alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Terdampak Pandemi, Pendidikan Butuh Inovasi Tata Kelola Pembelajaran

13 Juni 2021, 21: 27: 31 WIB | editor : Wijayanto

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi. (DOK/JAWAPOS)

Share this      

SURABAYA - Sektor pendidikan termasuk yang paling terdampak pandemi Covid-19. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi, selama setahun ini, ada 6 juta siswa di bawah Kementerian Agama (Kemenag) Jatim dan ada 5.131 pesantren dengan lebih dari 1 juta santri yang selama pandemi harus mengaji dari rumah.

“Kami sudah menyiapkan skenario Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas selama pandemi. Yang pasti mengutamakan keselamatan siswa, pendidik dan tenaga pendidik,” ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan Jatim ini menuturkan, kondisi psikologis dan tumbuh kembang anak juga menjadi pertimbangan diadakannya PTM di Jatim. Pada situasi saat ini, dunia pendidikan butuh inovasi dalam tata kelola dan proses belajar mengajar, sehingga segera beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan situasi pandemi.

Baca juga: Penguatan Halal Value Chain, Dukungan Pemerintah ke Ekonomi Syariah

“Belum optimalnya pelayanan khusus untuk anak disabilitas dan angka melanjutkan perguruan tinggi yang masih rendah,” jelasnya.

“Selain itu inovasi, standar sekolah tidak hanya diukur dalam standar nasional, namun juga standar internasional. Sehingga harus ada asesmen kompetensi minimal untuk menentukan kualitas lulusan,” tuturnya.

Lebih lanjut Wahid mengatakan, selain kesulitan karena pandemi, ada lima pekerjaan rumah pendidikan di Jatim yang mendesak untuk dicari solusinya. Mulai dari percepatan indeks pembangunan di Jatim yang masih 15 besar karena dukungan indeks pendidikan yang cukup rendah.

Kemudian adanya disparitas kualitas antar lembaga pendidikan, belum optimalnya kualitas, kuantitas dan sebaran tenaga pendidik serta guru.

“Belum optimalnya pelayanan khusus untuk anak disabilitas dan angka melanjutkan perguruan tinggi yang masih rendah,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Prof dr Ishom mengungkapkan, pandemi telah mengubah pembiasaan dalam pembelajaran.

“Berdasarkan hasil penelitian UI (Universitas Indonesia), dampak turunan pandemi ini meningkatkan jumlah kemiskinan, pengangguran bahkan anak sekolah sulit fokus pada materi pembelajaran,” katanya.

Untuk itu, Kemenag bersama Kemendikbud berinovasi membuat panduan pembelajaran di masa pandemi. Panduan ini berisi pembahasan tugas dan tanggung jawab satuan pendidikan hingga prosedur hingga protokol kesehatan pembelajaran tatap muka terbatas.

“Saya sangat berharap para pemangku kepentingan dari sekolah dan lembaga pendidikan bisa mengkritisi panduan ini untuk kemudian disempurnakan lagi. Kami juga berharap, panduan pembelajaran selama masa pandemi ini bisa mengurangi learning loss yang banyak dialami siswa selama pembelajaran jarak jauh,” pungkasnya. (mus/nur)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP