alexametrics
Jumat, 16 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Gresik
icon featured
Gresik

Sosial Media Dinilai Rentan Tercoreng Cyberbully, Ini Kata Ning Lia

28 Februari 2021, 10: 09: 14 WIB | editor : Wijayanto

Dr. Lia Istifhama

Dr. Lia Istifhama (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Digital Civility Index (DCI) dalam surveinya memaparkan tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya. Dalam survei ini, warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. 

Tokoh Muda Inspiratif Jatim Versi Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), Dr Lia Istifhama mengatakan survei ini sebenarnya telah diantisipasi oleh banyak pihak melalui kampanye lawan cyber crime dan cyber bully pada era digital.

Namun hal tersebut ternyata belum cukup efektif, hingga baru-baru ini Kominfo berencana membuat Komite Etika Berinternet. "Sudah saatnya menjadikan sosial media sebagai sarana saling support, bukan sebaliknya," ujarnya. 

Baca juga: Waspada Skimming, Ini Tips Aman Bertransaksi Perbankan Saat Pandemi

Wanita yang akrab disapa Ning Lia ini menambahkan banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan sebuah problem besar. Diantaranya adalah mendengar aspirasi banyak masyarakat, mengamati isu-isu terkini secara holistik, membuat sistem filterisasi dalam sosmed, dan menguatkan etika bijak bersosmed.

"Sebenarnya dalam akun-akun sosmed terdapat ruang laporan, dimana di dalamnya adalah pelaporan atas konten yang berindikasi pornografi, hate speech, kekerasan, dan sebagainya. Tapi ngaruh tidak yah? Karena saya dan kawan-kawan aktivis seringkali melaporkan hal tersebut, namun belum terlihat dampak dari pelaporan seperti itu," jelasnya. 

Lebih lanjut Ning Lia mengatakan harus ada filterisasi konten yang tidak sehat secara moral. Menurutnya ini seharusnya dapat dilakukan oleh sinergi banyak pihak. "Karena jika masyarakat saja yang rajin membuat laporan tapi kurang didukung pihak yang berwenang, apa bisa efektif?," tegasnya.

Aktivis yang sebelumnya meraih penghargaan sebagai Tokoh Peduli Covid 19 versi ARCI, juga menambahkan pentingnya penguatan etika bijak dalam bersosmed. Dalam hal ini, dalam sosmed diperlukan sinergi segitiga komunikasi.

"Pertama, saat kita menulis sebuah komentar ataupun postingan, kita pikir dulu, bagaimana dampak untuk diri kita sendiri. Manfaat atau tidak jika kita menulis ini dan itu. Kedua, kita melihat aspek orang lain. Semisal, jika kita menulis suatu hal, orang lain suka atau tidak. Adakah yang marah atau tersinggung, dan sebagainya. Yang ketiga, kita lihat dampak feedback antara kita dan orang lain. Yaitu, kita mengukur dan mengamati, respon orang lain seperti apa setelah kita komentar atau posting," paparnya. 

Ditanya terkait isu Nissa Sabyan yang masih sangat hangat saat ini dan dianggap telah menimbulkan sanksi sosial dengan viral bullying, Lia memberi jawaban cukup menarik. Menurutnya sanksi sosial sangat lumrah terjadi oleh siapapun, dimanapun, kapanpun, oleh sebab apapun.

"Karena itu dampak yang melekat dari bangunan hubungan sosial. Ada beberapa faktor yang menyebabkannya, bisa faktor positif bisa negatif. Positif adalah sebuah sanksi diberikan pada seseorang dengan tujuan dukungan moril kepada orang lain yang dianggap korban. Jadi ini pengejawantahan kepedulian. Nah, ini yang secara reflek, ternyata justu ditunggangi oleh faktor negatif," terangnya. 

Sedangkan faktor negatif adalah saat kejadian tersebut ditampung oleh pihak-pihak yang memang tidak suka dengan seorang figur. Sehingga menjadi momen yang tepat untuk membuat sebuah serangan, ujaran kebencian terus menerus yang bertujuan pelemahan karakter. "Singkatnya, ada provokator di antara isu yang viral," ujarnya.

Ning Lia menambahkan masyarakat sebagai penonton atas sebuah kejadian, tidak seharusnya bersikap seolah-olah kita terlibat dalam sebuah kejadian.

Menurutnya dalam konteks Islam, masyarakat muslim selalu diingatkan untuk mendekati manfaat dan jauhi mudlarat alias perbuatan yang sia-sia.

"Saya yakin, kaum perempuan adalah pemilik empati yang sangat besar, gak mentoloan (tidak tega) kalau ada orang dihina terus menerus. Jadi sebenarnya kaum perempuan-lah yang bisa menyelamatkan negri kita dari bahaya cyber bully," pungkas ibu dua anak ini. (mus)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP