alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Manfaatkan Refleksi Gelombang, Pakar ITS Rancang Detektor Dini Tsunami

11 Juni 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Tiga pakar geologi ITS yang dipimpin Amien Widodo merancang alat pendeteksi dini tsunami memanfaatkan refleksi gelombang.

Tiga pakar geologi ITS yang dipimpin Amien Widodo merancang alat pendeteksi dini tsunami memanfaatkan refleksi gelombang. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA – Tingkat kerawanan Indonesia terhadap bencana tsunami sangat tinggi. Bahkan beberapa kali tsunami juga melanda Indonesia. Untuk minimalis kerawanan bencana tsunami, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), DR Amien Widodo, merancang instrumen pendeteksi dini tsunami dengan memanfaatkan prinsip refleksi gelombang.

Alat tersebut bernama Sepuluh Nopember Pendeteksi Awal Tsunami (Senopati). Menurut Pakar Geologi Amien Widodo, alat tersebut bekerja dengan menggunakan prinsip refleksi gelombang, di mana ketinggian dari muka air bisa diukur oleh sensor untuk mendeteksi datangnya tsunami.

“Karena tsunami itu menyebabkan air laut surut, jadi kita lihat kalau ada air surut di waktu tertentu itu tanda adanya peringatan dini terhadap tsunami,” katanya.

Baca juga: Arumi Bachsin Bongkar Persoalan UMKM di Jatim: 45% Kesulitan Modal

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS itu menjelaskan prinsip yang digunakan pada refleksi gelombang diaplikasikan dalam dua sensor, yaitu sensor ultrasonik dan sensor doppler.

Gelombang ultrasonik sendiri mampu mendapatkan jarak pemantul gelombang dengan menggunakan prinsip Time of Light atau ToF, yakni metode yang digunakan untuk mengukur jarak antara sensor dan objek.

Sementara itu, sensor doppler memanfaatkan gelombang ultrasonik yang ditembakkan kepada objek dengan kemudian menghitung pergeseran frekuensi yang diterima sebagai nilai kecepatan benda bergerak. “Jadi apabila ketinggian muka airnya surut dengan cepat, alat ini akan memberi tahu bahwa akan ada tanda-tanda terjadinya tsunami,” imbuhnya.

Cara kerja alat tersebut menurut Amien, apabila diidentifikasi adanya penurunan ketinggian air dengan cepat, maka alat akan memunculkan warna merah dan buzzer menyala mengirimkan peringatan evakuasi.

Pada penelitian tersebut, parameter kecepatan surut masih menggunakan nilai sintetis yang menyesuaikan ukuran dari model uji yang digunakan. Artinya, model uji coba belum menggunakan nilai asli dari kejadian di lapangan.

Ke depannya, dosen Departemen Teknik Geofisika ini berharap agar Senopati dapat dimasukkan ke dalam lingkup penelitian yang lebih detail oleh ITS dan bisa mendapat pendanaan lebih lanjut. “Kami juga ingin membuat prototipe yang lebih baik dan kita diuji coba dengan ukuran yang lebih besar sehingga kita bisa tahu keandalan dari alat ini,” ungkapnya.

Dalam pembuatan alat Senopati itu ada tiga pakar geofisika ITS yang berasal dari Departemen Teknik Geofisika ITS yang terlibat. Ketiga pakar tersebut adalah Amien Widodo, Juan Pandu Gya Nur Rochman dan Kharis Aulia Alam. (rmt/nur)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP