alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Satgas Mafia Tanah Bongkar Praktik Penyerobotan Lahan Rp 470 Miliar

3 Tersangka Diamankan, Beraksi di Manukan

11 Juni 2021, 08: 20: 37 WIB | editor : Wijayanto

BONGKAR MAFIA: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Johnny Eddizon Isir menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus mafia tanah yang berhasil diamankan di Mapolrestabes Surabaya.

BONGKAR MAFIA: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Johnny Eddizon Isir menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus mafia tanah yang berhasil diamankan di Mapolrestabes Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Satgas Anti Mafia Tanah Jogo Suroboyo (Samata Joyo) Polrestabes Surabaya sukses membongkar praktik mafia tanah di Kota Pahlawan. Tak main-main satgas berhasil menggagalkan penyerobotan tanah seluas 1,7 hektare senilai Rp 470 miliar.

Setelah menangkap tersangka Djerman, 49, warga Surabaya, satgas juga menangkap oknum pegawai negeri sipil (PNS) bernama Subagiyo, 52, dan Samsul Hadi, 52. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Johnny Eddizon Isir mengatakan,  ketiga tersangka bekerja secara sistematis dan punya peran sendiri-sendiri.

Djerman sebagai tersangka utama yang mengajukan pengurusan tersebut. Ia membeli tanah tapi bukan berada di bidang yang disengketakan. “Tanah yang diakui miliknya ini sudah habis terjual oleh ahli waris. Kemudian ia mengajukan tanah milik korban tanpa diketahui korban selaku ahli waris,” katanya.

Baca juga: Rivan Jadi Kunci Damai antara Bosowa dan Kookmin Bank

BAGI PERAN: Tiga tersangka yang diamankan; Djerman, Subagiyo, dan Samsul Hadi.

BAGI PERAN: Tiga tersangka yang diamankan; Djerman, Subagiyo, dan Samsul Hadi. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Isir mengungkapkan, oknum PNS yang terlibat berperan sebagai penandatangan dan saksi. Begitu juga Samsul Hadi. Mereka menjadi saksi surat pernyataan penguasaan fisik pada tanah yang berada di dua wilayah Manukan Wetan dan Manukan Kulon. “Keduanya bersekongkol dan menerima uang Rp 10 juta dari tersangka DP. Mereka juga ikut merencanakan surat perjanjian,” katanya.

Tersangka Djerman ini begitu getol menguasai tanah milik warga tanpa sepengetahuan ahli waris. Surat pernyataan penguasaan fisik yang dimilikinya pun diduga palsu. Pengurusan yang sudah dilakukan sejak 2016 itu bahkan sudah muncul peta bidang. “Ini membuat ahli waris sudah tidak ada hak atas tanah tersebut. Selangkah lagi bisa jadi sertifikat hak milik (SHM),” tegas Isir.

Harga tanah yang mencapai ratusan miliar termasuk mencengangkan. Sebab, lokasi tanah memang strategis di kompleks pergudangan dan satu-satunya yang belum dibangun dan masih berupa tambak-tambak. “Kami masih mendalami lagi kemungkinan masih ada yang terlibat dalam kasus ini,” katanya.

Menurut Isir, saat penyidikan diketahui tersangka melakukan gugatan perdata terhadap status tanah tersebut. Namun, ia bersandiwara karena temannya sendiri yang dipasang seolah-olah bersengketa. Tersangka juga memalsukan tanda tangan saksi kanan-kiri yang ternyata ditandangani orang lain. “Ini sudah terstruktur. Saya terima kasih satgas sudah menyelamatkan tanah warga,” ujarnya.

Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Surabaya I Kartono Agustiyanto mengungkapkan, secara formal pengurusan tersebut sesuai prosedur. Apalagi, dalam pengajuan awal ada keputusan dari pengadilan terkait sengketa perdata yang dilakukan tersangka. “Secara formal sudah sesuai. Namun, ternyata saat uji materiil yang dilakukan kepolisian ditemukan hal tersebut. Peta bidang memang sudah jadi, tapi bukan bukti kepemilikan sah,” ujarnya.

Sementara itu, pakar hukum pidana dari Fakultas Hukum Unaiversitas Airlangga (Unair) Maradona menyatakan siap membantu satgas untuk mengungkap kasus mafia tanah di Surabaya. “Dari gugatan perdata untuk menyerobot tanah warga, saya yakin tersangka bukan orang biasa,” terangnya. (gun/rek)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP