alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Green City In Surabaya, Lestarikan Budaya lewat Batik dan Kebaya

08 April 2021, 09: 03: 33 WIB | editor : Wijayanto

PERTAHANKAN CIRI KHAS: Model memeragakan busana karya desainer asal Solo Dina Martiana yang mengangkat tema Green City in Surabaya yang bisa digunakan menjadi busana muslim maupun tanpa jilbab.

PERTAHANKAN CIRI KHAS: Model memeragakan busana karya desainer asal Solo Dina Martiana yang mengangkat tema Green City in Surabaya yang bisa digunakan menjadi busana muslim maupun tanpa jilbab. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kain batik khas Solo dipadukan dengan ciri khas Kota Surabaya menjadi busana outer menarik. Seperti yang dibuat oleh perancang busana Dina Martiana. Busana rancangan Dina tersebut memiliki keunikan tersendiri dan didesain khusus untuk Kota Pahlawan yang terkenal sebagai kota yang bersih dan hijau. Oleh karena itu, Dina mengangkat tema Green City In Surabaya. 

Karyanya ini menggunakan kain batik sogan, sesuai dengan pakem batik Solo. Ciri kain batik sogan terdapat corak bunga, boketan, dan parang. Jenis batik ini sengaja dipilih Dina untuk koleksi special edition show di Surabaya. “Koleksi kali ini ada enam busana cewek dan dua cowok,” ujar Dina. 

Untuk cutting desain busana cewek, lebih identik ke elegan dan anggun. Salah satu yang menarik dari busana cewek adalah kebaya Ibu Ratu. Menurutnya, busana berwarna hijau ini sangat spesial lantaran pada zaman kerajaan, kebaya ini hanya diperuntukkan ratu kerajaan Keraton Yogyakarta. 

Baca juga: Wagub Berharap Ada Solusi untuk Stok Garam Rakyat yang Menumpuk

Ia sengaja mengangkat motif klasik karena ingin mempertahankan busana khas kerajaan Keraton Solo. Selain itu, tujuan Dina adalah untuk melestarikan budaya. “Jadi meskipun saya menggunakan warna-warna colorful tapi tidak melupakan pakem-pakemnya. Motifnya tetap sogan, parang, dan lainnya. Terutama khas Solo,” tutur Dina. 

Dari pewarnaanya pun, Dina tetap memakai pakem khas keratin, seperti warna hijau tua. Warna ini disebut sebagai hijau keraton dan memiliki kekuatan magis tersendiri. “Hijaunya seperti hijau kebayanya Nyi Roro Kidul gitu. Karena zaman dulu dipercayai warna ini skaral,” ungkapnya. 

Karena itu, kebaya warna hijau tua ini diboyongnya ke Surabaya untuk pameran. “Surabaya ini kan identik dengan kota yang hijau dan bersih. Sehingga busana kebaya batik ini cocok untuk dipamerkan di Surabaya, salah satunya yang warna hijau tua itu,” pungkas wanita 37 tahun tersebut. (gin/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP