alexametrics
Minggu, 16 May 2021
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pandemi, Intiland Fokus Penjualan High Rise dan Perumahan

03 Mei 2021, 08: 07: 24 WIB | editor : Wijayanto

ANDALAN: Spazio Tower salah satu proyek high rise Intiland Group di Surabaya yang diharapkan memberikan banyak kontribusi pendapatan pada tahun 2021.

ANDALAN: Spazio Tower salah satu proyek high rise Intiland Group di Surabaya yang diharapkan memberikan banyak kontribusi pendapatan pada tahun 2021. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Meskipun masih dibayangi pandemi, namun developer tetap optimis tahun ini market property akan berkembang lebih baik. Hal ini menyusul adanya stimulus dan insentif dari pemerintah. Sehingga konsumen semakin tertarik membeli property.

Menurut Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland kondisi market tahun ini sudah mulai membaik. Hal ini terlihat dari penjualan proyek perumahan yang mengalami pertumbuhan dalam 3 bulan pertama tahun 2021 seperti Graha Natura dan Graha Famili Surabaya, Serenia Hills dan South Grove di Jakarta Selatan, serta Talaga Bestari di Tangerang.

Baca juga: 5 Oknum Polisi yang Tertangkap Nyabu di Hotel Terancam Dipecat

“Kami menargetkan marketing sales tahun ini sebesar Rp 2 triliun dengan fokus utama berasal dari penjualan segmen perumahan dan high-rise,” kata Archied Noto Pradono, Kamis (29/4).

Dia berharap pasar properti tahun ini akan kembali menggeliat seiring dengan stimulus kebijakan dari pemerintah. Tahun ini bisa menjadi titik balik bagi pasar properti serta konsumen untuk melakukan pembelian dan investasi properti.

“Penanganan Covid-19 menjadi motor penggerak ekonomi yang ditunggu oleh pelaku usaha. Di samping itu, kami mengapresiasi stimulus properti dari Pemerintah seperti insentif uang muka maupun relaksasi pajak pertambahan nilai yang cukup holistik dalam mendorong penjualan properti,” tambahnya.

Pihaknya menawarkan berbagai kemudahan bagi konsumen untuk melengkapi insentif kebijakan dari pemerintah. Berbagai program promo seperti cicilan bertahap tanpa bunga, hingga berbagai bonus untuk pembelian proyek tertentu seperti bonus furnitur, bebas biaya servis atau iuran pengelolahan lingkungan.

Tahun ini pihaknya akan lebih fokus pada penjualan inventori atau stok unit di sejumlah proyek perumahan dan apartemen. Namun demikian, perseroan juga tetap melihat ceruk dan potensi pasar untuk peluncuran proyek baru dengan mempertimbangkan risiko secara hati-hati.

"Selalu ada peluang dalam industri properti. Kuncinya ada di pengembangan dan jeli menangkap peluang. Kami melihat pasar mulai bergerak dan kami percaya akan berangsur-angsur membaik," katanya.  

Soal kinerja tahun 2020, dia mengaku cukup bagus. Meskipun pasar property dibawah tekanan akibat pandemic, namun kinerjanya berhasil dipacu. Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir 31 Desember 2020,

Perseroan membukukan pendapatan usaha Rp 2,89 triliun. Jumlah tersebut naik Rp154,3 miliar atau 5,3 persen dibandingkan pencapaian tahun 2019 sebesar Rp2,74 triliun.

Kenaikan pendapatan usaha tahun 2020 didorong peningkatan penjualan dari  mixed-use and high rise yang telah selesai masa pembangunannya. Saat ini proyek mixed-use and high rise tersebar di Jakarta, Tangerang, dan Surabaya.

“Kenaikan pendapatan usaha dipicu adanya pengakuan penjualan dari pengembangan  mixed-use and high rise yang telah selesai pembangunannya, seperti kondominium Graha Golf dan The Rosebay di Surabaya serta penjualan unit-unit stok di sejumlah proyek apartemen seperti 1Park Avenue” ujar Archied.

Dijelaskan, pendapatan pengembangan (development income) masih memberikan kontribusi terbesar, yakni Rp 2,3 triliun atau 79,6 persen dari keseluruhan. Nilai ini meningkat 8,2persen dibandingkan tahun 2019 senilai Rp 2,1 triliun.

Sumber pendapatan usaha lainnya berasal dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang memberikan kontribusi Rp 589,1 miliar atau 20,4 persen. Pendapatan segmen ini menurun 5,7 persen dibandingkan tahun 2019 yang nilainya Rp 623,1 miliar.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise memberikan kontribusi paling besar yakni Rp1,8 triliun, atau 63,4 persen. Kontribusi tersebut meningkat 39.4 persen dibandingkan pencapaian 2019 yang sebesar Rp1,1 triliun.

Pendapatan berikutnya berasal dari pengembangan perumahan sebesar Rp 432,8 miliar atau 14,9 persen dari keseluruhan. Pendapatan ini mengalami penurunan lebih dari separonya dibandingkan perolehan tahun 2019 senilai Rp 942 miliar.

“Segmen pengembangan kawasan industri menyumbang Rp 36,7 miliar atau 1,3 persen. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun lalu senilai Rp 63,4 miliar,” tandas Archied Noto Pradono. (fix/jay)

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP