alexametrics
Jumat, 05 Mar 2021
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Terdampak La Nina dan Hujan, Harga Cabai Rawit Tembus Rp 100 Ribu/Kg

23 Februari 2021, 13: 59: 08 WIB | editor : Wijayanto

KIAN PEDAS: Pedagang melayani pembeli cabai di Pasar Pabean, Surabaya. Dampak La Nina, harga cabai tembus angka Rp 100 ribu per kilogram.

KIAN PEDAS: Pedagang melayani pembeli cabai di Pasar Pabean, Surabaya. Dampak La Nina, harga cabai tembus angka Rp 100 ribu per kilogram. (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Harga cabai rawit di Jawa Timur saat ini mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Lonjakan harga cabai terjadi sejak awal tahun yang mencapai Rp 70 ribu.

Data di Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) menyebutkan, harga tertinggi cabai rawit, Senin (22/2), di Surabaya adalah Pasar Genteng Rp 100 ribu per kg, Pasar Wonokromo Rp 96 ribu, Pasar Keputran Rp 90 ribu, Pasar Tambahrejo Rp 85 ribu, dan Pasar Pucang Anom Rp 80 ribu.

Sedangkan harga tertinggi cabai rawit di Jatim adalah Pasar Sidomoro Gresik dan Pasar Sidoharjo Lamongan yang mencapai Rp 110 ribu. Harga terendah di Pasar Sukodono Lumajang Rp 65 ribu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan, panen cabai rawit cukup banyak di Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

 Luas areal panen tanaman cabai pada bulan Januari memang relatif rendah dan akan mengalami puncak panen di bulan April hingga Mei. Selain itu, ada kecenderungan pada musim tanam masa periode 2020/2021 mengalami mundur tanam.  “Ini karena musim tanam pada musim penghujan saat ini berada pada kondisi La Nina. Jadi, curah hujan cukup tinggi,” ungkapnya.

Menurut dia, ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam budidaya cabai pada musim tanam tahun 2020/2021. Di antaranya, dampak La Nina berupa bencana banjir yang berpotensi mengancam sektor pertanian serta hama dan penyakit.

Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur Nanang Triatmoko mengungkapkan, faktor penyebab mahalnya harga cabai rawit di pasaran saat ini  adalah rendahnya pasokan dari petani saat permintaan sedang tinggi.

Pasokan cabai rawit pada Desember lalu sangat sedikit karena 30 persen dari total petani cabai tidak mau menanam. “Karena mereka rugi dan kehabisan modal akibat produksinya tidak terserap pasar dan harganya jauh di bawah BEP saat itu,” ungkapnya.

Faktor kedua, menurut dia, dipengaruhi oleh curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi cabai rawit seperti Banyuwangi, Blitar, Kediri, Lamongan, Gresik, dan Tuban. “Sehingga banyak cabai yang mati karena penyakit layu. Produksi pun berkurang 30 persen," katanya.

Sebagai contoh, di Banyuwangi biasanya cabai yang keluar untuk kirim 100 ton/hari, saat ini hanya 70 ton. Namun, harga cabai rawit ini diperkirakan akan turun secara bertahap sejalan dengan masuknya panen raya dan harga akan kembali normal pada bulan Maret. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP