alexametrics
Jumat, 16 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Pemprov Jatim Kebut Vaksinasi Guru Sambut Pembukaan Tahun Ajaran Baru

05 April 2021, 15: 41: 24 WIB | editor : Wijayanto

PERSIAPAN PTM: Sejumlah guru SMP saat menjalani vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Sawah Pulo, Surabaya.

PERSIAPAN PTM: Sejumlah guru SMP saat menjalani vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Sawah Pulo, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA–Pelaksanaan vaksinasi untuk kalangan guru dan tenaga kepedidikan terus digencarkan di Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, saat ini vaksinasi antikorona sudah mencapai 20 persen guru. Pemprov menargetkan, para tenaga pendidik dan tenaga penunjang kependidikan sudah divaksin dua kali sebelum pembukaan tahun ajaran baru.

“Vaksinasi terhadap guru maupun tenaga pendidik harus menyeluruh karena tingkat kerawanan penyebaran Covid-19 tinggi,” ujar Emil Elestianto Dardak.

Mantan bupati Trenggalek ini menambahkan, meskipun sudah divaksin bukan berarti risiko terpapar Covid-19 akan hilang. Namun, dengan vaksinasi bisa memitigasi kerentanan tersebut. “Nah, siswa yang di bawah 18 tahun memang tidak wajib vaksinasi,” katanya.

Baca juga: Tak Pilih Lawan di 8 Besar, Persebaya Fokus Lawan PSS Sleman

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur, Teguh Sumarno, mendukung upaya pemerintah melalui program vaksinasi masal. Ia mengimbau para guru agar tidak khawatir jika divaksin.

“Vaksinasi guru dan tenaga pendidik adalah langkah konkret pemerintah dalam menyiapkan pembelajaran tatap muka mendatang,” jelasnya.

Teguh menambahkan, vaksinasi terhadap guru merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19. Ia sangat setuju guru dan tenaga kependidikan menjadi salah satu sasaran yang diprioritaskan mendapat vaksin. 

“Kita harus punya ketahanan diri yang baik supaya tidak menularkan Covid-19 ke siswa,” tuturnya.

Lebih lanjut Teguh menambahkan, meski sudah divaksin, ia berharap agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Dengan adanya vaksinasi ini kami sangat senang, karena guru-guru merasa aman bekerja dan siswa merasa terlindungi,” ujarnya.

Terpisah, juru bicara Gugus Kuratif Satgas Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril Al Farabi mengatakan, cakupan vaksinasi untuk tenaga kesehatan di Jatim mencapai 232.419 orang. Kemudian pelayan publik mencapai 905.076 dan untuk lanjut usia (lansia) 196.114 orang.

“Vaksinasi guru selama ini sudah dimulai di kabupaten/kota masing-masing karena guru merupakan sasaran vaksinasi palayan publik,” terangnya.

Berdasarkan data dari Pemprov Jatim, jumlah pasien Covid-19 aktif di Jatim kini tinggal 1.953 atau 1,39 persen. Para pasien ada yang sedang dirawat di rumah sakit dan ada pula yang menjalani isolasi mandiri. 

Jumlah kasus Covid-19 di Jatim saat ini mencapai 140.331. Namun, sebanyak 128.386 atau 91,49 persen pasien telah dinyatakan sembuh. Sedangkan 9.992 atau 7,12 persen meninggal dunia.

Provinsi Jatim juga tidak ada wilayah dengan status zona merah atau yang memiliki risiko kenaikan kasus tinggi. Namun, tidak ada pula wilayah dengan zona hijau atau risiko kenaikan kasus yang terkontrol.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, vaksinasi bagi tenaga pendidik masih terus dilakukan. "Totalnya ada 25.442 guru di Kota Surabaya. Yang sudah tervaksin sebanyak 22.577 guru,” katanya. 

Menurut dia, vaksinasi masal itu untuk mendukung upaya Pemkot Surabaya dalam pembelajaran tatap muka. ”Semoga bisa rampung vaksinasi guru bulan April ini,” harapnya.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi mengusulkan agar Dispendik Surabaya melakukan simulasi PTM sembari mengawal dan mengevaluasi sekolah yang betul-betul siap tatap muka.

”Kalau Juli mulai pembelajaran tatap muka, ya harus simulasi dulu. Baru nanti tahun 2022 tahun ajaran baru dilakukan tatap muka,” katanya.

Yang harus dilakukan, menurut dia, memastikan semua sekolah sudah mendapat asesmen dari Satgas Covid-19. Kemudian dilakukan pembelajaran di ruang kelas secara terbatas.

”Masih ada waktu sekitar lima bulan untuk menyiapkan asesmen untuk pembelajaran tatap muka,” katanya.

Menurut pria yang juga dosen Unesa itu, saat ini 75 persen orang tua dan siswa berharap sekolah dilakukan tatap muka. Sebab, pembelajaran secara daring dinilai kurang efektif. (mus/rmt/rek)

(sb/mus/rmt/jay/JPR)

 TOP