alexametrics
Jumat, 16 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Polisi Bongkar Peredaran Regulator Elpiji Tak Ber-SNI

06 April 2021, 10: 56: 41 WIB | editor : Wijayanto

BEBER: Petugas menunjukkan barang bukti regulator gas yang tidak memenuhi syarat yang diamankan di Mapolda Jatim.

BEBER: Petugas menunjukkan barang bukti regulator gas yang tidak memenuhi syarat yang diamankan di Mapolda Jatim. (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Subdit I Tindak Pidana Industri Perdagangan dan Investasi (Tipid-Indagsi) Ditreskrimsus Polda Jatim berhasil membongkar peredaran regulator elpiji bertekanan rendah yang tidak mengantongi sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah diperdagangkan luas ke masyarakat. 

Indra Mustakim, 72, Direktur Utama PT Cipta Orion Metal (COM), ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun, tersangka tidak ditahan karena pertimbangan usia. Meski demikian, tersangka sudah diambil keterangannya dam masih dilakukan pemantauan.

Selain itu, polisi juga menyita 34. 913 regulator elpiji bertekanan rendah yang tidak ber-SNI produksi PT COM. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, kasus ini terbongkar setelah polisi melihat pemusnahan regulator elpiji bertekanan rendah di Tambun, Bekasi, Jawa Barat.

Baca juga: Semprot Disinfektan di Desa Keplaksari, Kabupaten Jombang

Selanjutnya, Subdit I Ditreskrimsus melakukan pengecekan barang dengan merek serupa di wilayah Jawa Timur. Kemudian dilakukan penyidikan terhadap salah satu distributor, yaitu CV Jaya Gembira, yang beralamat di pergudangan Jalan Margomulyo Indah, Surabaya dan pergudangan Mutiara Blok D/30, Surabaya.

Kemudian barang yang diamankan yakni regulator dikirim ke Badan Uji Laboratorium Balai Besar Logam dan Mesin atau BBLM dan Balai Besar Barang dan Bahan Teknik (B4T). "Dari hasil pemeriksaan uji tersebut dinyatakan bahwa peralatan regulator ini sangat berbahaya apabila digunakan konsumen," ungkap Gatot didampingi Kasubdit I Indagsi, AKBP Suryono.

Perwira menengah dengan tiga melati di pundak ini menjelaskan, barang bukti yang disita berasal dari lima distributor dan satu produsen. Yakni PT Jaya Gembira, PT Paracom, CV Satelit, CV Utama dan CV Adma Totalindo. 

Wadirreskrimsus Polda Jatim, AKBP Zulham Effendy menambahkan, meski sudah dimusnahkan, di Jatim masih ditemukan regulator dengan merek yang sama. "Karena dalam pembuatan regulator itu standarnya di bawah yang telah ditentukan. Hasil uji BBLM dan B4T menyebutkan, salah satunya ada bunyi dan getaran. Kemudian hasil kebocoran apabila digunakan di dalam ruangan, itu akan membahayakan konsumen," jelasnya. 

Menurut Zulham, adanya kebocoran tidak bisa ditolerir. Sebab, bila ada percikan api bisa menyebabkan kebakaran. "Ada beberapa hasil penelitian atau pengujian di balai, sehingga produk ini di luar dari SNI yang ada. Kita berharap semoga kasus ini bisa dikembangkan untuk memastikan masyarakat di Jatim aman," tegasnya.

Di sisi lain, lanjut Zulham, untuk harga yang ditawarkan regulator elpiji bertekanan rendah ini tidak jauh beda dengan yang ber-SNI. Atas terbongkarnya kasus ini, polisi mengimbau kepada masyarakat Jatim apabila menemukan regulator dengan merek Starcam dan Destec supaya bisa melaporkan kepada Ditreskrimsus Polda Jatim. 

Selain itu produsen atau pabrik yang membuat regulator tersebut saat ini telah ditutup polisi. Dalam kasus ini polisi menjerat tersangka dengan pasal 113 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Ancaman hukumannya pidana penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar. Juga, pasal 66 Undang-Undang No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian dengan ancaman hukuman pidana penjara selama 5 tahun dan denda Rp 35 miliar.(rus/jay)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP