alexametrics
Jumat, 05 Mar 2021
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Fashion Busana Wedding yang Terinspirasi Cerita Rakyat

15 Februari 2021, 08: 54: 28 WIB | editor : Wijayanto

MENAWAN: Koleksi busana pernikahan karya mahasiswa D3 Tata Busana Unesa dipamerkan secara virtual.

MENAWAN: Koleksi busana pernikahan karya mahasiswa D3 Tata Busana Unesa dipamerkan secara virtual. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA–Mahasiswa D3 Tata Busana, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyuguhkan busana wedding dengan konsep modest fashion yang idenya berasal dari cerita rakyat.

Keberagaman suku, agama, ras dan adat istiadat menginpirasi para desainer D3 Tata Busana Unesa. Karya mereka ini dipamerkan dalam Grandshow yang digelar secara virtual.

Ketua pelaksana Grandshow virtual Oktafinna mengatakan, kebanyakan cerita rakyat yang diangkat berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Dengan total 33 pasang busana karya mahasiswa.

“Tema besarnya kali ini adalah Alcarita, yakni penggabungan dari kata ’al’ dan ’carita’. Al berasal dari bahasa Arab, biasanya digunakan secara awalan. Sementara carita dalam bahasa Sansekerta berarti cerita atau kisah,” ujar Oktafinna.

Para desainer yang hadir dibagi menjadi lima kelompok, di antaranya Alcarita of Swarnadwipa, Alcarita of Borneo, Alcarita of Celebes, Alcarita of Flobawara dan Alcarita of Pamalu. “Masing-masing kelompok membawa nuansa warna sendiri, ada gold, putih, biru, quetzal green, dan coklat,” katanya.

Mereka menerjemahkan cerita rakyat ke dalam siluet busana, stilasi ragam hias, dan manipulating fabric yang memberi kesan anggun dan modern. Selain itu, para desainer menghadirkan lokalitas dan cerita rakyat dalam sebuah rancangan busana. Ternyata hal ini membuat para desainer tertantang.

Salah satunya yaitu Umy Hanik, perancang busana dengan model ball gown ini terinspirasi dari cerita rakyat Tampe Ruma Sani. Nama itu diambil dari nama seorang putri kerajaan di Nusa Tenggara Barat (NTB). “Untuk warna yang saya gunakan yaitu warna quetzal green dan dipadukan dengan warna nude,” ungkap Ruma.

Ia sendiri mengambil ragam hias rebung atau kakando yang memiliki makna kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan. “Kali ini, saya menerapkan manipulating fabric tucking, tasse, dan sedikit tambahan payet. Keunikannya terletak pada bagian rok, biasa disebut rok belimbing atau paneled circle skirt,” katanya.

Untuk membuat bagian ini pun terbilang paling menantang. Gaunnya mempunyai delapan pias yang diberi lapisan agar terlihat tegak. Melalui gelaran ini, ia berharap dapat menginpirasi masyarakat untuk tetap berkarya.

“Kreativitas tidak pernah dibatasi oleh fasilitas. Harapan saya dengan adanya virtual fashion show ini semoga menginspirasi banyak orang untuk tetap berkreasi dan berinovasi di tengah pandemi,” pungkasnya. (gin/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP