alexametrics
Sabtu, 31 Jul 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

84 Anak Meninggal karena Covid, Klaster Keluarga Masih Dominan

19 Juli 2021, 01: 15: 34 WIB | editor : Wijayanto

PASIEN ANAK: Sejumlah anak yang terpapar COVID-19, dirawat di RS Lapangan Indrapura Surabaya bersama orang tuanya.

PASIEN ANAK: Sejumlah anak yang terpapar COVID-19, dirawat di RS Lapangan Indrapura Surabaya bersama orang tuanya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat belum bisa menekan kasus Covid-19. Bahkan, jumlah penambahan kasusnya tingkat nasional sangat tinggi.

Berdasarkan laporan Komite Penanganan Covid-19 Nasional dalam Covid19.go.id per  14 Juli 2021 tercatat jumlah kasus terkonfirmasi positif di Jawa Timur sebanyak 203.372 kasus (7,6 persen kontribusi nasional). Dengan 17.794 kasus pada anak-anak (di bawah usia 18 tahun).

"Dari 203.372 kasus positif di Jawa Timur tersebut, terdapat 14.445 jiwa yang meninggal dunia. Dan, dari jumlah jiwa yang meninggal tersebut 84 jiwa adalah anak-anak (43 anak usia 0-5 tahun, 41 anak usia 6–18 tahun)," ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim Dr Andriyanto, Jumat (16/7).

Baca juga: Sosiolog: Sanksi Pelanggar PPKM Lebih Humanis Jadikan Mereka Relawan

Menurut dia, lonjakan kasus Covid-19 di Jawa Timur ini banyak terjadi pada klaster keluarga. Klaster keluarga adalah penyebaran virus corona yang berasal dari anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah. Biasanya, penyebaran berawal dari seseorang yang sudah lebih dahulu tertular lalu menularkannya pada anggota keluarga lain. 

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan klaster keluarga semakin masif. Di antaranya, membiarkan anak-anak bersama di lingkungan kompleks atau perumahan tanpa protokol kesehatan," jelas Andriyanto.

Kemudian, kegiatan berkumpul warga pun menjadi cara virus corona menyebar dari satu orang yang terinfeksi ke orang lain dengan mudah. Nah, biasanya saat warga sudah berkumpul, jaga jarak sulit sekali diterapkan.

"Melakukan liburan, piknik, atau jalan-jalan ke tempat publik yang ramai juga meningkatkan risiko klaster keluarga bisa terjadi. Sebab, anggota keluarga berpotensi membawa virus saat kembali ke lingkungan rumah atau warga. Anak-anak kita harus kita lindungi," katanya.

Andriyanto mengatakan, beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari klaster keluarga. Yakni, protokol kesehatan Covid-19 sebaiknya juga dilakukan di dalam rumah. Apalagi kalau ada keluarga yang baru beraktivitas di ruang publik. Memastikan sirkulasi udara di dalam rumah berjalan dengan baik, dengan cara sering membuka jendela maupun pintu agar udara bisa bergantian.

 "Walaupun sesama anggota keluarga, durasi dalam berinteraksi juga sebaiknya dibatasi. Termasuk tetap melakukan physical distancing. Menggunakan alat makan yang berbeda dan segera cuci alat makan setelah menggunakannya," tutur Andriyanto.

Untuk menekan munculnya klaster keluarga, juga dengan cara menerapkan gaya hidup sehat agar tidak mudah terserang virus, termasuk berolahraga dan mengonsumsi makanan serta minuman sehat. "Mari jaga diri kita, anak kita dan keluarga kita dari penyebaran Covid-19 yang berbahaya ini," pungkasnya. (mus/rek) 

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP