alexametrics
Senin, 17 May 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Napak Tilas Sejarah Kota Tua, Cak Ji: Jangan Jual Cagar Budaya

03 Mei 2021, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

SUSUR SEJARAH: Wakil Wali Kota Surabaya Armudji melakukan napak tilas sejarah kota tua bersama puluhan pecinta sejarah, Minggu (2/5) sore.

SUSUR SEJARAH: Wakil Wali Kota Surabaya Armudji melakukan napak tilas sejarah kota tua bersama puluhan pecinta sejarah, Minggu (2/5) sore. (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Wawali Armudji bersama puluhan orang yang tergabung dalam Surabaya Urban Track (Subtrack) menyusuri kawasan Jembatan Merah, Gedung Algemene atau Gedung Singa, hingga tempat-tempat bersejarah lainnya di kawasan Surabaya Utara. Di setiap spot bersejarah, pemandu (guide) menjelaskan tentang sejarah Soerabaia Tempo Doeloe yang melingkupinya.

Menurut Armudji, situs-situs atau bangunan cagar budaya di kawasan Surabaya Utara sangat banyak. Itu merupakan aset kota yang sangat penting dan perlu dibangkitkan kembali. "Jangan sampai dilupakan. Apalagi dijual,'' tegas Cak Ji, sapaan Armudji.

Ia mencontohkan Gedung Singa yang diarsiteki Hendrik Petrus Berlage yang dikenal sebagai bapak arsitektur modern di Belanda. Rencananya gedung milik sebuah perusahaan asuransi itu akan dijual lewat lelang umum.

Baca juga: Diduga Mengantuk, Pemotor Tewas Tabrak Pembatas Jalan

CAGAR BUDAYA DIJUAL: Gedung Algemene atau Gedung Singa yang dilelang oleh salah satu perusahaan asuransi BUMN.

CAGAR BUDAYA DIJUAL: Gedung Algemene atau Gedung Singa yang dilelang oleh salah satu perusahaan asuransi BUMN. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

"Ini gedung tua yang perlu diketahui warga Surabaya dan Indonesia umumnya. Bahwa Surabaya mempunyai kenangan dan kenangan itu harus dibangkitkan kembali untuk bisa menjadi sejarah. Kita harus menelusuri sejarah itu dan jangan sampai dilupakan," katanya.

Cak Ji menegaskan. Gedung Singa tersebut jangan sampai dirombak atau dihilangkan unsur sejarahnya. ''Jangan sampai hilang kayak di Jalan Kayoon, ada tempat ibadah umat Yahudi, Sinagog. Celaka kita sekarang ini, cagar budayanya hilang," tegasnya.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, ia optimistis pemkot akan tetap melestarikan bangunan cagar budaya dan menjadikan ikon Surabaya yang bisa "dijual" untuk pariwisata. "Kalau di luar negeri gedung cagar budaya justru dirawat dan jadi objek wisata," ujarnya.

Terkait usulan adanya badan pengelolaan cagar budaya sebagai strategi stakeholder pengelolaan cagar budaya di Kota Surabaya, Cak Ji merespons positif. Rencananya pemkot akan melibatkan pihak swasta untuk bersama merawat bangunan kuno. "Kita akan adopsi supaya ada kemandirian pengelolaan dengan melibatkan swasta supaya bisa merawat bersama bangunan cagar budaya tersebut," katanya.

Pemerhati cagar budaya, Kuncarsono Prasetyo mengatakan bahwa kota tua di Surabaya bisa dikelola dengan baik karena nilai sejarahnya sangat tinggi. Bukan hanya sekadar hobi dan romantisme. "Dengan acara napak tilas ini bisa ada nilai ekonomi yang didapat, tinggal pengelolaannya. Kalau sekadar pembenahan selama ini kurang maksimal," katanya. 

Kuncar menyebut kehadiran Wawali Armudji dalam napak tilas kota tua untuk mendorong segera terbentuknya badan pengelolaan. "Ini bukti kota tua di Surabaya itu ada nilai sejarahnya. Dengan hadirnya Pak Armudji ini mudah-mudahan badan pengelolaan cagar budaya bisa terbentuk," harapnya.

Salah satu peserta napak tilas Listiya Damayanti berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan. Ini penting untuk menumbuhkan khasanah sejarah bagi masyarakat. Khususnya anak-anak muda milineal yang selama ini wawasan sejarahnya dinilai sangat kurang. 

"Bangunan tua ini penting untuk belajar sejarah. Ini perlu dipertahankan, jangan sampai hancur. Anak-anak milineal saat ini perlu belajar sejarah," ucapnya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP