alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Gelapkan Gula 260 Ton Senilai Rp2,6 Miliar, DIvonis 1,1 Tahun

03 April 2021, 21: 49: 55 WIB | editor : Wijayanto

AKAL BULUS: Terdakwa Camelia Sofyan diadili secara daring.

AKAL BULUS: Terdakwa Camelia Sofyan diadili secara daring. (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Camelia Sofyan divonis satu tahun, dua bulan penjara. Majelis hakim PN Surabaya menyatakan warga Kendangsari Blok P/11 itu melakukan penggelapan gula sebanyak 260 ton.

Terdakwa Camelia Sofyan melakukan penipuan menggunakan nama dan surat palsu untuk mengelabui Mulianti. Dia bekerja sama menjual gula dengan keuntungan menggiurkan. Selain itu, terdakwa juga mengaku punya perusahaan yang bekerja sama dengan PG Jatiroto di Lumajang dan PG Mrican di Kediri.

“Menyatakan terdakwa bersalah dan meyakinkan memakai nama palsu dan surat palsu untuk memperoleh keuntungan dari Mulianti. Divonis dengan hukuman satu tahun dua bulan,” kata Hakim Khusaini. 

Baca juga: Kinerja Berbasis ESG, BRI Raih Berbagai Penghargaan di Sepanjang 2020

Yang meringankan, menurut majelis hakim, terdakwa mengakui perbuatannya dan telah mengembalikan sebagian uang korban. Yang memberatkan, terdakwa merugikan korban hingga Rp 2,6 miliar. “Terdakwa menggunakan nama palsu dan tipu muslihat,” jelas Khusaini.

Merespons putusan tersebut, Camelia mengaku pikir-pikir. Dia berencana konsultasi dengan pengacaranya. “Pikir-pikir. Nanti saya koordinasikan dengan pengacara saya,” ucap Camelia.

Alkisah, Camelia bertemu dengan Mulianti menawarkan gula dari PG Jatiroto Lumajang dan PG Mrican Kediri dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Keuntungan yang dijanjikan Rp 100 hingga Rp 1.500. Mulianti percaya setelah terdakwa mengaku punya perusahaan dan bekerja sama dengan PG Jatiroto Lumajang dan PG Mrican Kediri. Setelah yakin, korban mentransfer sejumlah uang secara bertahap. 

Pada 7 Febuari 2020, korban mentrasfer uang Rp 2,73 miliar untuk membeli gula di PG Jatiroto sebanyak 260 ton. Kemudian 8 Februari mentransfer Rp 318 juta untuk membeli gula di PG Lada Kediri sebanyak 30 ton. Total Mulianti transfer uang Rp 3,048 miliar. 

Perjanjian jual beli pertama 260 ton, ternyata terdakwa mengirimkan gula kepada Mulianti hanya 25 ton. Pengiriman 25 ton gula yang dikirim tergugat pun ditolak Bulog karena sudah kuning. Selanjutnya, pada pembelian kedua 30 ton tidak pernah dikirim lagi oleh tergugat.

Nah, karena terdakwa tidak mampu menjual 260 ton gula PG Jatiroto Lumajang dan 30 ton gula PG Mrican Kediri dan terdakwa bukan pemenang lelang PG Jatiroto. “Terdakwa meyakinkan korban dengan cara membuat surat pernyataan yang seolah-olah mengembalikan uang korban. Namun, hingga kini uang Rp 2,6 miliar tersebut belum juga dikembalikan,” kata Hakim Khusaini. (gin/rek)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP