alexametrics
Senin, 17 May 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Keenakan Daring, Banyak Ortu yang Tolak Sekolah Tatap Muka

04 Mei 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

SIMULASI PTM: Sejumlah guru di SMPN 6 Surabaya melakukan simulasi sekolah tatap muka, Senin (3/5).

SIMULASI PTM: Sejumlah guru di SMPN 6 Surabaya melakukan simulasi sekolah tatap muka, Senin (3/5). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya melakukan simulasi sarana, prasarana, dan protokol kesehatan (prokes) menjelang pembelajaran tatap muka (PTM). Semua SD dan SMP di Kota Pahlawan diharapkan bisa memulai PTM pada bulan Juli nanti. Namun demikian, ternyata masih banyak orangtua yang keberatan dengan segera dimulainya sekolah tatap muka ini.

Di SMP Negeri 6 Surabaya, misalnya, simulasi protokol kesehatan dilakukan secara ketat. Sebelum masuk gerbang sekolah, peserta didik wajib dicek suhu tubuhnya. Kemudian, mereka diarahkan petugas untuk cuci tangan dengan sabun dan masuk antrean ke bilik disinfektan.

Bahkan, ada prosedur tetap untuk peserta didik yang ingin ke toilet hingga pulang sekolah. ”Sementara kami menggunakan para guru untuk menjadi siswa-siswi. Kami ingin memastikan keamanan dan kesiapan pelaksanaan PTM,” kata Kepala SMP Negeri 6 Surabaya, Ahmad Sya’roni.

Baca juga: KTP Dipalsu, Rumah Wartawan Beralih Kepemilikan

TERAPKAN PROKES: Sejumlah guru berperan sebagai peserta didik saat simulasi PTM di SMPN 6, Jalan Jawa, Surabaya, Senin (3/5).

TERAPKAN PROKES: Sejumlah guru berperan sebagai peserta didik saat simulasi PTM di SMPN 6, Jalan Jawa, Surabaya, Senin (3/5). (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Ahmad menjelaskan, dari hasil polling, orang tua yang setuju PTM untuk kelas 8 yang tahun ajaran baru akan naik kelas 9 mencapai 258 orang. Kemudian orang tua yang tidak setuju PTM 258 orang.

Sedangkan di kelas 7 yang setuju PTM mencapai 171 orang, 60 orang tidak setuju, dan sisanya belum mengisi persetujuan. ”Alasan tidak setuju PTM karena adanya penyakit bawaan dari keluarga dan sudah nyaman belajar di rumah secara daring,” jelasnya.

Menurut dia, saat PTM nanti per kelas diisi maksimal 16 siswa. Pada tahun ajaran baru nanti, SMP 6 akan menerapkan sistem pembelajaran hybrid. Artinya, orang tua yang tidak mengizinkan anaknya PTM bisa mengikuti kelas online dari rumah. Sementara sisanya bisa langsung mengikuti PTM. “Pembelajaran berlangsung serentak sehingga guru tidak kelelahan harus mengajar dua kali,” katanya.

Kepala SMP GIKI 2 Surabaya Ida Christiani mengaku pihaknya sudah mendapatkan lampu hijau dari Satgas Covid-19 untuk PTM. Hampir semua orang tua siswa setuju PTM digelar. ”Sebanyak 85 persen orang tua siswa menghendaki PTM. Dengan senang hati mereka berharap PTM segara diselenggarakan,” ungkapnya.

Ida menjelaskan, pihaknya akan memberikan materi belajar maksimal empat jam untuk dua mata pelajaran. Di tengah jeda ada relaksiasi 15 persen. ”Yang gak sepakat PTM tetap kami lakukan daring,” katanya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Sekolah Menengah (Sekmen) Dispendik Kota Surabaya Tri Aji Nugroho mengatakan, saat ini sudah ada 350 sekolah yang menyatakan siap dilakukan asesmen PTM. Data sekolah yang akan diasesmen sudah dikirim ke Satgas Covid-19 Kota Surabaya. ”Kami akan jadwalkan secara bertahap,” katanya.

Selama PTM, pihaknya akan melakukan evaluasi selama dua bulan. Ada penilaian terkait sarana prasarana dan prokes. Pihaknya tak segan mencabut izin PTM bagi sekolah yang melanggar prokes. ”Secara random akan dilakukan monitoring. Kalau ada yang lengah, kami akan cabut izin PTM. Sampai pihak sekolah memperbaiki prokes dan sarana prasarana,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya meminta persetujuan orang tua untuk menjemput anak-anak agar setelah jam pelajaran selesai mereka langsung pulang ke rumah. Para guru dan tenaga pendidikan wajib swab dan vaksin. “Siswa memang tidak dianjurkan untuk rapid test,” katanya.

Kepala Dispendik Kota Surabaya Supomo mengatakan, sebelum PTM berlangsung pihaknya akan memastikan semua sarana dan prasarana sekolah sesuai SOP prokes. Sekolah yang akan mengikuti PTM harus mengikuti simulasi. ”Kami wajibkan sekolah mengikuti simulasi dulu,” katanya.

Dispendik juga akan melibatkan para pakar untuk melakukan pendampingan. Tujuannya, supaya pembukaan sekolah tatap muka nanti benar-benar aman dan efektif. ”Itu berlaku untuk semua SD dan SMP se-Kota Surabaya,” pungkasnya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP