alexametrics
Selasa, 15 Jun 2021
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Dibayangi Pandemi, Industri Kertas Optimistis Tetap Tumbuh

07 Juni 2021, 18: 20: 22 WIB | editor : Wijayanto

TINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI: Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur (kiri) menjelaskan beberapa produk unggulan perseroan.

TINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI: Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur (kiri) menjelaskan beberapa produk unggulan perseroan. (M AFIQ FIRDAUS/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA– Meskipun masih dibayangi pandemi, namun produsen kertas tisu dan laminasi tetap optimistis tahun ini penjualannya akan naik. Selain ditopang naiknya harga jual kertas juga demand mulai mengalami pertumbuhan. 

Menurut Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur, pihaknya optimistis mampu meningkatkan penjualan tahun ini. Terbukti selama kuartal pertama tahun 2021, penjualannya naik 13,5 persen yang disebabkan naiknya harga jual kertas sebesar 6 persen dan naiknya kuantitas penjualan produk kertas 7,1 persen. “Tahun ini kami masih optimistis penjualan akan naik 20 persen dari tahun lalu dengan nilai Rp 2,5 triliun,” kata Hendro Luhur secara online, Senin (7/6). 

Untuk itu, selain terus melakukan penetrasi market domestik dan ekspor, pihaknya juga akan meningkat kapasitas produksinya. Pihaknya telah belanja modal USD 32 juta untuk mesin kertas nomor 10 (PM 10). 

Baca juga: Gugatan Aset YKP Ditolak, GPD Ajukan Banding

Mesin PM 10 memiliki kapasitas terpasang wrapping kraft, hand towel dan MG  paper sebesar 54.000 metric ton (MT). Dari jumlah tersebut, 40 persen untuk pasar ekspor dan 60 persen untuk pasar domestik. Sehingga total kapasitas terpasang perseroan dari semula 250.000 MT 304.000 MT atau naik 21,5 persen. "September 2021 rencana mulai beroperasi secara komersial,” tambahnya. 

Soal kinerja tahun lalu, dia mengaku, penjualannya mengalami penurunan 14,4 persen dari tahun 2019 dengan nilai Rp 2,1 triliun. Penurunan tersebut terutama disebabkan turunnya kuantitas penjualan produk kertas 12,8 persen. Sementara harga jual kertas perseroan relatif sama dengan tahun 2019. 

Namun begitu, turunnya beban pokok penjualan yang melebihi penurunan penjualan bersih menyebabkan pihaknya membukukan kenaikan laba kotor sebesar 4,8 persen dari semula Rp 374,8 miliar di tahun 2019 menjadi Rp 392,8 miliar di tahun 2020. “Sehingga marjin laba kotor tahun 2020 mengalami peningkatan menjadi 18,3 persen dari semula 14,9 persen tahun 2019,” tandasnya.

Sementara itu, dari hasil RUPS kemarin, emiten berkode SPMA ini akan membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham sebesar Rp 15 per lembar saham atau nilai total mencapai Rp 31,7 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 20 persen dari laba bersih tahun 2020. 

Selain itu, pihaknya juga akan membagikan dividen saham dari kapitalisasi saldo laba dengan jumlah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 419,5 miliar yang terbagi atas sebanyak-banyaknya 676.662.706 lembar saham . 

“Rasio pembagian dividen saham adalah 100 : 32. Setiap 100 saham lama dengan nilai nominal Rp 400 per lembar saham, akan memperoleh 32 saham baru dengan nilai nominal Rp 400,” tandas Hendro Luhur. (fix/nur) 

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP