alexametrics
Senin, 17 May 2021
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

KTP Dipalsu, Rumah Wartawan Beralih Kepemilikan

04 Mei 2021, 07: 43: 34 WIB | editor : Wijayanto

Joni Iwansyah, kuasa hukum Teguh Lulus Rachmadi.

Joni Iwansyah, kuasa hukum Teguh Lulus Rachmadi. (M MAHRUS/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Teguh Lulus Rachmadi, 65, tidak menyangka jika rumah di Kupang Gunung Jaya yang ditempati selama puluhan tahun tiba-tiba beralih kepemilikan. Pria yang juga pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim itu harus berurusan dengan pihak berwajib.

Wartawan senior itu mendatangi penyidik Ditreskrimum Polda Jatim setelah dilaporkan Anton. Teguh dilaporkan atas dugaan kasus memasuki pekarangan tanpa izin. ”Klien saya dilaporkan pasal 167 KUHP,” kata kuasa hukum Teguh Lulus Rachmadi, Joni Iwansyah.

Menurut Joni, dalam kasus ini kliennya tidak pernah menjual atau menandatangani akta perjanjian jual beli dan akta kuasa menjual dan atau jual beli terhadap sebidang tanah berikut bangunan rumah yang ada di Jalan Kupang Gunung Jaya IX/12.

Baca juga: Gojek Targetkan Zero Emissions, Zero Waste dan Zero Barriers pada 2030

Kasus ini bermula pada 2017 lalu. Saat itu, Santi dan Atik meminjam sertifikat rumah milik Teguh Lulus Rachmadi melalui istrinya, Endang Kusumawati. Peminjaman sertifikat itu dilakukan tanpa sepengetahuan Teguh yang dikenal sebagai wartawan senior media terbitan Jakarta itu.

Santi dan Atik meminjam sertifikat dengan dalih untuk digunakan meminjam uang. Setelah mendapatkan seseorang yang mampu meminjami uang, Santi dan Atik mengajak Endang bertemu Anton di sebuah restoran cepat saji di kawasan Satelit.

Awal Oktober 2017, Santi dan Atik mengajak Endang ke notaris di kawasan Ngagel karena pinjaman sudah mau cair. Saat di notaris, ternyata sudah ada laki-laki yang tidak diketahui identitasnya dan Anton.

”Laki-laki tersebut diduga di-setting Santi sebagai Pak Teguh untuk menandatangani akte perjanjian pengikatan jual beli (PPJB). Mereka memalsukan KTP Pak Teguh dengan mengganti foto Pak Teguh,” ungkapnya.

Ditambahkan Joni, setelah dilakukan tanda tangan akta PPJB, Endang diajak ke Bank BCA oleh Santi, Atik dan Anton. Di bank tersebut, Endang tidak tahu berapa nominal uang yang dipinjam.

Setelah itu mereka keluar dan berpisah. Endang dipesankan taksi untuk pulang ke rumah. "Janjinya Santi pinjam sertifikat selama tiga bulan. Kalau sudah dilunasi, sertifikat akan dikembalikan," terang dia.

Setelah tiga bulan, ternyata Santi belum melunasi utangnya ke Anton. Kemudian, Santi malah mengirim fotokopi PPJB dan akta penjualan rumah ke Endang. Mendapatkan kiriman tersebut, Endang tentu saja kaget. Sebab, perjanjian awal pinjam uang tapi malah dibuatkan PPJB dan akta jual beli.

Sementara itu, Anton sempat mendatangi rumah Teguh untuk menagih utang kepada Endang senilai Rp 400 juta pada September 2018. Teguh saat itu kaget. Sebab, dia tidak tahu bila istrinya sedang memiliki utang dan atas persetujuan dirinya.

"Anton juga menunjukkan foto kopi KTP klien saya. Tapi foto kopi di KTP itu bukan foto klien saya karena sudah diganti foto orang lain," tandas Joni.

Dari sana, lanjut Joni, Teguh kemudian berbicara dengan istrinya. Saat itulah, Teguh baru mengetahui kronologi kejadian terkait peminjaman sertifikat untuk dalih peminjaman uang tanpa sepengetahuan dirinya.

Kemudian pada awal Januari 2020, Anton tiba-tiba datang lagi ke rumah Teguh dengan mengajak tiga oknum anggota TNI. Di sana, mereka ditemui Endang. Kemudian, mereka meminta rumah dikosongkan dalam waktu seminggu. Seminggu kemudian, tiga oknum tersebut kembali datang. Satu oknum membawa surat somasi yang dibuat kuasa hukum Anton.

Dalam somasi tersebut, rumah yang ditempati Teguh disebut menjadi milik Anton. Kemudian setelah ditelusuri, dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) Pajak Bumi Bangunan (PBB) tahun 2020, nama wajb pajak yang dahulu atas nama Teguh Lulus Rachmadi berganti menjadi dua nama yakni Teguh Lulus Rachmadi/Anton (AHW).

"Klien saya kaget, karena yang tercantum dalam sertifikat sebagai pemilik tidak merasa menjual satu-satunya aset yang dimiliki," beber Joni.

Disebutkan Joni, pada saat transaksi pinjam uang atas nama Santi, Endang mengaku tidak tahu apa-apa. Kondisinya berada di bawah sadar saat diajak Santi menemui seorang laki-laki yang disuruh mengaku sebagai suaminya bersama Anton di hadapan notaris yang berkantor di kawasan Ngagel.

"Jadi klien saya tidak mengetahui dan tidak terlibat dalam proses transaksi pinjam uang atas nama Santi. Klien kami juga tidak tanda tangan akta PPJB tanah atau rumah maupun akta kuasa menjual di notaris," tegas dia.

Joni menyebut, setelah kejadian itu, Santi selaku peminjam sertifikat sudah tidak bisa dihubungi sejak tahun 2019 hingga sekarang. Apesnya, dalam kasus ini, Teguh Lulus Rachmadi malah dilaporkan ke polisi atas tuduhan melakukan penyerobotan pekarangan rumah.

"Terkait kasus ini, kami telah mengadukan ke polisi bahwa klien kami menjadi korban dugaan tindak pidana penipuan serta pemalsuan identitas (KTP) dalam perkara jual beli rumah," tandasnya. (rus/rek)  

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP