alexametrics
Senin, 17 May 2021
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Giliran Provokator Pengeroyokan Zainul hingga Tewas Ditangkap

30 April 2021, 16: 59: 34 WIB | editor : Wijayanto

HS alias Gendon

HS alias Gendon (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Unit Jatanras Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak gerak cepat membekuk tersangka pengeroyokan. Setelah menangkap dua tersangka yang memukul Zainul Fattah, 25, warga Jalan Kalimas Baru II, satu lagi tersangka dibekuk. HS alias Gendon diduga ikut terlibat pengeroyokan yang menyebabkan tewasnya korban. 

Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Iptu Gananta membenarkan ada seorang tersangka lagi yang diamankan. Tersangka HS alias Gendon, 22, ditangkap setelah polisi mencarinya selama beberapa hari. Bekerja sama dengan pihak keluarga, akhirnya Gendon diamankan, Rabu (28/4). "Sudah kami amankan. Saat ini sedang kami lakukan pemeriksaan secara intensif," ujarnya.

Polisi masih memeriksa HS. Tersangka HS diduga melakukan provokasi sehingga terjadinya tawuran berbuntut pengeroyokan terhadap Zainul. HS ini yang pertama kali mengakui bahwa dirinya memukul adik Supriadi karena membangunkan sahur menggunakan petasan. Saat didatangi, korban bersama temannya langsung memukul adik Supriadi. 

Baca juga: Temui Keluarga Kru KRI Nanggala, Jokowi Janjikan Bangun Rumah

Gananta mengatakan, tersangka HS diduga memprovokasi hingga korban bersama temannya emosi. Lalu terjadi tawuran tersebut. "Mengenai kepastiannya masih kami dalami. Perannya juga masih kami dalami lagi," ungkapnya.

Seperti diberitakan, Polres Pelabuhan Tanjung Perak sebelumnya menetapkan dua orang sebagai tersangka. Dua tersangka itu Abdul Ghofur, 23, dan M Imron, 20, keduanya warga Kalimas Baru III Lebar Timur, Surabaya. Mereka diketahui ikut serta menganiaya korban dengan tangan kosong. 

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Ganis Setyaningrum menjelaskan, kejadian pengeroyokan itu bermula saat dua kelompok patroli sahur di wilayah Kalimas bertemu dan terjadi kesalahpahaman. Kedua kelompok itu kemudian bergesekan. Salah satu kelompok mengadukan ke Zainul Fattah karena kalah jumlah.  

"Kelompok yang jumlahnya kecil kemudian mengadu kepada seniornya (korban). Saat Fattah mendatangi kelompok lain bermaksud meluruskan permasalahan malah diteriaki maling," ungkapnya.  

Fattah tak sempat berlari, dia terjatuh dan menjadi bulan-bulanan para pemuda. Ditambah ada provokator yang memancing marah warga lain yang juga ikut memukuli korban. "Yang memukuli Fattah ada yang pakai tangan kosong, batu, balok kayu, hingga pipa besi. Akibatnya, Fattah mengalami sejumlah luka memar di tubuhnya," ujar Ganis. 

Seusai dipukuli ponsel dan dompet berisi uang diambil diduga oleh pelaku. Setelah itu Fattah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Keluarga dia juga segera membuat laporan polisi. Namun, setelah lima hari menjalani perawatan di rumah sakit, Fattah dinyatakan meninggal dunia akibat luka di dalam organ tubuhnya.  

Dari penetapan dua tersangka, barang bukti yang disita berupa pipa, batu, ember sebagai alat pukul serta tas, uang senilai Rp 900 ribu, dan dua handphone korban yang dirampas saat pengeroyokan. Tersangka dijerat pasal 170 KUHP ayat 2 ke-3 dengan ancaman 12 tahun penjara. (gun/rek)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP