“Mereka diseleksi oleh Hanafing bersama timnya. Bahkan, ke depan tim seleksi akan melibatkan pemain-pemain legenda dari Persebaya,” katanya.

Menurut dia, dalam seleksi ini akan diambil 60 anak untuk ikut diklat sepak bola Surabaya. Mereka akan mengikuti program ini seminggu tiga kali, yaitu pada Jumat, Sabtu, dan Minggu, sehingga tidak mengganggu program mereka di klub mereka masing-masing. Ini karena ada beberapa yang sudah ikut klub.

Afghani mengatakan, Surabaya sebagai barometer persepakbolaan nasional yang sudah berjaya di masa lalu dan sangat luar biasa, akan diaktualisasikan kembali dan dibangkitkan kembali ke depannya. Sesuai dengan arahan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Diklat Sepak Bola Surabaya ini dapat mengembangkan talenta anak-anak Surabaya dalam dunia sepak bola.

“Kami berharap para peserta diklat ini bisa mewarnai persepakbolaan di tanah air ini dan akan lahir Supriyadi-Supriyadi baru dari diklat ini. Dulu Supriyadi juga diasah dari klub-klub binaan hingga pernah kita ikutkan pelatihan ke Liverpool. Kini Supriyadi sudah menjadi pemain yang profesional di tanah air,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Seleksi Hanafing mengatakan, tujuan diklat ini untuk mencetak pemain-pemain terbaik yang ada di Kota Surabaya. Bahkan, ia juga menargetkan anak-anak yang tergabung dalam diklat ini bisa menjadi timnasnya Kota Surabaya. “Jadi, kami mengarah ke sana, sehingga kalau nanti ada seleksi timnas, anak-anak ini mudah ke sana,” kata Hanafing.

Ia juga memastikan bahwa dalam diklat nanti akan membuat program Filanesia atau filosofi sepak bola Indonesia. Program inilah yang ada di timnas Indonesia saat ini, karena dia juga terlibat di dalamnya. “Jadi, itu yang kami tanamkan sejak usia muda. Kenapa kamu buat diklat? Karena memang banyak klub-klub di Surabaya yang belum memberikan sistem pembinaan yang Filanesia. Ini yang belum banyak dipahami oleh anak-anak kita,” kata mantan pemain Niac Mitra itu.

Hanafing menegaskan, jika salah melakukan pembinaan di usia 13 dan 15, maka anak-anak berbakat itu akan sulit menjadi pemain hebat. Sebab, sepak bola sekarang berbeda dengan sepak bola dulu yang selalu mengandalkan bakat, tapi kalau sekarang mengandalkan teknologi. (ant/rek)



Most Read

Berita Terbaru